32.1 C
Sidoarjo
Thursday, October 29, 2026
spot_img

Wawali Batu Terima Peta Batas Hutan Selamatkan Kawasan Tangkapan Air

Kota Batu,Bhirawa – Kecamatan Bumiaji, Kota Batu memiliki peran strategis sebagai kawasan tangkapan air di lereng Arjuno–Welirang. Karena itu Kepala Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah XI, Andi Setiawan melakukan sosialisasi peta batas kawasan hutan yang digelar di Kantor Kecamatan Bumiaji, Kamis (29/10/2026).

Di antara wilayah Kecamatan Bumiaji yang menjadi kawasan strategis tangkapan air adalah Desa Sumberbrantas dan Desa Tulungrejo. Karena itu  Peta Kawasan Hutan dari BPKH Wilayah XI diserahkan ke kedua Pemerintah Desa ini. Peta tersebut diterima langsung Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto.

“Desa Sumberbrantas juga menjadi lokasi mata air Sungai Brantas. Karena itu, kepastian batas kawasan hutan perlu berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan dan penghidupan masyarakat,” ujar Heli Suyanto, Kamis (29/10/2026).

Ia berharap dengan penyerahan batas kawasan tanfkapan air bisa memberikan kepastian hukum dan kelestarian hutan. Dengan demikian eksistensi hutan bisa berjalan beriringan dengan aktivitas dan kebutuhan hidup masyarakat.

“Ke depan persoalan yang ada terkait pengelolaan hutan bisa diperjelas berdasarkan data dan ditindaklanjuti sesuai kewenangan,” jelas Heli.

Keberadaan peta tersebut, lanjutnya, bisa menjadi bahan untuk memperjelas informasi batas kawasan. Hal ini sekaligus mendukung verifikasi ketika ada temuan adanya perbedaan antara dokumen resmi dan kondisi lapangan.

Pemkot Batu berkomitmen untuk siap memfasilitasi koordinasi dengan instansi terkait agar setiap persoalan bisa ditindaklanjuti secara transparan dan sesuai kewenangan.

Berita Terkait :  Mesin Combine Harvester sebagai Solusi Percepat Panen Tebu, Petani Diuntungkan 

Diketahui, Pemkot Batu berkomitmen menjaga kelestarian kawasan hutan penyangga yang ada di Kota Wisata ini. Untuk itu mereka melalukan pendekatan seimbang antara konservasi alam dan penguatan ekonomi kerakyatan.

Pemkot membuat program dengan fokus untuk mengantisipasi risiko bencana alam di masa depan. Namun demikian program ini juga tetap bisa menyediakan pendapatan bagi petani.

Program ini memiliki fokus utama mengubah pola tanam tradisional menjadi sistem agroforestri yang lebih berkelanjutan. Dan tantangan terbesar dalam menjaga hutan adalah kebutuhan ekonomi mendesak para petani atau pesanggem.

Beberapa bulan lalu, Pemkot telah melakukan pertemuan bersama Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur dan Kelompok Tani Hutan (KTH) Wono Lestari Sejahtera. Akhirnya, disepakati adanya kerja sama untuk melakukan reboisasi strategis dengan penanaman bibit pòhon produktif. Yaitu, alpukat, kopi, dan sukun yang akan ditanam di lahan miring seluas 650 hektare.

Pemilihan komoditas ini bertujuan sebagai tegakan pelindung sekaligus penahan longsor. Melalui program dan pemilihan komoditas  ini, ditargetkan 60 persen bisa menjadi pemenuhan ekonomi masyarakat sehingga mereka mampu secara mandiri.

Adapun sebesar 40 persen difokuskan untuk menjaga ekologi secara murni. Dalam fokus ini bertujuan untuk menjaga hutan, mencegah banjir saat hujan, dan tidak terjadi kebakaran hutan saat kemarau.

Saat itu, Wali Kota juga menginstruksikan langkah konkret untuk memulihkan fungsi konservasi di kawasan hulu yang ada di ķawasan Kecamatan Bumiaji. Hal ini berkaitan dengan upaya memutus siklus banjir luapan Kali Krecek yang ada di ķawasan ini.

Berita Terkait :  Wali Kota Kediri Vinanda Tinjau Proses Perbaikan Stadion Brawijaya

Berdasarkan data lapangan, banjir yang melanda kawasan Desa Tulungrejo dan Desa Punten pada 30 Maret 2026 dipicu oleh alih fungsi lahan. Tercatat keberadaan hutan seluas 109,188 hektar telah menjadi pertanian holtikultura semusim. [nas.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!