Oleh:
Ananda Dias Priyadi
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya
Bagi banyak anak muda, rencana perjalanan sering bermula dari sebuah unggahan di media sosial. Video pendek tentang pantai yang tenang, panorama pegunungan, makanan khas, atau suasana kota dapat memunculkan keinginan untuk segera berkunjung. Gen Z terbiasa mencari inspirasi, membandingkan pilihan, membaca ulasan, dan menentukan destinasi melalui telepon genggam. Karena itu, komunikasi pariwisata mempunyai peran yang semakin penting dalam membentuk pengetahuan dan keputusan perjalanan mereka.
Komunikasi pariwisata tidak cukup hanya menghadirkan foto yang indah atau konten yang sedang populer. Pesan mengenai suatu tempat wisata perlu menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Apabila promosi hanya menampilkan sisi terbaik tanpa informasi pendukung, calon wisatawan dapat memiliki harapan yang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Akibatnya, mereka bisa merasa kecewa, mengalami kesulitan selama perjalanan, atau bahkan melakukan tindakan yang merugikan lingkungan dan masyarakat setempat.
Gen Z menjadi kelompok yang sangat potensial dalam perkembangan pariwisata Indonesia. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020, jumlah Gen Z mencapai sekitar 27,94 persen dari keseluruhan penduduk Indonesia. Dalam pendataan tersebut, Gen Z merujuk pada penduduk yang lahir pada 1997 sampai 2012. Besarnya jumlah ini menunjukkan bahwa Gen Z bukan hanya penting sebagai calon wisatawan, tetapi juga sebagai pembuat konten, pelaku usaha, pekerja kreatif, serta pihak yang dapat memperkenalkan destinasi kepada masyarakat luas.
Kebiasaan digital Gen Z membuat cara penyampaian informasi pariwisata perlu mengikuti perkembangan media. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia tahun 2024 mencatat sekitar 221,56 juta pengguna internet di Indonesia dengan tingkat penetrasi 79,5 persen. Data tersebut memperlihatkan bahwa internet telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, termasuk ketika seseorang mencari harga tiket, lokasi, moda transportasi, fasilitas, ulasan pengunjung, serta rekomendasi tempat wisata.
Secara sederhana, komunikasi pariwisata merupakan kegiatan menyampaikan informasi, pengalaman, dan nilai yang berkaitan dengan destinasi wisata. Pihak yang terlibat mencakup pemerintah, pengelola destinasi, pelaku usaha, media massa, pembuat konten, wisatawan, dan masyarakat lokal. Tujuannya bukan semata-mata meningkatkan kunjungan, melainkan juga membangun pemahaman mengenai budaya, keamanan, aturan, fasilitas, dan tanggung jawab wisatawan selama berada di suatu daerah.
Informasi yang ditujukan kepada Gen Z sebaiknya ringkas, jelas, dan mudah ditemukan. Calon pengunjung perlu mengetahui harga tiket, jam buka, akses kendaraan, kondisi jalan, lokasi parkir, fasilitas umum, aturan berpakaian, perkiraan cuaca, serta larangan yang berlaku. Informasi semacam ini membantu wisatawan menyusun rencana secara realistis. Selain itu, penjelasan yang lengkap dapat mengurangi kesalahpahaman dan meningkatkan rasa aman ketika mereka tiba di lokasi.
Bentuk pesan juga harus menyesuaikan kebiasaan Gen Z yang lebih dekat dengan konten visual. Video singkat, foto, infografik, peta digital, dan ulasan dari pengunjung dapat menjadi sarana yang efektif untuk mengenalkan destinasi. Namun, tampilan menarik tetap harus disertai keterangan yang benar. Pengelola sebaiknya turut menjelaskan tingkat kesulitan perjalanan, kapasitas tempat, risiko keselamatan, kebutuhan perlengkapan, dan aturan khusus yang perlu diperhatikan wisatawan.
Kejujuran merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari komunikasi pariwisata. Promosi yang terlalu berlebihan mungkin dapat menarik perhatian dalam waktu singkat, tetapi berisiko mengurangi kepercayaan ketika kondisi nyata berbeda dari konten. Sebaliknya, penyampaian yang terbuka mengenai kelebihan dan keterbatasan destinasi akan menciptakan harapan yang lebih wajar. Cerita tentang sejarah, tradisi, kehidupan warga, dan produk lokal juga dapat memberikan pengalaman yang lebih bermakna daripada sekadar menampilkan tempat untuk berfoto.
Masyarakat lokal perlu ditempatkan sebagai bagian utama dalam komunikasi pariwisata. Mereka memahami karakter wilayah, adat, kebiasaan, serta kebutuhan daerahnya. Keterlibatan warga dapat membuat informasi yang disampaikan lebih autentik sekaligus membuka peluang ekonomi. Gen Z sebagai wisatawan juga dapat diarahkan untuk membeli produk lokal, menggunakan jasa masyarakat setempat, menghormati aturan adat, dan menjaga sikap selama berkunjung.
Komunikasi pariwisata berlangsung pada tiga tahap, yaitu sebelum, selama, dan setelah perjalanan. Sebelum berangkat, wisatawan membutuhkan bahan pertimbangan untuk memilih destinasi dan mempersiapkan kebutuhan. Saat berada di lokasi, mereka memerlukan petunjuk arah, informasi fasilitas, nomor darurat, serta panduan keselamatan. Setelah perjalanan berakhir, pengalaman mereka biasanya dibagikan melalui ulasan atau media sosial. Unggahan tersebut kemudian dapat memengaruhi keputusan calon pengunjung berikutnya.
Kementerian Pariwisata pada 2025 menempatkan Gen Z dan generasi milenial sebagai salah satu penggerak pertumbuhan pariwisata global. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku pariwisata perlu memahami cara berkomunikasi dengan generasi muda. Pendekatan yang digunakan sebaiknya tidak hanya mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga memperhatikan kualitas pengalaman, kenyamanan, keselamatan, dan dampak kegiatan wisata terhadap daerah tujuan.
Aktivitas perjalanan yang terus meningkat juga menuntut tersedianya informasi yang cepat dan dapat dipercaya. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada Desember 2025 terdapat sekitar 105,98 juta perjalanan wisatawan nusantara dan 1,41 juta kunjungan wisatawan mancanegara. Banyaknya pergerakan wisatawan tersebut menunjukkan bahwa kualitas komunikasi sangat berpengaruh terhadap kelancaran perjalanan, pengelolaan keramaian, perlindungan wisatawan, serta kesiapan destinasi dalam menerima pengunjung.
Selain bersifat promosi, pesan pariwisata perlu mendidik Gen Z agar menjadi wisatawan yang bertanggung jawab. Konten dapat memuat ajakan untuk membuang sampah pada tempatnya, tidak merusak fasilitas, menjaga ketenangan, mematuhi batas aman, menghormati adat, dan tidak melakukan tindakan berbahaya hanya demi memperoleh konten. Pesan mengenai keberlanjutan akan lebih mudah diterima apabila disampaikan dengan bahasa sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan anak muda.
Gen Z juga memiliki peran sebagai penyebar sekaligus pengawas informasi. Mereka dapat menyampaikan pengalaman, memberikan ulasan, atau melaporkan fasilitas rusak, pungutan tidak resmi, pelayanan buruk, serta persoalan lingkungan melalui saluran yang tepat. Namun, kebebasan membagikan informasi harus disertai tanggung jawab untuk memeriksa kebenarannya. Informasi yang keliru dapat merugikan pengelola, masyarakat lokal, dan calon wisatawan.
Dengan demikian, pentingnya komunikasi pariwisata bagi Gen Z tidak sebatas pada penggunaan media sosial atau penciptaan konten yang viral. Komunikasi tersebut berfungsi menghubungkan wisatawan dengan pemerintah, pengelola, pelaku usaha, dan masyarakat lokal. Pesan yang efektif harus menarik, mudah dipahami, akurat, jujur, serta memperhatikan keselamatan, budaya, dan kelestarian lingkungan.
Ketika komunikasi pariwisata dikelola dengan baik, Gen Z dapat berkembang dari sekadar penonton menjadi pihak yang ikut menjaga dan memajukan pariwisata. Mereka dapat memperkenalkan kekayaan daerah, mendukung usaha masyarakat, menyebarkan informasi yang benar, dan mendorong perilaku wisata yang lebih bertanggung jawab. Oleh sebab itu, masa depan pariwisata tidak hanya bergantung pada keindahan suatu destinasi, tetapi juga pada mutu komunikasi yang dibangun bersama. [*]
(Artikel ini merupakan tugas Mata Kuliah Komunikasi Pariwisata dengan Dosen Pengampu Mata Kuliah Drs Widiyatmo Ekoputro,M.A).


