Kota Batu, Bhirawa – Konsep Batu Agrocreative diusung Pemerintah Kota (Pemkot) Batu dalam UNESCO Creative Cities Network (UCCN) bidang Gastronomy tahun 2027. Saat ini konsep ini masuk dalam Seleksi Nasional Tahap II Pengusulan Nominasi UCCN tahun depan. Untuk itu Wali Kota Nurochman telah mempresentasikan potensi gastronomi Kota Batu di Kementerian Ekonomi Kreatif RI.
Dengan mengusung konsep “From Mountain Agriculture to Global Gastronomy”, Kota Batu menawarkan ekosistem gastronomi yang bertumpu pada pertanian dataran tinggi. Konsep gastronomi ini ditunjang dengab warisan budaya pangan, kreativitas masyarakat, dan pariwisata.
“Bagi Batu, gastronomi bukan hanya tentang apa yang kita makan, tetapi juga siklus kehidupan, sumber penghidupan, serta tradisi yang tumbuh dari tanah hingga diwariskan antargenerasi,” ujar Nurochman saat dikonfirmasi, Kamis (3/9/2026).
Ia menjelaskan ada lima kekuatan yang menjadi pembeda yakni, mountain agriculture, living food heritage, community-based food system, tourism as a market, dan farm-to-experience. Potensi tersebut tercermin dari komoditas apel, jeruk, stroberi, sayuran, kopi, dan susu yang terhubung dengan petani, UMKM, hotel, restoran, hingga desa wisata.
Catatan pada tahun 2025 dengan 24 desa wisata yang ada Kota Batu telah dikunjungi sekitar 9,7 juta wisatawan. Dengan data ini membuat Kota Batu memiliki peluang besar dalam mengembangkan pengalaman gastronomi berbasis pertanian dan budaya.
Selain itu juga ada rekam jejak kerja sama internasional dengan JICA, Kota Fukushima, Shimonoseki City University, dan Westland Belanda yang turut memperkuat langkah Kota Batu menuju jejaring kota kreatif dunia.
Berkaitan dengan upaya memperkuat Batu Kota Gastronomi, Pemkot juga meminta arahan terkait Ekosistem Ekraf dan Gastronomi ke Menekraf RI. Hal ini dilakukan Wali Kota Nurochman bersama romobongan dengan melakukan audiensi dengan Menteri Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya, di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Rabu (2/9/2026).
Pertemuan tersebut menjadi upaya Pemerintah Kota Batu memperkuat dukungan pemerintah pusat dalam pengembangan ekosistem ekonomi kreatif dan gastronomi melalui konsep Batu Agrocreative.
Sebagai Kota Wisata, pada 2025 Kota Batu mampu menarik sekitar 9,7 juta wisatawan meskipun sempat mengalami penurunan akibat dampak efisiensi. Namun pada tahun 2026 sektor pariwisata mulai kembali meningkat.
“Kami tidak hanya ingin menonjolkan wisata buatan, tetapi juga terus mendorong perkembangan green tourism. Terkait gastronomi, yang kami kedepankan adalah penguatan ekosistemnya,” tegas Cak Nur, panggilan akrab Nurochman.
Dalam kesempatan tersebut, Menekraf Teuku Riefky Harsya mendorong penguatan desa kreatif dan aktivasi creative hub. Dukungan pendanaan serta penguatan kelembagaan akan terus diupayakan dengan fokus pada desa dan ruang kreatif yang menjadi prioritas. [nas.kt]

