29.4 C
Sidoarjo
Tuesday, May 12, 2026
spot_img

Dosen FKK ITS Ajak Masyarakat Kenali Ancaman dan Gejala Hantavirus


Surabaya, Bhirawa
Munculnya kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat dunia. Sejumlah penumpang kapal pesiar yang berlayar dari Argentina tersebut dikabarkan mengalami gangguan pernapasan akut. Sampai dengan 4 Mei 2026 waktu setempat, telah teridentifikasi tujuh penumpang dengan gejala ringan, kritis, hingga meninggal dunia diakibatkan virus tersebut.

Di Indonesia sendiri telah teridentifikasi sebanyak 23 kasus hantavirus pada manusia sejak tahun 2024 lalu. Hal itu bukan menjadi hal baru dan harus menjadi perhatian kembali terkait risiko penyakit zoonosis yang meningkat di tengah padatnya pemukiman di beberapa wilayah di Indonesia. Sebab, karakteristik penularan dan tingkat fatalitasnya tak bisa dipandang rendah.

Menurut dokter Spesialis Penyakit Dalam dan dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Zulistian Nurul Hidayati dr SpPD, hantavirus memiliki karakteristik penularan yang unik namun berisiko.

“Manusia dapat terinfeksi melalui udara dengan terhirupnya partikel pada kotoran tikus dan juga kontak langsung dengan hewan pengerat,” ungkapnya, Selasa (12/5).

Dokter Spesialis Penyakit Dalam tersebut mengungkapkan bahwa sulit mengidentifikasi gejala awal saat terjangkit virus ini. Sebab, indikasi awal jika terpapar virus ini cukup umum seperti pada flu.

“Oleh karena itu, tidak bisa hanya diagnosis dari gejala klinis, perlu adanya pemeriksaan diagnostik penunjang dengan pemeriksaan di lab,” terang Zulistian.

Meski gejala awalnya cenderung general, seperti batuk, flu, demam, dan nyeri otot. Namun perlu menjadi perhatian jika terjadi penurunan kondisi mendadak dan terjadinya kegagalan respirasi atau kegagalan pernapasan.

Berita Terkait :  Magang di KAI Daop 8 Surabaya, Velicia Belajar dan Praktikkan Peran Humas

Lebih lanjut, terdapat dua dampak serius akibat paparan hantavirus, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyebabkan gangguan pernapasan akut. Kemudian Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang masuk pada kategori demam berdarah yang disertai dengan gangguan ginjal akut.

Hingga kini diketahui bahwa hantavirus memiliki lebih dari 40 varian virus dan 20 diantaranya bersifat patogenik yang memungkinkan terjadi penularan pada manusia. Pertumbuhan virus sangat berisiko terjadi di wilayah pemukiman padat penduduk dengan sanitasi yang rendah.

Zulistian juga menyampaikan bahwa jenis virus ini berbeda dengan COVID 19 yang persebarannya cenderung masif. Sehingga, masyarakat hanya perlu lakukan langkah preventif berupa sterilisasi dan peningkatan sanitasi di lingkungan rumah.

“Beberapa langkah perlindungan dapat dengan menggunakan masker dan sarung tangan agar terhindar dari kontak langsung dengan kotoran tikus,” ungkapnya. [ina.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!