29.1 C
Sidoarjo
Monday, October 12, 2026
spot_img

Peran Guru dan Masa Depan Pendidikan di Era Post-Truth

Oleh:
Ahya M Maghfur Arifin
Kepala SMK Manbail Futuh Jenu, Tuban Jawa Timur

Perkembangan teknologi informasi telah membawa peradaban manusia ke dalam lanskap baru yang penuh kejutan yaitu era post-truth (pascakebenaran) dan disrupsi informasi. Dulu, ketika seorang murid ingin mencari jawaban atas pertanyaan dia bertanya kepada guru, membaca buku di perpustakaan, atau mendiskusikannya dengan teman. Hari ini, sebuah pertanyaan rumit sekalipun dapat dijawab dalam hitungan detik. Mesin pencari, media sosial, video pendek, hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) menyediakan lautan pengetahuan yang seolah tak bertepi. Sekilas, fenomena ini terlihat sebagai pencapaian luar biasa dalam akses pengetahuan. Namun, di balik kemudahan tersebut, dunia pendidikan kita sedang menghadapi krisis tersembunyi yaitu krisis kebenaran dan validitas informasi.

Istilah post-truth menjadi perhatian global setelah Oxford Dictionaries menetapkannya sebagai Word of the Year pada tahun 2016. Pakar filsafat dan sains, Lee McIntyre, mendefinisikan post-truth sebagai kondisi ketika fakta-fakta objektif kalah berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan daya tarik emosional serta keyakinan pribadi. Artinya, dalam era post-truth, kebenaran sebuah informasi tidak lagi diukur dari kekuatan bukti ilmiah atau riset yang ketat, melainkan dari seberapa cocok informasi tersebut dengan perasaan, minat, atau prasangka seseorang. Situasi ini diperparah oleh algoritma media sosial yang bekerja berbasis engagement. Algoritma dirancang untuk menguatkan narasi yang memicu emosi kuat-seperti rasa takut, marah, atau bangga-sehingga melahirkan fenomena echo chamber (ruang gema) dan filter bubble. Murid hanya disajikan informasi yang sejalan dengan minat mereka, sekaligus menutup pintu bagi pandangan kritis lain. Secara akademis, hal ini memicu apa yang disebut para ahli sebagai krisis epistemik-sebuah kondisi di mana batas antara opini tak berdasar, hoax, klaim pseudosains, dan validitas ilmiah menjadi makin kabur. Murid yang lahir sebagai generasi digital native kerap kali mahir mengoperasikan gawai dan teknologi AI, tetapi mengalami kelumpuhan ketika harus menguji kredibilitas informasi yang mereka dapatkan.

Berita Terkait :  Wujudkan Strategi Adaptasi Kurikulum di Era AI

Selama bertahun-tahun, masalah utama Pendidikan kita adalah keterbatasan akses terhadap sumber belajar. Namun hari ini, masalahnya berbalik 180 derajat. Masalah utama pendidikan masa kini bukan lagi bagaimana peserta didik mendapatkan informasi, melainkan bagaimana mereka mampu memilah dan mengevaluasi informasi. Laporan dan studi dari Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) melalui penilaian Program for International Student Assessment (PISA) menunjukkan fakta yang menggelitik. Meskipun mayoritas siswa generasi digital mampu mengakses internet dan media sosial secara mandiri, persentase siswa yang benar-benar mampu membedakan antara fakta objektif dan opini terselubung di dunia maya masih sangat rendah. Banyak anak mampu membuat konten video dengan canggih atau meminta AI membuatkan esai, tetapi gagap saat diajukan pertanyaan dasar: “Dari mana sumber data ini berasal?” dan “Mengapa kamu harus mempercayainya?” Artinya, kemampuan mengoperasikan teknologi sama sekali tidak berbanding lurus dengan kecerdasan memproses informasi. Di sinilah letak ancaman terbesarnya, jika generasi muda tidak dibekali kecerdasan menguji informasi, mereka akan sangat rentan terhadap manipulasi opini, propaganda politis, hingga penerimaan narasi-narasi berbahaya.

Lantas, di mana posisi guru ketika kecerdasan buatan dapat menjawab pertanyaan dalam hitungan detik? Apakah peran guru akan tergantikan oleh mesin? Jawabannya adalah tentu tidak. Kehadiran AI justru membuat peran guru menjadi jauh lebih penting dan tak tergantikan, tetapi bentuk perannya harus mengalami reposisi mendasar. Guru tidak lagi bisa bersikap sebagai the sage on the stage-satu-satunya pemilik otoritas pengetahuan yang tugasnya sekadar menyampaikan hafalan materi (transfer of knowledge). Karena tugas mekanis menyampaikan teks kini telah diambil alih oleh teknologi. Guru masa depan harus bertransformasi menjadi navigator, mediator, dan kurator pengetahuan. Jika AI dan mesin pencari berfungsi memberikan jawaban, maka guru berfungsi melatih peserta didik untuk mengajukan pertanyaan yang tepat. Dan untuk mereduksi pengaruh buruk disrupsi informasi di era post-truth, terdapat tiga langkah strategis yang perlu dilakukan oleh guru di ruang kelas. Pertama, Guru perlu mengubah budaya ruang kelas dari tempat mencatat menjadi laboratorium pengujian informasi. Guru dapat menggunakan pendekatan dialektika atau Socratic Questioning, di mana siswa tidak langsung diberi tahu mana yang benar dan salah, melainkan diajak untuk membongkar asumsi mereka sendiri melalui pertanyaan reflektif: “Apa alasan utama kamu mempercayai artikel ini?”, “Siapa penulisnya dan apakah ia memiliki kepakaran di bidang tersebut?”, serta “Apakah ada bukti lain yang membantah klaim ini?”. Secara kultural pendekatan ini selaras dengan prinsip tabayyun-proses mengonfirmasi dan menguji kebenaran suatu berita sebelum membagikannya. Kedua, banyak pihak beranggapan bahwa mengajari berpikir kritis cukup dengan slogan “jangan mudah percaya hoax”. Ini adalah pemahaman yang dangkal.

Berita Terkait :  PLN UIT JBM Perkuat Keandalan Listrik di Kota Surabaya dan Sidoarjo

Berpikir kritis bukan sekadar keterampilan umum, melainkan membutuhkan fondasi pengetahuan dasar (domain-specific knowledge). Seorang murid tidak akan bisa kritis terhadap hoax seputar kesehatan jika ia tidak memahami dasar-dasar biologi dan sains. Murid tidak akan bisa mengendus manipulasi berita politik jika ia buta terhadap sejarah dan tata negara. Oleh karena itu, guru harus mampu menjembatani kurikulum pengetahuan dasar dengan analisis kasus-kasus nyata di internet. Ketiga, salah satu dampak buruk era post-truth adalah lahirnya generasi yang merasa tahu segalanya hanya karena telah membaca satu-dua unggahan di media sosial. Disini Guru memiliki peran moral untuk menanamkan epistemic humility-kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan pengetahuan diri. Guru harus mengajarkan bahwa mengatakan “Saya belum tahu dan saya harus mencari tahu lebih lanjut” adalah tindakan cerdas, bukan sebuah kegagalan. Di era algoritma yang dingin, guru adalah benteng terakhir pembentuk karakter, empati, serta kompas moral peserta didik.

Pada akhirnya, perdebatan mengenai post-truth, kecerdasan buatan, dan disrupsi informasi bukan sekadar perdebatan tentang teknologi, melainkan perdebatan tentang manusia seperti apa yang ingin kita bentuk. Kita bisa memilih sistem pendidikan yang hanya mencetak siswa berdaya ingat tinggi dan pandai mencari data di internet. Namun, kita juga bisa memilih pendidikan yang melahirkan manusia yang tangguh, bersikap ilmiah, menghargai fakta, berempati, serta mampu berpikir mandiri di tengah kepungan propaganda digital. Teknologi adalah perkakas yang netral dan arahnya ditentukan oleh manusia itu sendiri. AI mungkin bisa menulis esai dan menjawab rumus matematika dengan sangat cepat, tetapi AI tidak memiliki kebijaksanaan (wisdom), nilai moral, maupun empati. Selama pertanyaan-pertanyaan dasar seperti “Apakah informasi ini etis?”, “Apakah tindakan ini adil?”, dan “Apa manfaat pengetahuan ini bagi kemanusiaan?” masih membutuhkan nurani, maka peran guru di ruang kelas tidak akan pernah tergantikan. Di tengah lautan informasi yang keruh dan datang dari segala penjuru, guru adalah kompas yang menjaga agar bahtera pendidikan kita tetap berlayar menuju masa depan yang berilmu dan beradab.

Berita Terkait :  Dua BUMD Jatim Jadi Perseroda, Pj Gubernur Adhy Optimis Mampu Tingkatkan Kinerja

————- *** ————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!