Sembilan puluh delapan tahun yang lalu, tepatnya pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul mengesampingkan ego kedaerahan demi satu visi luhur: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia. Momentum historis Sumpah Pemuda tersebut menjadi fondasi kokoh berdirinya sebuah bangsa besar. Namun, di era digital saat ini, ketika batas-batas geografis telah melebur oleh kemajuan teknologi komunikasi, kita dihadapkan pada tantangan baru yang tidak kalah pelik dibandingkan era kolonialisme. Jika dahulu musuh yang dihadapi berwujud fisik, hari ini musuh kita bersifat tidak kasat mata, yakni melubernya informasi digital yang justru berpotensi memecah belah persatuan bangsa.
Kita kinihidup di era disrupsi informasi, di mana media sosial dipenuhi oleh konten-konten provokatif, hoaks, ujaran kebencian, serta polarisasi politik yang tajam. Gempuran algoritma sering kali menjebak masyarakat dalam bilik gema (echo chamber), yang hanya memvalidasi kebenaran kelompoknya sendiri sembari menafikan eksistensi kelompok lain. Informasi yang bersifat menghasut dan memecah belah menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasi objektif. Fenomena ini lambat laun mengikis sendi-sendi toleransi dan kerukunan yang telah susah payah dirajut oleh para pendahulu kita. Di sinilah spirit Sumpah Pemuda kembali menemukan urgensinya untuk dikontekstualisasikan oleh generasi muda masa kini.
SemangatSumpahPemudatidak boleh sekadar menjadi ritual seremonial tahunan yang miskin makna. Pemuda hari ini harus mampu memosisikan diri sebagai agen filter informasi (information filterer), bukan justru menjadi produsen atau penyebar hoaks yang destruktif. Mewarisi semangat 1928 berarti memiliki kesadaran kritis untuk selalu menyaring sebelum membagikan informasi (filter before share). Menggunakan kecerdasan digital serta literasi media yang baik adalah manifestasi modern dari komitmen menjaga kesatuan bangsa. Pemuda harus menjadi jembatan di tengah jurang polarisasi, menyebarkan narasi perdamaian, serta mengedepankan dialog yang inklusif demi persatuan.
Persatuan bukanlah akhir dari keberagaman, melainkan sebuah orkestrasi yang indah dari berbagai perbedaan. Kita boleh berbeda pilihan politik, pandangan, maupun latar belakang budaya, namun komitmen terhadap keutuhan bangsa Indonesia harus tetap menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar. Melalui surat pembaca ini, saya ingin mengajak seluruh elemen pemuda Indonesia untuk merapatkan barisan di ruang digital. Mari kita lawan banjir disinformasi dengan memproduksi konten-konten kreatif yang edukatif, inspiratif, dan merekatkan persatuan. Mari kita buktikan bahwa komitmen satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa tetap menyala di dada kita, demi menyongsong Indonesia Emas.
Ardian Pratama
Pengamat Sosial Komunitas Muda Indonesia
Jakarta




