27.2 C
Sidoarjo
Monday, July 27, 2026
spot_img

Acara di Jama’ah Nahdlatul Ulama Harus Menampilkan Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an

Suasana di panggung utama Turba PCNU Kota Surabaya ke MWC NU Kecamatan Benowo.

Turba PCNU Kota Surabaya ke MWCNU Kecamatan Benowo

Kota Surabaya, Bhirawa. – Ada yang perlu diperhatikan bagi Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Pada acara Turba (Turun Bawah) oleh pengurus PCNU Kota Surabaya ke MWCNU Kecamatan Benowoyang diselenggarakan pada Ahad malam, (26/7/26), ada dialog yang cukup menyentuh. Salah seorang pengurus Jam’iyatul Qurra wal Huffaz (JQH) Kecamatan Benowo menyampaikan keprihatinannya dengan nada tinggi.

Ia melihat ada fenoma baru di kalangan NU yang harus diperhatikan. Sering pada acara-acara di NU tidak ditampilkan pembacaan ayat-ayat Suci Al-Qur’an, baik acara Lailatul Ijtimak, atau acara-acara lain. Kalau biasanya, acara-acara Islam susunan acaranya adalah, acara pertama pembukaan dengan bacaan Surat Al-Fatihah, acara kedua pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dan seterusnya.

Akan tetapi akhir-akhir ini susunan acara itu berubah. Acara pertama pembukaan, kemudian acara kedua menyanyikan lagu Indonesia Raya. “Saya bukan anti lagu Indonesia Raya, tapi saya minta agar pembacaan Ayat-ayat Suci Al-Qur’an tetap dilaksanakan,” kata pengurus tersebut dengan nada tinggi.

Ia mencontohkan, acara semacam ini yang tidak menampilkan Tilawah Al-Qur’an, juga terjadi di kantor PCNU Surabaya. Katanya, saat ia menemui ketua Tanfid, jug ada acara IPNU-IPPNU tingkat Surabaya. “Sama seperti ini, Acaranya pembukaan, kemudian dilanjutkan acara yang kedua adalah menyanyikan Lagu Indonesia Raya,” ujar dia.

Berita Terkait :  PT Petrokimia Gresik Dorong Pemberdayaan UMKM Lokal Lewat Petronite Fest

Lebih lanjut ia menceritakan bagaimana situasi pada awal-awal berdirinya JQH. “Jangankan acara sebesar ini, acara makan-makan yang terdiri dari dua atau tiga orang saja, diawali dengan pembacaan ayat Suci Al-Qur’an. Oleh karena itu, saya mohon agar fenomena yang tidak benar ini, segera diubah,” lanjut dia tetap dengan nada tinggi.

Terhadap aspirasi yang disampaikan oleh pengurus JQH Benowo tersebut, mendapat respons langsung oleh Rais Syuriyah PCNU Surabaya, KH Ahmad Dzul Hilmy Ghozali. Diakui bahwa hal itumasukan yang sangat berharga. Beliau menanggapi aspirasi tersebut secara positif. Beliau juga mengakui bahwa tilawah Al-Qur’an adalah bagian penting dari tradisi dan adab di lingkungan Nahdlatul Ulama yang membawa keberkahan.

” Lebih lanjut, Yai Dzul Hilmy mengingatkan bahwa para muasis (pendiri) NU, seperti Kiai Wahab Chasbullah, telah memberikan contoh bahwa forum-forum penting, bahkan di tingkat internasional seperti Konferensi Asia-Afrika, selalu diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an.

” Lebih lanjut, Yai Dzul Hilmy menegaskan, meskipun saat ini banyak acara cenderung langsung beralih ke lagu kebangsaan setelah pembukaan, pihaknya menilai masukan dari pengurus JQH Kecamatan Benowo tersebut sebagai pengingat yang baik. Ada kesepakatan bahwa syiar Islam melalui tilawah ini perlu dijaga dan dihidupkan kembali dalam agenda-agenda organisasi ke depannya.

Samakan Visi
Kegiatan Turbaini merupakan bagian dari agenda silaturahmi organisasi untuk menyamakan visi dan memperkuat konsolidasi antar tingkatan kepengurusan. Selain Rais Syuriyah, acara ini juga dihadiri Ketua Tanfidziyah PCNU Surabaya, KH Masduqi Thoha, Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Benowo, KH Hery Siswanto, LC, MHI, Ketua Tanfidziyah MWC NU Benowo, Ahmad Fauzi, M.Pd.I, ketua Banom, Ketua Ranting dan Anak Ranting se Kecamatan Benowo.

Berita Terkait :  Wakil Ketua MPR Sebut Inovasi PLTSa Benowo Layak Diadopsi Daerah Lain

KH Masduki Thoha dalam arahannya antara lain menekankan mengenai perlunya pembentukan Banom (Badan Otonom) seperti IPNU dan IPPNU di tingkat ranting untuk kaderisasi.Ia menekankan pentingnya komunikasi aktif antara pengurus NU dengan tokoh pemerintah setempat seperti Camat dan Lurah untuk mendukung program kesejahteraan umat, terutama di bidang pendidikan dan kesehatan.

Lebih lanjut dijelaskan, kegiatan Turba atau silaturahmi yang dilakukan oleh PCNU Kota Surabaya ke tingkat MWC dan ranting memiliki beberapa fungsi utama, seperti menyamakan Visi dan Frekuensi. “Turba bertujuan untuk menyamakan pola pikir dan frekuensi antara pengurus cabang (PC), majelis wakil cabang (MWC), hingga pengurus ranting agar organisasi bergerak seirama,” kata dia.

” Turba juga berfungsi sebagai konsolidasi organisasi. “Sebagai sarana untuk memastikan roda organisasi berjalan dengan baik dan memperkuat hubungan antara tingkatan kepengurusan. Selain itu, juga menyapa dan menyerap aspirasi umat. Turba adalah kewajiban pengurus cabang untuk turun ke bawah, menyapa umat, serta memahami kebutuhan dan hambatan yang dihadapi oleh pengurus di tingkat MWC maupun ranting.

” Selain itu, Turba juga berfungsi sebagai Evaluasi Program: Memberikan arahan dan mencari solusi atas kendala teknis yang dihadapi di lapangan, seperti pembentukan Badan Otonom (Banom) seperti IPNU/IPPNU, pengelolaan keuangan yang transparan, serta pengadaan kantor organisasi,” papar dia.[ca.hel]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!