28.6 C
Sidoarjo
Wednesday, October 28, 2026
spot_img

Bullying di SD: Alarm Keras Kurikulum dan Pendidikan Karakter

Oleh:
Dini Nastiti Wardani
Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan

Dunia pendidikan Indonesia kembali dihadapkan pada persoalan serius, yakni perundungan atau bullying yang melibatkan anak usia sekolah dasar. Kasus siswa SD di Pemalang, Jawa Tengah, yang meninggal dunia setelah diduga mengalami kekerasan, serta kasus anak di Surabaya dengan Down syndrome yang diduga mengalami perundungan sebelum meninggal dunia, menjadi peringatan bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan.

Dugaan dalam kedua kasus tersebut tetap harus merujuk pada fakta dan hasil penyelidikan. Namun, pertanyaan mendasarnya tidak boleh diabaikan, yakni mengapa lingkungan yang seharusnya melindungi anak justru dapat menjadi tempat terjadinya kekerasan?

Peristiwa tersebut tidak semestinya berhenti sebagai berita tragis yang ramai dibicarakan, lalu dilupakan ketika perhatian publik beralih. Perundungan merupakan tantangan bagi budaya sekolah, pola pengasuhan keluarga, penerapan kurikulum, dan tanggung jawab masyarakat. Pendidikan tidak cukup dinilai dari nilai rapor dan prestasi akademik. Pendidikan juga harus membentuk manusia yang menghargai kehidupan, memahami perbedaan, dan menolak kekerasan.

Pendidikan Karakter Tidak Boleh Berhenti pada Slogan
Pendidikan karakter kerap digaungkan melalui upacara, poster antiperundungan, dan nasihat guru. Namun, apakah nilai-nilai tersebut benar-benar diterapkan dalam interaksi sehari-hari? Anak yang mampu menjawab soal tentang toleransi belum tentu mampu menghargai teman yang berbeda. Siswa yang hafal nasihat tentang kebaikan belum tentu berani membantu temannya yang dihina. Artinya, pendidikan karakter tidak cukup diajarkan sebagai pengetahuan, tetapi harus dibiasakan sebagai perilaku.

Berita Terkait :  Berangkatkan Risma-Gus Hans Daftar Maju Pilgub Jatim, Ini Pesan PDI-P

Sekolah perlu menanamkan empati, pengendalian emosi, tanggung jawab, keberanian melapor, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Ejekan berulang, pengucilan, ancaman, pemukulan, serta penghinaan terhadap kondisi fisik atau kemampuan seseorang tidak boleh dianggap sebagai candaan biasa.

Guru juga harus mampu membedakan konflik antarsiswa dengan perundungan yang melibatkan ketimpangan kekuatan, tindakan berulang, atau pola intimidasi. Setiap laporan harus ditangani serius tanpa menyalahkan korban. Penanganan perlu mengutamakan keselamatan, pendampingan, dan pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.

Kurikulum Harus Mengajarkan Kehidupan
Kurikulum yang baik tidak hanya mengejar ketuntasan materi, tetapi juga mendukung perkembangan sosial dan emosional peserta didik. Pendidikan karakter perlu diintegrasikan dalam berbagai mata pelajaran dan kegiatan sekolah.

Dalam Bahasa Indonesia, siswa dapat mempelajari cerita tentang empati dan berlatih menyampaikan pendapat tanpa merendahkan orang lain. Dalam Pendidikan Pancasila, mereka belajar tentang kesetaraan, hak, kewajiban, dan tanggung jawab. Melalui proyek kelompok, siswa dilatih bekerja sama serta menghargai kontribusi setiap anggota.

Sekolah juga perlu menerapkan diskusi kasus, bermain peran, refleksi perilaku, dan latihan menyelesaikan konflik secara damai. Upaya tersebut harus disertai pelatihan guru, mekanisme pengaduan yang aman, pendampingan psikologis, dan evaluasi iklim sekolah. Kurikulum yang berhasil bukan sekadar menghasilkan siswa yang cerdas menjawab soal, melainkan juga mampu hidup bersama tanpa menyakiti orang lain.

Teknologi Pendidikan untuk Mencegah Perundungan
Dari perspektif teknologi pendidikan, media digital seharusnya mendukung proses tersebut. Video situasional, cerita interaktif, simulasi, dan refleksi berbantuan teknologi dapat membantu siswa mengenali perundungan serta berlatih mengambil keputusan yang berempati.

Berita Terkait :  Hadiri Ratas di Istana Negara, Menteri PU Dody: Inovasi Teknologi dan Infrastruktur Jadi Kunci Pengelolaan Sampah Nasional

Penelitian Wibowo, Mustaji, dan Sumarno (2026) mengenai pembelajaran bahasa yang mengintegrasikan kecerdasan artifisial menunjukkan contoh bagaimana teknologi dapat dirancang sebagai bagian dari tahapan pembelajaran yang terstruktur. Meski penelitian itu berfokus pada efikasi diri berbicara, bukan bullying, tetapi prinsip desainnya relevan, yakni teknologi harus digunakan untuk mencapai tujuan belajar yang jelas, bukan sekadar menjadi pelengkap modern di ruang kelas. Karena itu, sekolah perlu menghubungkan kurikulum, strategi pembelajaran, media, pendampingan, dan evaluasi.

Keberhasilan pendidikan karakter tidak cukup diukur dari kemampuan siswa menyebutkan definisi bullying, tetapi juga dari bagaimana mereka memperlakukan teman, merespons ketika menyaksikan perundungan, dan berani mencari bantuan ketika ada anak yang terancam. Pendekatan ini tetap membutuhkan mekanisme perlindungan yang nyata, karena pembelajaran saja tidak cukup untuk menggantikan penanganan serius atas laporan kekerasan.

Jurnalis Radio Harus Mengedepankan Empati
Jurnalis radio juga memiliki tanggung jawab penting. Kecepatan penyiaran tidak boleh mengalahkan akurasi. Dugaan perundungan dan penyebab kematian harus dibedakan dari fakta yang telah dikonfirmasi atau kesimpulan resmi.

Identitas anak perlu dilindungi, termasuk dengan menghindari detail yang memungkinkan mereka dikenali. Pemberitaan seharusnya tidak mengejar sensasi, tetapi menggali apakah mekanisme pencegahan telah berjalan, bagaimana laporan ditangani, dan perubahan apa yang dibutuhkan. Anak yang diduga melakukan kekerasan juga tetap berhak mendapatkan perlindungan identitas dan penanganan sesuai prinsip keadilan bagi anak.

Berita Terkait :  Dorong Penguatan Gerakan Inklusi Nasional, Ketua DPD RI Apresiasi Penghargaan Ibunda Bayu Satria

Jangan Menunggu Korban Berikutnya
Kasus di Pemalang dan Surabaya seharusnya menjadi momentum mengevaluasi makna keberhasilan pendidikan. Sekolah tidak cukup dinilai dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan menghargai setiap anak.

Pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat, dan media harus bergerak bersama. Pendidikan karakter perlu diwujudkan dalam tindakan, kurikulum harus membentuk perilaku, dan teknologi harus memperkuat perlindungan anak.

Sebab, pendidikan sejati bukan sekadar mencerdaskan, melainkan memastikan kecerdasan tumbuh bersama empati, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap kehidupan.

———— *** ————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!