29 C
Sidoarjo
Wednesday, September 16, 2026
spot_img

Dukung Swasembada Daging, SIRAPI Jadi Andalan Digitalisasi Reproduksi Sapi di Tuban


Tuban, Bhirawa – Mengelola peternakan hewan sapi bukan hanya soal menyediakan pakan dan menjaga kesehatan ternak. Memastikan sapi mendapatkan penanganan reproduksi tepat waktu juga menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas.

Namun, mengingat kapan sapi harus menjalani pemeriksaan kebuntingan atau kapan siklus birahi berikutnya tiba tidak selalu mudah.

Catatan di kertas yang rawan hilang maupun sekadar mengandalkan ingatan dapat membuat jadwal penanganan terlewat. Jika tidak segera ditindaklanjuti, kondisi tersebut berpotensi menghambat reproduksi dan menurunkan produktivitas ternak.

Menjawab tantangan tersebut, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP2P) Kabupaten Tuban menghadirkan SIRAPI (Sistem Informasi Reproduksi Sapi). Inovasi berbasis teknologi ini dirancang untuk membantu peternak dan petugas kesehatan hewan mengelola informasi reproduksi sapi secara lebih praktis, teratur, dan tepat waktu.

Kepala DKP2P Kabupaten Tuban, Eko Julianto, S.STP., MM., menjelaskan SIRAPI menjadi salah satu langkah digitalisasi pelayanan kesehatan hewan, khususnya dalam mendukung manajemen reproduksi sapi.

SIRAPI merupakan sistem digital yang mengintegrasikan pencatatan reproduksi sapi, pemantauan kebuntingan, kelahiran, gangguan reproduksi, serta dilengkapi fitur early warning system untuk mendeteksi dini waktu birahi, keterlambatan kawin, maupun potensi kegagalan reproduksi (majir).

Melalui sistem ini, petugas dapat melakukan pendampingan secara lebih tepat sasaran sehingga efisiensi reproduksi sapi meningkat.

“Melalui SIRAPI, data reproduksi sapi dapat dikelola secara lebih terstruktur. Peternak dan petugas dapat mengetahui jadwal penting reproduksi ternak sehingga penanganan bisa dilakukan lebih tepat waktu,” jelasnya.

Berita Terkait :  RKPD Kota Malang 2027, Wali Kota Perkuat Fondasi Infrastruktur dan Lingkungan

Jadwal Reproduksi Lebih Mudah Dipantau
SIRAPI dikembangkan sebagai aplikasi berbasis web yang ramah pengguna. Peternak dimudahkan karena dapat mengaksesnya melalui peramban pada ponsel pintar tanpa perlu mengunduh aplikasi tambahan.

Pengguna cukup memasukkan data dasar sapi, mulai dari identitas dan umur ternak hingga riwayat inseminasi buatan serta penanganan kesehatan.

Berdasarkan data tersebut, sistem akan membantu menghitung perkiraan jadwal penting dalam siklus reproduksi sapi.

Salah satu fitur unggulan SIRAPI adalah pengingat otomatis. Fitur ini membantu memberikan notifikasi ketika tiba waktu pemeriksaan kebuntingan maupun deteksi birahi ulang.

Dengan adanya pengingat tersebut, peternak dan petugas kesehatan hewan memiliki acuan untuk melakukan tindak lanjut sesuai jadwal. Langkah ini penting untuk mengurangi risiko keterlambatan penanganan reproduksi yang dapat menyebabkan sapi mengalami masa tidak produktif berkepanjangan.

“Teknologi ini kami arahkan agar benar-benar memberi manfaat bagi peternak. Bukan sekadar menghadirkan aplikasi, tetapi bagaimana data yang dimasukkan dapat membantu pelayanan kesehatan hewan menjadi lebih efektif,” ungkap Eko.

Hadirnya SIRAPI akan membawa dampak pada stakeholder di bidang peternakan. Bagi peternak, pemanfaatan SIRAPI akan mengefisiensikan biaya operasional mulai dari pakan hingga biaya perawatan. Sehingga sapi peternak semakin produktif.

Selain itu, meminimalkan kematian sapi
Bagi petugas kesehatan hewan maupun dokter hewan, ketersediaan riwayat ternak yang lebih terstruktur juga membantu proses pemantauan dan penanganan.

Berita Terkait :  Perkuat Azas Meritokrasi, Pemkot Malang Terapkan Manajemen Talenta ASN

Informasi mengenai riwayat inseminasi, pemeriksaan, dan kesehatan sapi dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah pelayanan berikutnya.

Keberadaan SIRAPI memiliki peran krusial bagi Pemkab Tuban dalam meningkatkan populasi sapi potong yang mengalami tren penurunan cukup signifikan dalam 5 tahun terakhir.

Tidak hanya itu, sekaligus mendukung program makan bergizi gratis dari sisi ketersediaan daging merah.

Lebih dari sekadar sistem pencatatan, SIRAPI menjadi gambaran bagaimana inovasi teknologi dapat diterapkan pada kebutuhan yang dekat dengan keseharian masyarakat. Peternak tidak lagi harus sepenuhnya bergantung pada catatan manual atau ingatan untuk memantau jadwal reproduksi ternaknya.

Eko menegaskan DKP2P Kabupaten Tuban akan terus mendorong pemanfaatan teknologi yang mampu meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus mendukung produktivitas peternakan.

“Harapannya, inovasi seperti SIRAPI dapat semakin memudahkan peternak, memperkuat pelayanan kesehatan hewan, dan pada akhirnya memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan peternak di Kabupaten Tuban,” pungkasnya. [hud]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!