30.1 C
Sidoarjo
Sunday, July 26, 2026
spot_img

Bupati Minta Pengurus PWI Kabupaten Situbondo Konsisten Pertahankan Kode Etika Jurnalisme

Situbondo, Bhirawa – Kepengurusan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Situbondo masa bakti 2026–2029 resmi dilantik oleh H. Lutfil Hakim, Ketua PWI Jawa Timur di Pendopo Rakyat Kabupaten Situbondo, Jumat malam (24/7).

Prosesi pelantikan dihadiri oleh Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), insan pers, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengajak PWI untuk terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Situbondo melalui karya jurnalistik yang profesional, independen, dan berlandaskan fakta.

“Media sebagai pilar ke-4 dari bangsa ini, memiliki peran strategis sebagai mitra pembangunan daerah. Karena itu, pemerintah berharap insan pers mampu menghadirkan informasi yang akurat, berimbang, dan memberikan edukasi kepada masyarakat. Kami membutuhkan kolaborasi seluruh elemen, termasuk PWI dan insan pers, untuk bersama-sama membangun Situbondo melalui pemberitaan yang akurat, objektif, dan bertanggung jawab,” ujar Mas Rio, panggilan akrab Bupati Situbondo.

Mas Rio kembali menegaskan bahwa kritik yang diimbangi dengan data, cek and ricek dan konfirmasi disampaikan media, karena media merupakan bagian dari kontrol sosial yang diperlukan.

“Selama disampaikan secara profesional dan berdasarkan data yang benar. Maka, pemberitaan tersebut menjadi pemberitaan yang akurat. Selain itu, produk pemberitaan tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga mampu mendorong terciptanya tata kelola pemerintahan yang semakin baik,” katanya.

Berita Terkait :  BI Perwakilan Malang Catat Optimisme Konsumen Melambung di Akhir Tahun

Menyambung seperti yang disampaikan Ketua PWI Jatim, H. Lutfil Hakim, lanjut Bupati Situbondo, bahwa dunia jurnalistik kini sudah terbelah. Dunia terbelah dalam perspektif yang kontemporer. “Data menunjukkan bahwa selain media koran, TV, Online, new media podcast dan lain-lainnya,” ujarnya.

Masih kata Mas Rio, apa yang disampaikan Ketua PWI, pembelahan itu sudah mengarah kepada individualisme di dalam dunia jurnalistik sangat benar. “Yang dikhawatirkan ketika individu-individu itu memproduksi berita-berita tanpa ada saringan jurnalistik sama sekali, maka sebenar apa pun seorang politisi, pemimpin politik atau politisi dan lainnya, selalu di cap atau celah yang bisa disasar oleh para individu-individu di dalam media itu,” jelasnya.

Bahkan, lanjut Mas Rio, melihat Pers yang tak terdaftar ke Dewan Pers dan banyak orang-orang yang tidak punya sertifikasi jurnalistik atau uji kompetisi wartawan itu bisa memproduksi berita seenaknya sendiri.

“Tanpa ada verifikasi dewan pers maupun apa UKW dan tanpa punya bekal latihan jurnalistik dasar mereka sudah bisa membuat berita seenaknya,” tuturnya.

Apalagi kalau bicara tentang deindividualisasi, kata Mas Rio, proses individualisasi itu sudah merubah dirinya menjadi deindividualisasi. Yakni lahirnya akun-akun bodong, akun-akun yang tidak pernah tahu keberadaannya dan website berita yang tak tercantum alamatnya.

“Mereka selalu memproduksi berita-berita, bahkan bisa mengalahkan media mainstream nasional dan lokal. Bayangkan! Betapa kuatnya kondisi tersebut di lapangan. Ini persoalan yang harus dihadapi media mainstream. Saya, kasih contoh produksi-produksi buzzer di Jakarta sudah kayak perusahaan-perusahaan itu. Dan itu tentu akan memperkeruh suasana di mana media mainstream terus mempertanggungjawabkan akar jurnalistiknya. Sementara, media lain yang bukan produk jurnalistik menayangkan tulisan tanpa mengindahkan kode etik jurnalistik,” beber Mas Rio.

Berita Terkait :  Hari Bhayangkara ke 78, Polresta Probolinggo Dukung Transformasi Presisi

Oleh karena itu, Mas Rio meminta kepada rekan-rekan PWI dan wartawan lainnya yang memiliki badan hukum media dan mematuhi aturan dewan pers tetap mempertahankan etika jurnalisme. Sementara di belahan lainnya yang jauh lebih besar jumlahnya dan tidak ada filter jurnalistik serta screening dalam memproduksi tulisannya secara serampangan itu merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh rekan-rekan wartawan yang menjunjung tinggi atau patuh dengan kode etik jurnalistik.

“Maksud saya adalah teman-teman media yang menjunjung tinggi atau patuh dengan kode etik jurnalistik itu harus mulai berpikir bagaimana tadi yang disampaikan oleh Ketua PWI Jatim Cak Item, bagaimana menandingi mereka agar produk jurnalistiknya itu semakin digemari oleh masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut, Mas Rio mengatakan, orang dulu membaca koran, tapi koran kemudian sudah dikalahkan oleh media online. Online dikalahkan oleh AI dan media-media sosial lainnya. Makanya teman-teman media yang menjunjung tinggi atau patuh dengan kode etik jurnalistik harus bisa menandingi media di sebelah agar kode etik jurnalistik tidak porak poranda.

“Saya berharap PWI Situbondo memperhatikan apa yang teklah disampaikan Ketua PWI Jatim Cak Item. Wartawan agar fokus menulis pemberitaan secara profesional untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pada sektor perikanan, pertanian, peternakan, dan pariwisata agar investasi terus berkembang di Kabupaten Situbondo tercinta ini,” pungkas Mas Rio. [awi.kt]

Berita Terkait :  Dukung Program Swasembada Nasional, Perum Bulog Kanca Bondowoso Siap Menyerap Gabah Kering Panen Rp 6.500/kg

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!