28.9 C
Sidoarjo
Thursday, June 11, 2026
spot_img

Survei UMKM sebagai Langkah Awal Pemberdayaan di Gubeng


Oleh :
Nabila Nur Maajid
Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya yang sedang mengikuti KKN NR 06 di Kelurahan Gubeng, Surabaya

Pagi-pagi kami sudah menyusuri gang-gang kecil di RW 03, Kelurahan Gubeng. Bukan tanpa tujuan, saya dan rekan-rekan mahasiswa Pemberdayaan Masyarakat Non Reguler 06 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya datang membawa lembar pendataan dan semangat untuk benar-benar mengenal pelaku usaha kecil yang selama ini jadi tulang punggung ekonomi warga di sana. Kegiatan ini tidak berjalan begitu saja tanpa arahan. Di balik langkah kami di lapangan, ada sosok Dosen Pembimbing Lapangan kami, Ir. Michella Beatrix S.T., M.T., yang membimbing dan memastikan setiap proses pendataan yang kami lakukan berjalan terarah dan bermakna. Sebelum kami turun sendiri, ibu-ibu Kader Surabaya Hebat (KSH) lebih dulu mengajak kami survei awal ke wilayah tersebut. Jujur, kehadiran beliau-beliau ini sangat berarti. Kami mahasiswa baru, wajah asing di lingkungan yang sudah punya ikatan sosial bertahun-tahun. Tanpa ibu-ibu KSH yang membuka jalan, mungkin pintu warung dan rumah warga tidak semudah itu terbuka untuk kami.

Pada 24 dan 30 Mei, pilar ekonomi kami resmi turun lapangan. Sembilan RT di RW 03 kami bagi rata dua orang per RT supaya pendataan berjalan efisien dan tidak ada pelaku usaha yang terlewat. Pertanyaan yang kami bawa sebetulnya sederhana yaitu sudah punya QRIS? Sudah terdaftar di Google Maps?.. Ternyata Banyak pelaku UMKM yang sudah berjualan bertahuntahun, punya pelanggan tetap, bahkan produknya bagus tapi belum tersentuh dunia digital sama sekali. Tidak bisa terima transfer, tidak muncul di pencarian Google, tidak ada jejaknya di internet. Padahal zaman sekarang, orang cari warung saja lewat HP dulu sebelum melangkah keluar rumah. Ketidakhadiran digital bukan lagi soal ketinggalan tren ini soal kehilangan pelanggan yang bahkan tidak pernah sempat datang.

Berita Terkait :  Gunakan Mekanisme BKK, 400 Unit Warung Rakyat di Sidoarjo Direnovasi

Untuk UMKM yang belum punya QRIS dan Google Maps, kami catat nama pemilik, nama usaha, dan nomor WhatsApp mereka. Data itu terlihat sederhana, tapi bagi kami maknanya jauh lebih besar. Di balik setiap nama yang kami tulis, ada orang yang tiap hari bangun pagi untuk menghidupkan usahanya dan mungkin belum pernah masuk dalam radar program pemberdayaan mana pun. Tanggal 30 Mei jadi momen yang paling berat sekaligus paling berkesan. Kami duduk bersama untuk memilih UMKM mana yang akan mendapatkan QRIS soundbox dan banner, karena kuota kami terbatas. Memilih itu tidak mudah. Kami sadar, setiap nama yang tidak terpilih bukan berarti usahanya tidak layak, hanya belum gilirannya. Tapi dari situ kami juga belajar bahwa pemberdayaan tidak harus sempurna dari awal. Yang penting mulai, dari yang paling siap, lalu terus bergerak.

QRIS soundbox bukan sekadar alat. Bagi pelaku UMKM yang menerimanya, itu adalah pengakuan bahwa usaha mereka setara dan layak masuk ke ekosistem ekonomi modern. Banner pun bukan hiasan, itu identitas yang selama ini cuma tersimpan dari cerita ke cerita. Dari pengalaman di Gubeng ini, kami bawa satu Kesimpulan yaitu perubahan nyata tidak selalu lahir dari program besar atau anggaran fantastis. Kadang hal itu lahir dari mahasiswa yang mau capek jalan kaki, mau repot mengetuk pintu, dan mau duduk mendengarkan cerita orang-orang yang usahanya mungkin belum pernah dilirik siapa pun. [*]

Berita Terkait :  Dinsos Jatim Pulangkan Lansia Telantar Asal Malang Lewat Inovasi 'Sahabat Pulang'

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!