Kab Probolinggo, Bhirawa – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo mulai melakukan pendampingan dan visitasi akreditasi perpustakaan desa (perpusdes) secara maraton sejak Senin (12/10). Kegiatan ini difokuskan pada pemenuhan Standar Nasional Perpustakaan (SNP) sekaligus peningkatan mutu layanan literasi masyarakat.
Pendampingan tahap awal menyasar Perpusdes Desa Kamalkuning, Kecamatan Krejengan, dan Desa Sentul, Kecamatan Gading. Selanjutnya, kegiatan dijadwalkan berlangsung di tujuh desa lainnya, yakni Sukomulyo di Kecamatan Pajarakan, Alassapi di Kecamatan Banyuanyar, Jatiadi di Kecamatan Gending, Suko di Kecamatan Maron, Kotaanyar di Kecamatan Kotaanyar, Sumberanyar di Kecamatan Paiton, serta Sebaung di Kecamatan Gending.
Pustakawan Dispersip Kabupaten Probolinggo, Hesthiyono Suko Adhi, mengatakan pendampingan tersebut merupakan langkah untuk membantu perpustakaan desa mempersiapkan diri menghadapi proses akreditasi.
Persiapan meliputi pemeriksaan administrasi, pengelolaan koleksi, hingga ketersediaan sarana dan prasarana.
“Pendampingan ini kami lakukan untuk membantu perpustakaan desa mempersiapkan berbagai kebutuhan akreditasi sesuai Standar Nasional Perpustakaan. Harapannya, setiap perpustakaan yang menjadi sasaran dapat meningkatkan tata kelola dan kualitas pelayanannya kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurut Hesthiyono, pemenuhan standar perpustakaan tidak cukup hanya dengan melengkapi dokumen administrasi. Pengelolaan koleksi dan fasilitas penunjang juga perlu diperhatikan agar layanan perpustakaan dapat berjalan optimal.
Melalui evaluasi tersebut, pengelola perpustakaan diharapkan dapat mengetahui kekurangan yang perlu dibenahi sebelum menjalani proses akreditasi. Dengan demikian, perbaikan dapat dilakukan secara terarah sesuai kebutuhan masing-masing perpustakaan.
Selain mendorong kesiapan akreditasi, Dispersip juga berupaya memperkuat fungsi perpustakaan desa sebagai pusat literasi berbasis inklusi sosial.
Perpustakaan diharapkan tidak sekadar menjadi tempat membaca dan meminjam buku, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk mengakses informasi serta mengembangkan pengetahuan.
“Perpustakaan diharapkan tidak hanya menjadi tempat membaca dan meminjam buku, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk memperoleh informasi dan mengembangkan pengetahuan. Penguatan peran ini penting agar perpustakaan desa semakin dekat dengan kebutuhan warga dan dapat dimanfaatkan oleh berbagai kelompok masyarakat,” jelasnya.
Hesthiyono berharap pendampingan secara maraton tersebut dapat mendorong perpustakaan desa meningkatkan kualitas pengelolaan dan pelayanan secara berkelanjutan. Upaya itu sekaligus diharapkan memperluas akses informasi dan menumbuhkan budaya literasi di Kabupaten Probolinggo. [fir.gat]






