29.4 C
Sidoarjo
Wednesday, May 6, 2026
spot_img

Panen Cabai Melimpah, Tapi Harga Tetap Tinggi, Pemkot Telusuri Distribusi


Kota Malang, Bhirawa
Produksi cabai di Kota Malang menunjukkan hasil melimpah, namun kondisi tersebut belum mampu menekan harga di tingkat konsumen yang masih bertahan tinggi.

Panen cabai yang dilakukan petani Kelompok Tani Sido Makmur 1 di Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang, Kamis (16/4), mencatat produktivitas cukup tinggi. Dari lahan sekitar 7.000 meter persegi, petani mampu menghasilkan hingga 6 ton cabai dalam satu siklus panen.

Selain itu, tanaman cabai yang berusia empat bulan tersebut berpotensi dipanen hingga 15 kali dalam setahun. Hal ini menunjukkan kapasitas produksi petani lokal relatif kuat dalam memenuhi kebutuhan pasar.

Namun demikian, harga cabai di tingkat konsumen masih menembus di atas Rp100 ribu per kilogram. Kondisi ini berbanding terbalik dengan harga di tingkat petani yang hanya berkisar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengakui adanya ketimpangan harga tersebut. Menurutnya, persoalan utama diduga berada pada rantai distribusi yang belum efisien.

“Produksi petani sebenarnya cukup baik. Tapi ada selisih harga yang cukup tinggi antara petani dan pasar, ini yang akan kita telusuri,” ujarnya.

Kondisi ini menempatkan petani sebagai aktor penting dalam pengendalian inflasi daerah, khususnya sektor hortikultura. Meski produksi relatif stabil, sistem distribusi dinilai masih menjadi pekerjaan rumah.

Untuk menjaga produktivitas, Pemkot Malang menyalurkan bantuan sarana produksi (saprodi) kepada 12 kelompok tani. Dukungan tersebut diharapkan mampu menjaga konsistensi hasil panen di tengah keterbatasan lahan perkotaan.

Berita Terkait :  Peringati Hari Buruh Internasional, DPRD Surabaya Minta Pengusaha Utamakan Keseimbangan Hak Pekerja

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Malang, Slamet Husnan Hariyadi, menegaskan pihaknya terus mendorong peningkatan kapasitas petani.

“Petani kita punya potensi besar. Dengan dukungan ini, kami ingin memastikan produksi tetap stabil,” katanya.

Meski produksi dalam kondisi aman, belum terkendalinya harga menunjukkan adanya persoalan struktural di sektor hilir. Pemkot Malang kini fokus menelusuri rantai distribusi, termasuk peran distributor hingga pasar induk dalam menentukan harga akhir.

Jika tidak segera diatasi, kondisi ini berpotensi merugikan petani yang tidak menikmati harga tinggi, sementara masyarakat tetap membeli dengan harga mahal. [mut.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!