31.2 C
Sidoarjo
Friday, June 19, 2026
spot_img

Sinergi Gizi dan Pendidikan: Kolaborasi G7KAIH–Gayatri sebagai Langkah Preventif Cegah Stunting di Bojonegoro

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Timur sekaligus Bunda PAUD Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak dalam pembukaan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dan Program Sarapan Telur Gayatri di Lapangan Desa Nglumber, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, Kamis (18/6).

Pemkab Bojongero. Bhirawa.
Upaya pencegahan stunting di Jawa Timur mendapat dorongan praktis melalui kolaborasi inovatif antara program pendidikan karakter dan program gizi lokal di Kabupaten Bojonegoro.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Timur sekaligus Bunda PAUD Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak, memuji integrasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) dengan Program Gayatri (Gerakan Ayam Petelur Mandiri) sebagai langkah strategis yang menggabungkan pemenuhan gizi dengan pembentukan perilaku sehat sejak dini.

Apresiasi itu disampaikan saat pembukaan kegiatan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dan Program Sarapan Telur Gayatri di Lapangan Desa Nglumber, Kecamatan Kepohbaru, yang dihadiri sekitar 1.950 peserta, terdiri atas 850 siswa TK dan 1.100 anak PAUD. Acara ini dilakukan di di Lapangan Desa Nglumber, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, Kamis (18/6).

Menurut Arumi, kolaborasi kedua program tersebut merupakan contoh nyata pembangunan sumber daya manusia yang tidak hanya berfokus pada aspek pendidikan, tetapi juga pemenuhan gizi dan pembentukan karakter anak.

“Sering kali kita berbicara tentang anak yang cerdas. Namun kecerdasan yang sesungguhnya lahir dari tubuh yang sehat, pikiran yang kuat, dan karakter yang baik.” ujar Arumi.

Berita Terkait :  Bangun Desa Berbasis Data, Tambakboyo Siapkan Tiga Desa Ikuti Program Desa Cantik 2026

Integrasi G7KAIH dan Gayatri dirancang untuk menjangkau dua lensa penting dalam pencegahan stunting: perilaku hidup sehat dan ketersediaan makanan bergizi. G7KAIH menanamkan kebiasaan rutin seperti bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur cepat, kebiasaan sederhana yang menjadi pondasi gaya hidup sehat.

Sementara itu, Program Gayatri meningkatkan akses telur sebagai sumber protein terjangkau yang dapat menjadi komponen harian dalam asupan gizi anak.

Arumi menjelaskan, Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat menanamkan kebiasaan bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur cepat. Menurutnya, kebiasaan-kebiasaan sederhana tersebut merupakan pondasi penting dalam pembentukan karakter anak.

Ia mencontohkan kebiasaan gemar belajar tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan membaca, tetapi juga dapat dilakukan melalui aktivitas literasi lain seperti melukis, menggambar, berimajinasi, hingga berani bermimpi dan mewujudkan cita-cita.

“Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten akan membentuk karakter besar. Anak-anak belajar disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki nilai-nilai positif yang akan menjadi bekal mereka di masa depan.” katanya.

Pakar kesehatan masyarakat menekankan bahwa pendekatan multisektoral adalah kunci untuk menurunkan angka stunting. Dalam hal ini, keterlibatan keluarga, sekolah, dan pemerintah menjadi vital agar intervensi gizi berjalan berkelanjutan dan berdampak. Arumi menegaskan pentingnya kolaborasi tersebut dalam sesi podcast bersama Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro dr. Hj. Cantika Wahono dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro Drs. Moch. Anwar.

Berita Terkait :  Kisah Perjuangan dan Penghormatan yang Tak Terlupakan, Gubernur Jatim Gelar Syukuran Anugerah Gelar Pahlawan Nasional bagi Marsinah

Dalam sesi podcast bersama Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro dr. Hj. Cantika Wahono dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro Drs. Moch. Anwar, Arumi menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.
Menurutnya, keberhasilan pembentukan karakter anak membutuhkan kolaborasi erat antara keluarga, sekolah, dan pemerintah.

“Tidak bisa dilakukan sendiri. Sekolah berfungsi menebalkan nilai-nilai yang telah diajarkan di rumah. Karena itu komunikasi antara orang tua dan sekolah menjadi sangat penting agar pembiasaan yang diterapkan kepada anak berjalan selaras.” jelasnya.

Arumi juga mengingatkan tantangan modern yang mengancam pola tumbuh kembang anak: peningkatan penggunaan gadget pada usia dini. Ia menekankan perlunya pengawasan ketat agar gadget tidak mengganggu aktivitas fisik, pola tidur, dan interaksi sosial anak yang berdampak pada perkembangan kognitif dan gizi.

Arumi menyebut salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah meningkatnya penggunaan gadget pada anak usia dini. Ia mengingatkan bahwa gadget memiliki potensi adiksi bagi semua kelompok usia sehingga penggunaannya harus mendapat pengawasan yang ketat dari orang tua.

“Untuk anak usia dini, penggunaan gadget 0 jam perhari hampir tidak diperkenankan untuk diberikan gadget. Apabila diberikanpun sangat dibatasi dan harus berada dalam pengawasan orang tua dengan durasi yang terkontrol.” tegasnya.

Lebih jauh, Arumi mengajak orang tua memanfaatkan Program Gayatri untuk membiasakan konsumsi telur sebagai sumber protein harian yang mudah diperoleh dan terjangkau, yang turut mendukung upaya pencegahan stunting. Ia menegaskan bahwa asupan satu butir telur setiap hari dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi dasar anak.

Berita Terkait :  Puasa Berkualitas, Puasa Naik Kelas

Sementara itu, melalui Program Gayatri, Arumi juga mengajak orang tua untuk membiasakan konsumsi telur sebagai sumber protein yang mudah diperoleh dan terjangkau. Menurutnya, satu butir telur setiap hari dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi dasar anak sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting.

“Ketika anak-anak tumbuh sehat, cerdas, dan berkarakter, sesungguhnya kita sedang membangun masa depan Jawa Timur yang lebih maju, berdaya saing, dan sejahtera.” pungkasnya.

Model kolaborasi seperti yang diterapkan di Bojonegoro menawarkan kerangka yang dapat direplikasi oleh daerah lain dengan penyesuaian budaya lokal dan kapasitas komunitas. Kunci keberhasilan tetap pada keberlanjutan program dan sinergi nyata antara keluarga, institusi pendidikan, dan kebijakan pemerintah daerah untuk menjaga agar kebiasaan sehat dan ketersediaan gizi menjadi bagian rutinitas anak sejak usia paling dini. [aya,bas.hel].

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!