Oleh:
Wahyu Kuncoro
Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.
Dalam beberapa tahun terakhir, ruang publik kita, khususnya di wilayah pedesaan Jawa Timur, diramaikan oleh sebuah fenomena sosiokultural yang memekakkan telinga bernama sound horeg. Istilah horeg-yang dalam bahasa Jawa berarti bergetar-bukan lagi sekadar metafora. Ia telah menjelma menjadi realitas fisik di mana deretan pelantang suara raksasa (subwoofer) berdaya puluhan ribu watt diangkut menggunakan truk, melintasi perkampungan, dan memuntahkan dentuman bas frekuensi rendah yang mampu menggetarkan kaca rumah, merontokkan plafon, bahkan merubuhkan pembatas jembatan. Apa yang awalnya bermula sebagai pelengkap kemeriahan hajatan tradisional, kini bergeser menjadi polemik sosial yang akut.
Fenomena ini bukan sekadar urusan selera musik atau hiburan rakyat semata. Di balik getaran fisiknya, sound horeg adalah simtom dari pergeseran nilaibudaya yang mengkhawatirkan. Sebuahmetamorfosisdariekspresi komunal yang guyub menjadi komodifikasi ego modern yang nir-empati. Ini adalah bentuk patologi sosial di mana ruang publik mengalami polusi komunikasi yang akut.
Menuju Konsumerisme Destruktif
Secara historis, seni pertunjukan di ruang publik masyarakat Nusantara selalu mengedepankan prinsip harmoni dan komunikasi transaksional yang sehat. Perayaan pasca-panen, bersih desa, atau karnaval kemerdekaan awalnya adalah panggung bagi kesenian rakyat seperti reog, jaranan, orkes kampung, atau musik patrol. Di sana, esensi kebudayaan hadir sebagai media perekat sosial (social glue). Musik tradisional didesain sebagai instrumen komunikasi budaya yang inklusif, merangkul semua lapisan, dan menghargai batas kenyamanan auditori manusia. Ada negosiasi ruang yang arif antara komunikator (penghibur) dan komunikan (khalayak). Namun, kehadiran sound horeg menginterupsi keluhuran tradisi tersebut secara agresif. Kebudayaan lokal yang sarat makna estetis dan filosofis perlahan dipinggirkan oleh kebisingan mekanis.
Jika ditelisik melalui kacamata Teori Ekologi Media dari Marshall McLuhan, teknologi bukan sekadar alat netral, melainkan lingkungan simbolis baru yang membentuk cara manusia berpikir dan berperilaku. Ketika pelantang suara raksasa beralih fungsi dari penunjang estetika audio menjadi fokus utama pertunjukan itu sendiri, adagium terkenal McLuhan berlakusepenuhnyathe medium is the message (medium adalah pesan). Di ekosistem sound horeg, isi lagu atau nilai tradisinyamenjadinomor dua, yang menjadi pesan utama adalah unjuk dominasi teknologi dan intensitas getaran mekanis yang menguasai panca indera manusia secara total.
Di titikinilahterjadikemerosotan budaya (cultural decadence). Budaya tradisi yang merefleksikan kehalusan budi, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama, terdistorsi menjadi budaya populer modern yang berciri pamer kekuasaan (show of force) dan individualisme kelompok. Ruang publik yang dulunya milik bersama, kini dijajah oleh ego sektoral pemilik modal sound system dan kelompok pemuda yang mendaku sebagai penikmat kelantangan suara. Komunikasi budaya yang harmonis bertukar rupa menjadi monolog bising yang destruktif.
Pendidikan dan Logika yang Lumpuh
Jika kita membedah fenomena ini lebih dalam, eksistensi dan penerimaan luas terhadap sound horeg mencerminkan potret buram tingkat pendidikan dan literasi sosial masyarakat kita. Pendidikan di sini tentu tidak boleh disempitkan hanya sebatas kepemilikan ijazah formal, melainkan tingkat kesadaran kritis, nalar publik (public reason), dan kecerdasan emosional-sosial.
Sangat ironisketika di era informasi ini, tindakan destruktif terhadap fasilitas umum-seperti membongkar pagar jembatan atau memotong dahan pohon demi memberi jalan bagi truk pembawa sound system-dianggap sebagai tindakan yang lumrah, bahkan heroik, atas nama seni.
Logika publik seolah mengalami kelumpuhan kolektif. Hak warga negara untuk mendapatkan ketenangan di ruang privatnya, hak bayi untuk tidur tanpa trauma suara, dan hak kelompok rentan (orang sakit dan lansia) yang membutuhkan keheningan, dengan mudahnya digilas oleh argumen klise bahwa acara ini hanya terjadi sekali dalam setahun.
Bila dianalisisdengankonsep Ruang Publik dari Jürgen Habermas, sound horeg telah mendistorsi secara brutal ruang publik kita yang seharusnya menjadi wadah terjadinya dialog inklusif warga secara setara, emansipatoris, dan bebas dari intimidasi.
Sound horegmenjelmamenjadibentuk tindakan kekerasan komunikatif (communicative violence). Kebisingan ekstrem yang dihadirkannya mengokupasi ruang fisik sekaligus membungkam hak warga lain untuk bercakap-cakap atau menikmati ketenteraman sosial.
Ketika masyarakatlebihmembelagetaran subwoofer ketimbang ketenteraman tetangganya yang sedang sakit, kita tahu ada yang keropos dalam bangunan moralitas dan rasionalitas sosial kita. Sound horeg akhirnya menjadi tontonan yang tidak mendidik, sebuah pertunjukan modernitas yang banal karena mengagungkan teknologi audio tanpa dibarengidengankedewasaanberpikir.
Modernitas Semu dan Nihilisme Estetika
Sound horeg sering kali diklaim oleh para sirkel penggemarnya sebagai bentuk adaptasi modern terhadap hiburan rakyat. Namun, dalam kacamata teori kritis, ini adalah bentuk modernitas semu (pseudo-modernity). Modernitas yang diadopsi hanyalah aspek instrumentalnya-yaitu teknologi pengeras suara yang semakin canggih dan mahal-namun mengabaikan substansi nilai modernitas seperti rasionalitas, penegakan hukum, humanisme, dan penghormatan terhadap ruang privat.
Hal ini linier dengananalisis Industri Budaya dari Theodor Adorno dan Max Horkheimer. Mereka berpendapat bahwa dalam masyarakat kapitalistik, ekspresi budaya massa kerap kali dimanipulasi, distandarisasi, dan diproduksi secara massal hanya untuk mengejar komodifikasi dan pemuasan sensasi instan. Musik tidak lagi dinikmati keindahan melodinya untuk merangsang kognisi atau emosi yang positif, melainkan diukur secara kuantitatif dari intensitas desibelnya demi memuaskan pasar konsumen tertentu.
Dampaknya, komunitas pemuda terjebak dalam kompetisi absurd untuk membentuk identitas kelompok yang dominan melalui kebisingan. Ironisnya, sebagian masyarakat yang terdampak justru mengalami apa yang dalam sosiologi disebut sebagai kesadaran palsu (false consciousness). Korban gangguan kebisingan justru ikut bersorak-sorai merayakan kehancuran ruang hidup mereka sendiri demi sebuah euforia psikologis sesaat. Negara dan pemerintah daerah pun kerap kali gagap dan bersikap ambivalen karena takut kehilangan popularitas atau akomodasi terhadap keinginan massa. Padahal, membiarkan fenomena ini merusak ruang publik secara liar sama saja dengan melegitimasi kemunduran peradaban dan kegagalanpengelolaankomunikasipublik.
Mengembalikan Arah Kebudayaan Kita
Kita tidakbolehmembiarkan polemik sound horeg ini terus berlarut tanpa arah dan menggerus kewarasan publik. Kebudayaan harus dikembalikan pada khitahnya sebagai alat memanusiakan manusia (humanisasi), bukan alat yang mengintimidasi kenyamanan dan keselamatan warga. Kita perlu mendefinisikan ulang apa yang kita sebut sebagai hiburan rakyat melalui dialog publik yang sehat dan deliberatif. Langkah pembenahan harus dimulai dari kepatuhan total terhadap payung hukum yang telah diterbitkan oleh pemerintah daerah, agar ketertiban umum terjaga tanpa harus sepenuhnya mematikan kreativitas lokal. Lebih dari itu, pranata sosial di tingkat komunitas-seperti tokoh masyarakat, pemuka agama, and institusi akademik-harus berani bersuara untuk mengedukasi warga.
Sebagai institusi pendidikan, universitas juga memikul tanggung jawab besar untuk terus mengasah empati sosial dan nalar kritis generasi muda, agar mereka tidak terjebak dalam budaya instan yang destruktif. Sound horeg telah memberi kita pelajaran berharga tentang bagaimana teknologi, ketika diadopsi tanpa kearifan budaya dan kematangan berpikir, justru akan melahirkan kekacauan sosial. Sudah saatnya kita mengecilkan volume ego kelompok ini, dan mulai mendengarkan kembali suara kebudayaan kita yang sejati: suara yang lembut, yang merangkul, yang cerdas, dan yang selalu menghargai harmoni kehidupan bersama. Jangan sampai demi mengejar kepuasan getaran beberapa jam, kita mengorbankan nalar kebudayaan yang telahkitabangunberabad-abad.Wallahu’alam Bhis-shawwab
———– *** ————-


