Surabaya, Bhirawa. – Yayasan Batik Indonesia (YBI) bersama Komite Hari Batik Nasional 2026 akan menghadirkan rangkaian perayaan Hari Batik Nasional (HBN) 2026 di Surabaya, Jawa Timur, pada 30 September hingga 4 Oktober 2026 di Grand Atrium dan Corridor Plaza Tunjungan 3, Surabaya.
Mengusung semangat membawa batik semakin dekat dengan generasi muda, HBN 2026 tidak hanya mengajak masyarakat untuk mengenal dan mengenakan batik, tetapi juga menghadirkan batik sebagai sebuah pengalaman budaya yang dapat dilihat, dipelajari, dinikmati, dan dialami bersama.
Bahkan Surabaya ditetapkan sebagai tuan rumah HBN 2026 sebagai langkah awal menuju konsep perayaan Hari Batik Nasional yang dapat diselenggarakan secara bergilir di berbagai provinsi di Indonesia.
Ketua Panitia HBN 2026, Wirasno berharap penyelenggaraan di Surabaya ini dapat memperluas jangkauan promosi batik, memperkenalkan kekayaan wastra daerah, serta memperkuat semangat “Bangga Berbatik” di seluruh Indonesia.
“Pameran akan menghadirkan karya para perajin, khususnya dari Jawa Timur, sebagai ruang apresiasi sekaligus sarana untuk meningkatkan eksposur dan memperluas akses pasar bagi para pelaku batik,” terangnya, Rabu (16/9).
Namun, pengalaman batik di HBN 2026 tidak berhenti pada karya yang dipamerkan. “Pameran akan menghadirkan pendekatan yang lebih interaktif dengan memadukan teknologi dan kreativitas, antara lain melalui panggung interaktif berbasis teknologi LED dan LED floor yang menghadirkan kekayaan visual batik dalam pengalaman ruang yang dinamis dan imersif,” jelasnya.
“Batik Berlayar”: Sebuah Pengalaman Budaya di Sungai Kalimas
“Batik Berlayar dirancang bukan sekadar sebagai parade budaya, melainkan sebagai sebuah pengalaman budaya,” tuturnya.
Sepanjang perjalanan dari Taman Prestasi menuju Monkasel, para tamu akan menikmati suasana Sungai Kalimas yang dihidupkan melalui berbagai pertunjukan seni, musik, perkusi, tari, serta permainan cahaya.
Dengan demikian, perjalanan menyusuri Kalimas tidak hanya menjadi perpindahan dari satu titik ke titik lainnya, tetapi menjadi bagian dari pengalaman budaya itu sendiri.
Dengan mengangkat tema “Batik Jawa Timur”, dekorasi perahu akan merepresentasikan keberagaman motif, warna, serta filosofi batik yang menjadi ciri khas berbagai daerah di Jawa Timur.
“Berbagai kesenian khas Jawa Timur juga akan hadir di sejumlahtitik sepanjang rute. Mulai dari pertunjukan perkusi SMA TarunaNala Malang di titik keberangkatan, Tari Remo di DermagaTaman Prestasi, Musik Kolintang di Dermaga Laksamana,Hadrah di Taman Bank Jatim, hingga Musik Perkusi di area Patung Sura dan Baya & Skate Park,” papar Wirasno.
Setibanya di Monumen Kapal Selam, para tamu akan disambut dengan kesenian Reog Ponorogo. Kawasan Monkasel juga akan menghadirkan Festival Kuliner dan Bazaar UMKM, yang menampilkan kuliner khas Jawa Timur serta produk kreatif lokal.
Batik Berlayar dengan demikian menjadi ruang pertemuan antara batik, seni pertunjukan, musik, ekonomi kreatif, UMKM, pariwisata, komunitas, dan masyarakat.
Membawa Batik Lebih Dekat kepada Generasi Muda
HBN 2026 dirancang dengan pendekatan yang mengajak generasi muda untuk tidak hanya mengenakan batik, tetapi juga mengenal, mengalami, mencintai, dan ikut mengembangkan batik Indonesia.
Di Plaza Tunjungan 3, batik dialami melalui teknologi dan kreativitas.
Di Sungai Kalimas, batik dialami melalui perjalanan, seni, musik, cahaya, dan ruang publik.
“Perpaduan antara tradisi dan pendekatan kontemporer tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan batik tetap relevan dengan perkembangan zaman, sekaligus memperkuat apresiasi terhadap batik sebagai identitas budaya Indonesia,” ujar Ketua Umum YBI, Gita Pratama.
Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan misi YBI untuk menjaga batik sebagai warisan budaya bangsa melalui upaya pelestarian dan pengembangan di bidang sosial, budaya dan ekonomi.
Mengangkat Kekayaan Batik Tulungagung
HBN 2026 secara khusus mengangkat Batik Tulungagung sebagai salah satu fokus perayaan. Kabupaten Tulungagung memiliki beragam motif batik khas, antara lain Batik Lurik Bhumi Ngrowo, Batik Gajah Modo, Batik Bangoan, Batik Majanan, dan Batik Kalangbret.
“Pengangkatan Batik Tulungagung menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan wastra daerah sekaligus memperluas apresiasi masyarakat terhadap keberagaman motif, filosofi, dan kreativitas batik di Jawa Timur,” kata Dirjen IKMA, Reni Yanita.
Melalui HBN 2026, batik juga ditempatkan sebagai bagian dari gaya hidup, kreativitas, pariwisata, serta industri dan ekonomi kreatif yang terus berkembang.
Sementara itu, beragam program edukatif, kreatif, dan hiburan juga akan mengisi pameran, mulai dari fashion show, Reels Competition, workshop digital UMKM berbasis teknologi AI, pertunjukan musik dan seni, kegiatan kreatif untuk anak-anak, hingga berbagai program yang mempertemukan batik dengan dunia industri dan ekonomi kreatif.
Rangkaian talkshow juga dirancang untuk membuka percakapan mengenai batik dalam konteks masa kini dan masa depan.
Sejumlah topik yang diangkat antara lain, “Batik Beyond Tradition: Digital dalam Inovasi, Berkelanjutan dan Bertahan dalam Tradisi”, serta “Threads of Identity: Ketika Batik Menjadi Bahasa Generasi.”, dan berbagai topik lainnya yang akan membahas mengenai teknologi, pengembangan pasar, fashion, wastra, serta peluang bisnis berbasis batik.
Melalui pendekatan tersebut, HBN 2026 ingin menunjukkan bahwa batik memiliki akar tradisi yang kuat, sekaligus dapat hadir dalam bentuk yang kreatif, modern, dan relevan dengan generasi masa kini. [riq.hel]


