31.8 C
Sidoarjo
Monday, May 18, 2026
spot_img

Integrasikan Pengelolaan Limbah dan Energi Bersih, Pakar Lintas Negara Bangun Ekosistem Sirkular di Kampung Kawak Maspati


Surabaya, Bhirawa
Menghadapi kompleksitas tata kelola lingkungan perkotaan, penanganan masalah sanitasi dan energi tidak lagi bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan solusi integratif dari hulu ke hilir. Merespons tantangan tersebut, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya berkolaborasi dengan Kasetsart University, Thailand, merumuskan peta jalan ekosistem kota berkelanjutan langsung di tengah masyarakat Kampung Kawak Maspati, RW 5, Kelurahan Bubutan, Surabaya, pada Senin (18/5/2026). Melalui program International Joint Community Service, kolaborasi ini mengusung misi menyeluruh bertajuk “Pendampingan Sirkularitas Ekosistem Kota: Pemanfaatan Biokonversi BSF dan Manajemen Air Lahan Basah untuk Mendukung Sistem Urban Farming”.

Pendekatan holistik dalam program ini terlihat dari formasi tim akademisi lintas disiplin yang diturunkan, yang tidak hanya berfokus pada pengolahan limbah tetapi juga pada kedaulatan energi ramah lingkungan. Anggota tim pakar Untag Surabaya, Ir. Aris Heri Andriawan, S.T., M.T., menegaskan pentingnya perluasan cakupan program ke arah pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung ekosistem kampung.

“Kita harus mulai mengurangi polusi, salah satunya dengan pemanfaatan energi bersih yaitu energi surya. Dengan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), kita bisa mengurangi konsumsi listrik konvensional dan lebih memanfaatkan energi yang ramah lingkungan. Tentunya ini akan melengkapi program sirkularitas yang sudah berjalan di Kampung Kawak ini,” papar Ir. Aris Heri Andriawan saat menjelaskan integrasi teknologi di lapangan.

Berita Terkait :  Polres Ponorogo Bongkar Sindikat Tersangka Pengedar Narkoba, Amankan 55 Gram Sabu

Pandangan mengenai energi bersih tersebut menjadi pelengkap linier bagi sistem pengolahan limbah perkotaan yang disiapkan oleh narasumber utama Untag Surabaya, Dr. Made Kastiawan, S.T., M.T. Dalam sesi pemaparannya, Dr. Made mendobrak paradigma lama tentang alur pembuangan limbah komunal dengan menegaskan bahwa beban ekologis kota dapat ditekan secara drastis apabila sirkularitas terwujud di tingkat rukun warga.

“Strategi pengolahan sampah di kampung seharusnya selesai di TPS, tidak perlu sampai ke TPA. Jadi, kampung-kampung di Surabaya harus mampu mengubah sampah tersebut menjadi produk-produk yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan bahkan dapat menambah pendapatan kampung. Selain maggot, masyarakat dapat mengolahnya menjadi kompos yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan urban farming,” urai Dr. Made Kastiawan.

Guna mewujudkan ekosistem terpadu tersebut, perwakilan Kasetsart University, Asst. Prof. Samonporn Sutibak, Ph.D. dan Asst. Prof. Dr. Rathanit Sukhanapirat, turut memberikan wawasan global mengenai model daur ulang berbasis kemitraan triple-helix. Menurut kedua pakar dari Thailand tersebut, sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat sangat vital dalam mengubah limbah organik dan sisa dapur menjadi sumber daya baru melalui teknologi biokonversi maggot (Black Soldier Fly).

Kendati teknologi pengolahan limbah dan rencana transisi energi telah disiapkan, tim ahli mengingatkan bahwa jantung dari keberhasilan perubahan ekosistem ini adalah kesadaran komunal dari tingkat paling dasar. “Namun demikian, keberhasilan pengolahan sampah dimulai dari hulunya, yaitu rumah tangga. Kesadaran memilah sampah di tingkat rumah tangga menjadi faktor kunci yang diperhitungkan,” tegas Dr. Made Kastiawan menambahkan.

Berita Terkait :  Cegah Kecurangan SPMB, DPR RI Dorong Pemantauan Berkala

Sebagai bentuk intervensi fisik yang mengikat teori-teori tersebut, Untag Surabaya langsung menghibahkan infrastruktur pendukung berupa dua unit rumah budidaya maggot dan seperangkat alat press plastik kepada warga RW 5 Kampung Kawak Maspati. Fasilitas ini diserahkan melalui pendampingan langsung oleh jajaran pakar lintas ilmu, termasuk Dr. Jaka Purnama, S.T., M.T., Prof. Dr. Erni Pupanantasari P., Ph.D., Dr. M. Roisul Basyar, S.AP., M.KP., Dr. Tomy Michael, S.H., M.H., Dr. Ernyata Herlin Setyorini, S.H., M.H., Prof. Dr. Slamet Suhartono, S.H., M.H., Dr. Ditan Evita Santi, S.Psi., M.Psi., dan Yusrida Muslihah, S.Kom., M.Kom.

Pembangunan ekosistem hijau yang memadukan pengelolaan limbah dan energi bersih ini merupakan bagian dari cetak biru pengabdian kampus yang lebih luas. Ketua LPPM Untag Surabaya, Prof. Dr. Slamet Riyadi, M.Si., Ak., CA., CTA., menjabarkan bahwa kegiatan strategis di RW 5 Maspati ini bernaung di bawah payung besar pembinaan wilayah yang terstruktur.

“Untag Surabaya berperan aktif dan selalu siap berkontribusi dalam pengelolaan kota Surabaya. Untag Surabaya telah melakukan berbagai macam pendampingan pada masyarakat Kota Surabaya, mulai dari Pendampingan Kampung Proklim, pendampingan SOTH dan Kemangi, dan yang terbaru ini adalah pendampingan Kampung Pancasila. Kegiatan di Kampung Kawak, Maspati ini merupakan lanjutan dari kegiatan pendampingan Kampung Pancasila,” urai Prof. Slamet.

Untuk memastikan seluruh instrumen lingkungan hidup—mulai dari rumah maggot, instalasi pertanian kota, hingga rencana pengembangan energi surya—dapat beroperasi secara berkesinambungan, Untag Surabaya menempatkan agen penggerak di lokasi. “Untag Surabaya juga telah menerjunkan 27 mahasiswa di Kelurahan Bubutan untuk pendampingan Kampung Pancasila dari 329 mahasiswa yang diterjunkan di Surabaya,” ungkap Prof. Slamet mengakhiri penjelasannya. Melalui perpaduan manajemen limbah, transisi energi bersih, dan pendampingan masif, Kampung Kawak Maspati kini diproyeksikan menjadi purwarupa terlengkap bagi kawasan hunian perkotaan yang sirkular dan berkelanjutan. [why]

Berita Terkait :  Bupati Yuhronur Efendi Buka 'Lamongan Museum Expo 2025'

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!