29.6 C
Sidoarjo
Monday, May 11, 2026
spot_img

Gengsi dan Esensi Memilih Sekolah

Oleh :
Nuruddin Musyafa’
Guru SMP Muhammadiyah 02 Malang

Dalam berita media cetak beberap hari lalu, Pada tahun 2026, sekolah Tingkat SMP di Jawa Timur akan meluluskan sekitar 618.479 siswa. 244.621 akan tertampung di SMA/SMK negeri, dan sisanya harus memilih sekolah lain. Hal ini menjadi peluang bagi sekolah swasta untuk merayu dan tebar pesona kepada calon pendaftar.

Sekolah negeri masih menjadi primadona sebagai tempat belajar bagi anaksesuai ekspektasi orang tua. Banyak di antara mereka dengan segala upaya berusaha agar keterima masuk ke dalamnya.

Wawasan di masyarakat bahwa sekolah swasta berada di kasta kedua setelah sekolah negeri. Mereka akan mulai melirik sekolah swasta jika sudah tidak ada harapan dari berbagai jalur masuk di sekolah negeri.

Anggapan masyarakat ini sah-sah saja, adakalanya benar di satu sisi, dan kurang tepat di sisi lain. Kadangkala ketidakcakapan satu oknum tertentu dalam pengelolaan sekolah swasta, menjadikan stereotipe untuk seluruhnya. Padahal banyak pula sekolah swasta dalam kategori baik dari segi kualitas dan kuantitas.

Hakikat belajar di sekolah adalah menggali wawasan, memperdalam pengetahuan, mengembangkan teknologi serta merawat etika. Hal tersebut dapat diperoleh baik pada status negeri maupun swasta. Tiada hina bila seseorang meraihnya di swasta, serta jangan sampai jumawa yang dapat menikmatinya di negeri.

Tertolak menjadi siswa di sekolah negeri/favorit bukan akhir dari segalanya. Bahkan pada titik terendah, merasa hina karena khawatir masa depan suram. Peran orang tua menggali berbagai informasi terkait kondisi sekolah era modern perlu dilakukan secara intensif, serta kerjasama para pegiat pendidikan untuk mengkampanyekan kesetaraan sekolah perlu secara masif dilakukan.

Berita Terkait :  ITS Kukuhkan Lima Profesor, Perkuat Penelitian Lintas Disiplin

Mengenali Model Sekolah
Jangan merasa di kasta terendah saat mendaftar di sekolah swasta. Pada kenyataannya, saat ini terdapat publik figur yang terbilang sukses dari aspek kehidupan material, merupakan lulusan “kejar paket” / home schooling.

Dari sini dapat disimpulkan, bahwa jangan tergesa-gesa menentukan takdir masa depan yang belum terjadi, belajar di sekolah negeri maupun swasta memiliki kesamaan derajat dan peluang yang sama menghadapi tantangan global.

Ibarat pepatah, tak kenal maka tak sayang. Galilah informasi dari berbagai sumber, baik dari media sosial, tetangga, teman atau keluarga, terkait sekolah yang akan dibidik. Masing-masing tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan. Sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Sekolah swasta memang diberikan kebebasan dalam melakukan inovasi penyesuaian kurikulum. Mereka akan mendesain pembelajaran berdasarkan ciri khas dan program yang diunggulkan.

Dari segi program, banyak sekolah swasta yang menawarkan program unggulan seperti tahfidz, international class, techno class, inclusive class, dan lain-lain. Dari segi biaya, ada yang memasang biaya mahal karena memiliki program khusus, dan ada pula sekolah yang menawarkan berbagai beasiswa bahkan gratis tanpa dipungut biaya apapun.

Berdasarkan hal tersebut, tentu calon siswa dan orang tua jangan salah pilih dalam pendaftaran. Bila yang dilihat dari aspek biaya murah, maka jangan sampai mencoba mendaftar pada international class yang cenderung biaya mahal. Pilihan yang tepat tentunya dengan memilih sekolah gratis meskipun di sekolah swasta.

Berita Terkait :  Efisiensi Anggaran, 232 Mobil Dinas KPU Seluruh Jatim Ditarik

Refleksi dalam Memilih Sekolah
Orang tua maupun calon siswa Ketika ingin mendaftar ke sekolah pilihan, maka perlu merenungkan beberapa hal berikut :Pertama,merubah mindset. Negeri dan swasta merupakan keniscayaan yang tak akan terpisahkan. Kedekatan sekolah negeri dengan pemerintahan memang tidak bisa dihapuskan, namun tidak berarti sekolah swasta akan terhalang, berbagai kebijakan tentu dilakukan secara proporsional. Tidak ada sekolah jelek, masing-masing memiliki peminat sesuai dengan kebutuhan Masyarakat.

Kedua,reduksi dikotomi sekolah. Negeri dan swasta memiliki kesamaan dalam aspek pelaksanaan pembelajaran, aspek bantuan pemerintah, dan aspek pelayanan di sekolah. Perbedaan yang sering muncul terkait status pengelola, bahwa negeri cenderung menggantungkan anggaran kepada pemerintah, sedang swasta harus mandiri sesuai kemampuan sponsor. Masyarakat umum tentunya perlu mengedepankan aspek kesamaan daripada aspek perbedaan.

Ketiga,reorientasi tujuan. Tentukan arah ke depan tujuan Pendidikan yang ingin diraih. Dinamika di Masyarakat, seringkali konsep berfikirnya “asal negeri”. Saat ini model Pendidikan tidak hanya satu varian, namun banyak aspek tertentu yang ditonjolkan sesuai dengan kebutuhan dan tantangan zaman.

Keempat, optimalisasi kemampuan anak. Para orang tua tentunya dalam memilihkan sekolah bagi putra putrinya berorientasi pada kemampuan bukan keinginan. Bila sekolah tidak mampu mengakomodir bakat tersebut, tentu mencari alternatif sekolah lain lebih bijak daripada memaksakan kehendak yang tidak sejalan dengan potensi anak.

Kelima,optimis terhadap pilihan. Ketakutan sekolah swasta nir prestasi dan tidak berkualitas akan terbantahkan. Dalam situs website Pusat Prestasi nasional (Puspresnas) Kemendikdasmen, sekolah-sekolah swasta dapat bersaing dengan sekolah negeri dalam perolehan medali bidang lomba akademik maupun non akademik.

Berita Terkait :  KPU Surabaya Buka Pendaftaran KPPS untuk Pilkada Surabaya 2024

Keenam,Berdamai dengan takdir. Bila Upaya mendaftar masuk di sekolah favorit belum tercapai, maka tidak pantas bagi orang tua maupun calon siswa menghalalkan segala cara yang tidak etis demi ambisi sporadis yang belum tentu menjadi jaminan penentu masa depan. Mungkin ini bagian dari skenario Tuhan untuk mengarahkan kepada pemenuhan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan.

Sekolah merupakan gerbang awal memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan. Mulailah dengan langkah pasti tanpa kecurangan dan tiada keterpaksaan. Optimalisasi potensi dan peluang selama belajar di sekolah, akan berdampak pada hasil yang memuaskan.

Negeri maupun swasta hanyalah label dan bukan satu-satunya penentu. Masa depan ada dalam keyakinan pribadi dengan segala daya juang untuk meraihnya. Di sekeliling kita tentunya banyak orang yang sukses dengan berbagai latar belakang sekolah. Tidak sebatas alumni negeri saja yang sukses, atau tidak pula alumni swasta saja yang dengan masa depan gemilang. Keduanya memiliki peluang bekerja / berwirausaha tanpa ada diskriminasi. []

———— *** ————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!