Jombang, Bhirawa – Hasil pemeriksaan laboratorium untuk sampel makanan dan air dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mangunan, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang keluar.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jombang memastikan, udang saus padang menjadi sumber keracunan ratusan pelajar SMPN 1 Kabuh, Jombang beberapa waktu yang lalu.
Kepala Dinkes Kabupaten Jombang, Hexawan Tjahja Widada menjelaskan, hasil pemeriksaan yang keluar pada Jumat (11/9/2026) lalu itu menemukan kandungan bakteri pada sampel makanan dan air.
Kandungan bakteri paling tinggi ditemukan pada sampel udang saus padang. “Paling agak lumayan di saus padang itu. Udang saus padang itu E. coli-nya,” terang Hexawan, Selasa (15/9/2026).
Berdasarkan hasil uji lab, kandungan E. coli pada sampel udang saus padang mencapai 120 CFU per gram. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan sampel makanan lain yang diperiksa.”Ya, dari udang saus padang,” tandas dia.
Menurut Hexawan, bakteri E. coli seharusnya tidak ditemukan pada makanan yang dikonsumsi. Temuan tersebut menjadi salah satu dasar Dinkes Kabupaten Jombang menyimpulkan udang saus padang sebagai sumber keracunan.”Kalau makanan, E. coli harusnya negatif,” tutur Hexawan.
Pemeriksaan laboratorium juga menemukan bakteri pada sampel nasi dan air yang digunakan di SPPG Mangunan, Kabuh, Jombang. Pada sampel nasi ditemukan bakteri Bacillus cereus. Sementara sampel air diketahui mengandung E. coli. Sampel air yang diperiksa adalah air yang digunakan di SPPG Mangunan, termasuk air galon isi ulang. Akan tetapi, kandungan bakteri pada sampel air tersebut tidak setinggi yang ditemukan pada udang saus padang.
Dinkes Kabupaten Jombang sebelumnya mengambil sejumlah sampel dari SPPG Mangunan, Kabuh, Jombang untuk diperiksa di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya.
Sampel yang diperiksa seperti makanan yang disajikan kepada pelajar, air yang digunakan dalam proses penyediaan makanan, dan juga makanan yang masih tersimpan di lokasi.
Hasil pemeriksaan laboratorium itu juga dinilai sesuai dengan rentang waktu munculnya gejala pada para pelajar SMPN 1 Kabuh, Jombang.
Makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dikonsumsi para pelajar sekitar pukul 11.30 WIB, dan selanjutnya, sejumlah pelajar mulai mengalami keluhan seperti diare, mual, dan sakit perut sekitar pukul 17.00 WIB.
“E. coli butuh waktu tiga jam, empat jam,” kata Hexawan.
Untuk diketahui, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jombang mengevaluasi kembali Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dapur SPPG yang memasok MBG ke SMPN 1 Kabuh, Jombang.
Evaluasi dilakukan setelah 256 warga sekolah, termasuk siswa dan guru, mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan MBG. Data tersebut adalah hasil validasi Dinkes Kabupaten Jombang hingga Kamis (3/9/2026).
Kepala Dinkes Kabupaten Jombang Jombang Hexawan Tjahja Widada saat itu mengatakan, evaluasi SLHS dilakukan untuk memastikan penerapan standar higiene dan sanitasi di dapur SPPG sesuai dengan ketentuan.
“Kita lakukan evaluasi SLHS lagi, sesuai dengan aturan protapnya atau tidak, kita perbaiki lagi,” kata dia, Hexa, Kamis (3/9/2026).
Dinkes Kabupaten Jombang juga mengambil sejumlah sampel dari dapur SPPG Mangunan untuk mengetahui kemungkinan penyebab munculnya keluhan kesehatan di SMPN 1 Kabuh, Jombang.
Sampel yang diambil seperti sayuran, udang berbumbu saus padang, nasi, dan pepaya. Petugas juga mengambil sampel air yang digunakan di dapur SPPG Mangunan.
“Airnya juga. Karena kemarin ternyata mengambil air dari isi ulang tetangga sebelah,” ungkap Hexawan.
Seluruh sampel tersebut kemudian dikirim ke BLK Surabaya untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.
Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 70 pelajar di Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang diduga mengalami keracunan usai menyantap atau mengkonsumsi makanan dari program MBG pada Rabu (2/9/2026).
Dari 70 pelajar tersebut, 7 di antaranya harus menjalani rawat inap di Puskesmas Kabuh. Dokter Puskesmas Kabuh, Jombang, Dokter Aditya Bimantara menjelaskan, 70 pelajar itu mengalami gejala perut melilit.
“Perutnya melilit, hanya beberapa yang diare. Diarenya rata-rata tiga kali, tidak ada sampai lebih lima kali. Diarenya cair.Tadi dari 70 siswa, ada tujuh sampai saat ini, terdiri dari enam siswi, dan satu siswa, kita infus, kita kamarkan di Puskesmas, karena memang tidak bisa menahan nyeri perutnya. Melilit terus, dan masih diare tadi pagi,” jelasnya.
Sementara sekitar 63 pelajar lainnya kata dia, sudah dipulangkan karena hanya merasakan mual dan perut melilit. “Tapi masih bisa ditahan, masih bisa makan minum,” ujar dia.
Dokter Adit melanjutkan, meski 7 pelajar harus menjalani rawat inap, namun demikian, mereka tidak sampai dirujuk ke rumah sakit.
“Kita masih observasi, kondisinya stabil. Baik tensi maupun nadinya stabil. Dan tidak ada yang sampai istilahnya kejang-kejang. Sadar semua pasiennya,” ungkapnya.
Dokter Adit sempat menanyakan kepada para pelajar tentang makanan dari MBG, makanan apa yang rasanya tidak enak, dan kebanyakan jawabannya adalah udang.
“Saya rasa ini masih kemungkinan ya, kita masih perlu investigasi lagi untuk makanannya seperti apa,” tuturnya.
Salah seorang pelajar SMPN 1 Kabuh, Jombang yang dirawat, Theofilus menuturkan, dia merasakan mual dan pusing sejak Rabu malam (2/9/2026).
“Karena habis makan MBG. Yang bau itu udangnya. Rasanya biasa saja, tapi baunya agak gimana, kayak amis. Saya sendiri waktu itu makan lebih dari 5 biji udang. Punya teman-teman juga, jadi lebih dari lima,” kata Theofilus.
Sementara pelajar SMPN 1 Kabuh, Jombang lainnya yang juga dirawat, Elena Lukitaningsari menuturkan, dirinya mengalami mual dan pusing sejak Rabu sore (2/9/2026) setelah makan makanan MBG dengan lauk udang.
“Agak asam (rasanya). Ada kotorannya. Cuma makan satu,” tutur Elena.
Sementara itu, Kepala SPPG Mangunan Kabuh, Cakra Fikri F menjelaskan, pihaknya curiga terhadap udang pada menu MBG.
“Datangnya H-1 sebenarnya. Juknisnya datangnya harusnya H-1. Kalau masaknya sudah sesuai SOP. Tidak melebihi batas wajarnya,” ujar dia.
Lebih lanjut dia menjelaskan, menu yang disiapkan waktu itu adalah Udang Saus Padang, ditambab pepaya, sayur tumis dan tahu dengan penerima manfaat sebanyak 2.899.
Namun demikian kata dia, pihak yang melaporkan adanya indikasi keracunan hanya dari pihak SMPN 1 Kabuh, Jombang. Di SMPN 1 Kabuh, Jombang sebanyak 689 menerima program MBG. “Ini masih diusut, kenapa kok cuma SMP saja, masih kita usut dari lab (laboratorium), masih dites,” pungkas Cakra Fikri. [rif.kt]


