28.2 C
Sidoarjo
Monday, September 14, 2026
spot_img

Peran Radio di Tengah Membanjirnya Hoaks Informasi

Hari Radio Nasional yang kita peringati setiap tanggal 11 September bukan sekadar perayaan momentum sejarah penyiaran. Lebih dari itu, momen ini merupakan sebuah pengingat kolektif tentang esensi sebuah media massa dalam menjaga jurnalisme yang sehat. Di tengah era disrupsi digital saat ini, di mana arus informasi mengalir tanpa bendung dan batasan, peran radio menjadi jauh lebih krusial dibandingkan masa-masa sebelumnya. Kita saat ini hidup dalam ekosistem digital yang sayangnya sering kali dikotori oleh penyebaran berita bohong, misinformasi, dan hoaks yang sangat masif.

Kehadiran media sosial memang menawarkan kecepatan luar biasa dalam menyampaikan sebuah peristiwa. Namun, kecepatan tersebut sering kali mengorbankan akurasi. Informasi palsu sengaja dirancang untuk memanipulasi emosi publik, memicu kepanikan, hingga memecah belah persatuan bangsa. Di sinilah radio mengambil peran yang sangat vital sebagai tiang pancang kebenaran. Ketika masyarakat mulai jenuh dan bingung memilah mana informasi yang valid di layar gawai mereka, suara penyiar radio hadir membawa keteduhan dan kepastian. Radio tidak sekadar menyampaikan kabar, tetapi juga menghadirkan konfirmasi yang jernih.

Kekuatan utama radio terletak pada proses produksinya yang memegang teguh kode etik jurnalistik. Sebelum sebuah berita mengudara dan menyapa telinga pendengar, ada proses kurasi, verifikasi, dan penyaringan berlapis yang dilakukan oleh awak redaksi yang kompeten. Kebiasaan melakukan cek dan ricek ini membuat radio menjadi salah satu institusi media yang paling minim memproduksi hoaks. Suara yang terdengar dari pemancar bukan sekadar opini instan, melainkan produk jurnalistik yang bertanggung jawab dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Berita Terkait :  Mengakhiri Ramadan, Pentingnya Sekolah Mengajarkan Refleksi Diri

Selain aspek akurasi, radio memiliki karakteristik unik yang tidak dimiliki oleh media berbasis teks digital, yaitu kedekatan emosional (engagement). Hubungan antara penyiar dan pendengarnya dibangun atas dasar kepercayaan yang dipupuk selama bertahun-tahun. Saat hoaks menyebar di grup-grup percakapan instan, masyarakat tahu mereka bisa menyalakan radio untuk mendapatkan fakta yang sebenarnya. Radio berfungsi bagaikan kompas penunjuk arah yang menyelamatkan publik agar tidak tersesat dalam belantara hoaks yang menyesatkan.

Selamat Hari Radio Nasional. Mari kita terus mendukung kemandirian dan keberlanjutan radio sebagai media tepercaya. Di tengah kepungan kabar bohong, mari kita kembali mendengarkan radio demi mendapatkan informasi yang sehat, edukatif, dan mencerahkan. Radio boleh berubah platform menjadi digital atau penyiaran internet, tetapi ruhnya sebagai pembawa kebenaran sejati tidak boleh pernah padam.

Berliana
Mahasiswi, tinggal di Semolowaru Surabaya

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!