Jombang, Bhirawa – Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Timur (Jatim) periode 2026-2031 mengingatkan bahwa faktor terbatasnya alat produksi yakni lahan pertanian yang terbatas adalah problem yang serius yang menjadi tantangan dunia pertanian di Indonesia.
Sumrambah menyampaikan, lahan pertanian di Indonesia makin hari makin berkurang. “Kita ini tinggal sekitar 7,2 juta hektar secara nasional. Dalam 10 tahun kita sudah kehilangan 1 juta hektar,” kata Sumrambah, Selasa (22/09/2026).
“Ini jadi problem, kepemilikan lahan kita rata-rata 0,25 hektar per petani. Rata-rata seperti itu. Ini kalau tidak kita garap serius, maka hasil pertanian memang tidak pernah mencukupi. Dengan rekayasa apapun 0,25 hektar itu tidak akan mampu memberikan kesejahteraan bagi para petani,” beber Sumrambah.
Oleh karenanya, Sumrambah mengatakan, harus ada sebuah pola baru di dunia pertanian sebagai solusi atas permasalahan tersebut.
“Yang dulu coba kita lakukan di Jombang dan di Jawa Timur, mengerjakan dengan cara berkelompok. Kita namakan program itu seperti halnya ‘Corporate Farming’.Jadi dikerjakan bersama, kemudian dikelola bersama dalam satu manajemen. Seperti halnya program yang kita kerjakan yang namanya Makmur. Nah dengan ‘kayak gitu’, membuat efisiensi dan petani masih bisa mengerjakan hal yang lain. Sehingga pertanian juga tidak mandek, tapi nilai lebih juga mereka dapatkan pada sektor yang lain,” paparnya.
Sumrambah kembali menandaskan, faktor terbatasnya lahan pertanian adalah faktor yang sangat serius. Maka sebenarnya, kebijakan tentang LP2B (Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan) harus dikerjakan secara serius.
“Tidak lagi diperbolehkan lahan pertanian berubah fungsi menjadi misalkan ke sektor industri dan lain sebagainya. Tapi itupun harus dengan analisis yang benar, supaya pada satu sisi kita tidak bisa menang-menangan sektor pertanian yang harus dipertahankan tanpa harus memberikan ruang pada sektor industri, tidak. Tapi mempertahankan lahan pertanian yang subur itu menjadi penting,” beber Sumrambah.
Lebih lanjut, Sumrambah menyampaikan, KTNA Jawa Timur sendiri mencoba terus berinovasi untuk meningkatkan produktivitas pertanian Padi.
“Produktivitas rata-rata nasional kita kan hanya 5,2 atau 5, 3 ton per hektar. Ini yang kemudian kita menggandeng beberapa pihak, baik itu industri pertanian maupun pihak perguruan tinggi, untuk bisa kita berinovasi agar produktivitas di atas 10 ton,” tutur Sumrambah.
Tahun depan lanjut dia, KTNA Jawa Timur juga akan mengadakan lomba per kabupaten. Dengan lomba tersebut diharapkan melahirkan SOP (Standar Operasional Prosedur) untuk meningkatkan produktivitas Padi agar dapat mencapai angka di atas 10 ton per hektar.
“Kalau kita bisa 10 ton per hektar, insyaallah kita akan swasembada. Tapi ini benar-benar harus dikawal betul baik itu oleh teman-teman perguruan tinggi maupun industri pertanian,” pungkas Sumrambah. [rif.kt]

