29.4 C
Sidoarjo
Tuesday, May 12, 2026
spot_img

Pendidikan Pintar, Tapi Nurani Memudar

Oleh:
Fathma Anggraita
New civitas PGSD-2026 FIP Universitas Negeri Padang (UNP)

Pendidikan kita hari ini semakin akrab dengan angka. Ranking sekolah, rerata nilai, tingkat kelulusan, hingga persentase siswa diterima di perguruan tinggi negeri kerap dijadikan ukuran utama keberhasilan. Dalam batas tertentu, ukuran kuantitatif memang diperlukan untuk evaluasi. Namun ketika angka berubah menjadi tujuan utama, pendidikan perlahan kehilangan substansi dasarnya: membentuk manusia yang berintegritas.

Paulo Freire (1970) pernah mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh hanya menjadi proses ‘penyetoran pengetahuan’ demi memenuhi standar administratif. Pendidikan harus membangun kesadaran kritis dan kemanusiaan. Ketika sekolah terlalu menekankan capaian angka, peserta didik berisiko diperlakukan sekadar sebagai objek statistik, bukan manusia yang sedang bertumbuh.

Di tengah kompetisi pendidikan yang makin ketat, kejujuran sering kali justru berada di posisi paling rentan untuk dikorbankan. Tekanan terhadap capaian akademik membuat proses belajar tidak lagi sepenuhnya diarahkan pada penguatan pengetahuan, melainkan pada bagaimana memperoleh hasil setinggi mungkin, apa pun caranya.

Fenomena itu tampak nyata dalam pelaksanaan UTBK SNBT 2026. Panitia menemukan ribuan peserta terindikasi melakukan kecurangan dengan berbagai modus, mulai dari penggunaan joki hingga manipulasi perangkat komunikasi digital. Peristiwa semacam ini tidak dapat semata dibaca sebagai pelanggaran teknis ujian. Ia mencerminkan kecemasan yang lebih mendasar dalam ekosistem pendidikan kita: dorongan untuk menang yang kadang lebih besar daripada komitmen menjaga integritas.

Berita Terkait :  Pengamanan Hiburan Musik Dalam Hotel Harus Diperketat

Sosiolog Robert K. Merton (1938) melalui teori strain menjelaskan bahwa penyimpangan sering muncul ketika masyarakat terlalu menekankan tujuan keberhasilan, tetapi mengabaikan cara-cara yang sah untuk mencapainya. Dalam konteks pendidikan, obsesi terhadap prestasi dapat mendorong individu mencari jalan pintas ketika tekanan sosial terasa terlalu besar.

Masalahnya, praktik semacam itu tidak berhenti pada level individu peserta didik. Survei Penilaian Integritas Pendidikan KPK menunjukkan masih adanya indikasi kecurangan dalam proses akreditasi satuan pendidikan. Fakta ini memperlihatkan bahwa orientasi pencitraan dan capaian administratif kadang lebih dominan dibandingkan keberanian menjaga mutu secara jujur. Dalam situasi demikian, sekolah berisiko bergeser dari ruang pembentukan karakter menjadi arena kompetisi reputasi.

Ki Hadjar Dewantara (1936) sejak awal menegaskan bahwa tujuan pendidikan bukan hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga menumbuhkan budi pekerti. Pendidikan, dalam pandangannya, harus memerdekakan manusia lahir dan batin. Karena itu, ketika kejujuran mulai dikorbankan demi prestasi simbolik, pendidikan sejatinya sedang menjauh dari ruh dasarnya sendiri.

Kita memang hidup dalam budaya yang sangat menekankan prestasi akademik. Anak-anak sejak dini dibiasakan memahami bahwa nilai tinggi identik dengan keberhasilan. Sebaliknya, kegagalan akademik sering dianggap sebagai kekurangan yang harus disembunyikan. Akibatnya, banyak peserta didik tumbuh dengan ketakutan terhadap kegagalan, bukan keberanian menghadapi proses belajar.

Padahal pendidikan tidak pernah hanya berbicara tentang hasil akhir. John Dewey (1916) menyatakan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses pengalaman hidup, bukan semata persiapan menuju hasil tertentu. Ketika seluruh energi diarahkan hanya untuk mengejar ranking, maka proses pembentukan karakter mudah terabaikan.

Berita Terkait :  Dicalonkan Partai Lain di Pilkada, Ketua DPC PDIP Tulungagung Mengundurkan Diri

Ironinya, di tengah tingginya obsesi terhadap nilai, kemampuan dasar peserta didik justru belum sepenuhnya menggembirakan. Sejumlah hasil asesmen nasional dalam beberapa tahun terakhir masih menunjukkan lemahnya kemampuan literasi dan numerasi sebagian siswa. Kondisi ini memperlihatkan adanya jarak antara capaian administratif dengan kualitas pembelajaran yang sesungguhnya.

Fenomena ‘katrol nilai’ yang kerap menjadi pembicaraan di lingkungan pendidikan sebenarnya lahir dari tekanan sistemik. Sekolah ingin menjaga citra. Guru dibebani target kelulusan. Orang tua berharap anak selalu unggul. Pada akhirnya, angka sering dipoles agar terlihat memenuhi ekspektasi.

Pierre Bourdieu (1986) menjelaskan bahwa institusi pendidikan sering kali tidak netral dari tekanan sosial dan simbolik. Sekolah dapat terdorong mempertahankan legitimasi dan gengsi sosial melalui capaian formal yang tampak di permukaan. Dalam situasi seperti itu, angka mudah berubah menjadi simbol prestise ketimbang alat evaluasi yang jujur.

Dalam jangka pendek, praktik semacam itu mungkin menghadirkan rasa aman. Namun dalam jangka panjang, ia justru membangun kebiasaan yang berbahaya: menganggap manipulasi sebagai sesuatu yang wajar selama tujuan tercapai.

Di sinilah persoalan pendidikan kita sesungguhnya menjadi lebih serius daripada sekadar rendahnya mutu akademik. Yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas pengetahuan, melainkan juga fondasi moral generasi muda.

Lawrence Kohlberg (1981) menekankan bahwa pendidikan moral harus membangun kemampuan individu mengambil keputusan etis berdasarkan kesadaran, bukan semata tekanan aturan. Jika peserta didik terbiasa melihat manipulasi sebagai praktik lumrah, maka sensitivitas moral perlahan dapat melemah.

Berita Terkait :  Aliansi BEM Sumenep Tolak Wacana Pemilukada Tak Langsung

Bangsa tidak hanya membutuhkan manusia cerdas, tetapi juga manusia yang dapat dipercaya. Kecerdasan tanpa integritas justru berpotensi melahirkan berbagai bentuk penyimpangan di ruang publik. Karena itu, kejujuran seharusnya ditempatkan sebagai inti pendidikan, bukan sekadar pelengkap dalam slogan institusi.

Pendidikan yang sehat tidak dibangun di atas ketakutan terhadap angka rendah. Ia dibangun melalui keberanian menghadapi kenyataan secara jujur, termasuk mengakui kelemahan dan memperbaikinya bersama-sama. Sekolah tidak semestinya hanya menjadi tempat memproduksi statistik keberhasilan, melainkan ruang yang memungkinkan peserta didik belajar menghargai proses.

Tentu tidak mudah mengubah budaya yang telah lama terlanjur menjadikan ranking sebagai simbol kehormatan sosial. Namun perubahan harus dimulai dari cara kita memaknai keberhasilan. Nilai akademik penting, tetapi ia bukan satu-satunya ukuran kualitas manusia.

Guru perlu diberi ruang mendidik tanpa tekanan pencitraan berlebihan. Orang tua perlu mengurangi kebiasaan membandingkan anak berdasarkan angka. Sekolah pun harus lebih berani menempatkan integritas sebagai kebanggaan utama lembaga pendidikan.

Sebab pada akhirnya, tantangan terbesar pendidikan bukan sekadar melahirkan siswa yang mampu menjawab soal ujian, melainkan membentuk manusia yang tetap memilih jujur ketika memiliki kesempatan untuk berbuat sebaliknya.

————- *** —————

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!