27.2 C
Sidoarjo
Monday, September 14, 2026
spot_img

Gunakan Hidroponik dan AutoGrow, SMKN 1 Tulungagung Panen 3,5 Ton Melon

Kadindik Jatim: Bukti Vokasi Pertanian Makin Modern dan Produktif

Tulungagung, Bhirawa – Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur Aries Agung Paewai memuji keberhasilan SMKN 1 Tulungagung dalam mengembangkan budidaya melon berbasis teknologi melalui program SIKAP. Apresiasi itu disampaikan saat menghadiri SEMESTA Harvest Day 2026 yang menampilkan panen melon sekaligus berbagai inovasi pembelajaran vokasi pertanian, yang digelar pada Minggu (13/9).

Aries menilai panen melon tersebut menjadi bukti bahwa pembelajaran di SMK tidak cukup hanya berhenti pada praktik, tetapi harus menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi dan terhubung dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

“Menurut saya ini adalah proses yang sangat luar biasa yang bisa dicontoh oleh SMK-SMK kita yang punya jurusan pertanian. Nantinya akan dikembangkan lagi, termasuk bagaimana pola kemitraan yang dibangun,” kata Aries.

Ia menilai, SMKN 1 Tulungagung telah melakukan perubahan signifikan dalam mengembangkan pembelajaran pertanian. Lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal kini dikembangkan menjadi berbagai kegiatan produktif, termasuk budidaya melon, peternakan dan perikanan.

Salah satu yang menjadi perhatian Aries adalah sistem budidaya melon hidroponik yang sudah terintegrasi. Pengelolaan air dilakukan secara efisien, bahkan air yang digunakan untuk proses budidaya dapat ditampung dan dimanfaatkan kembali, termasuk untuk mendukung kegiatan perikanan.

“Dulu masih banyak lahan yang kosong. Sekarang dikembangkan, sehingga kelihatan hasilnya. Itu kenapa saya datang ke sana, karena saya ingin menyaksikan perubahan yang dilakukan SMK tersebut,” ujarnya.

Berita Terkait :  Inovasi Pelajar Ikut Lestarikan Apel Kota Batu

Dalam SEMESTA Harvest Day 2026, SMKN 1 Tulungagung memamerkan dua model budidaya melon. Melon Inthanon dikembangkan di greenhouse seluas 949 meter persegi dengan sistem NFT (Nutrient Film Technique) atau hidroponik yang terintegrasi dengan AutoGrow System.

Sementara Melon Diva 15 dibudidayakan di greenhouse seluas 160 meter persegi menggunakan sistem polibag dengan media tanah, cocopeat dan kotoran hewan yang telah dihaluskan. Total luasan greenhouse budidaya melon mencapai sekitar 1.109 meter persegi.

Dari pengembangan Melon Inthanon, kapasitas greenhouse mencapai sekitar 2.350 populasi tanaman dengan hasil panen perdana sekitar 3,5 ton. Melalui sistem AutoGrow, murid dapat memantau kondisi tanaman menggunakan telepon seluler. Mereka belajar melakukan pengecekan kelembapan dan kondisi pertumbuhan tanaman hingga menentukan waktu panen.

Tak hanya itu, sekolah juga mulai mengembangkan kemampuan kewirausahaan siswa dengan melakukan pemasaran secara mandiri, namun tetap mengikuti standar kualitas dan harga yang ditetapkan bersama mitra.

Aries mengatakan pola tersebut penting agar siswa tidak sekadar menjadi pelaksana praktik. Mereka harus mendapatkan pengalaman mengelola kegiatan produksi sekaligus memahami bagaimana produk dipasarkan dan memiliki nilai ekonomi.

“Saya sanjung mereka karena mereka sudah siap betul menjadi petani kreatif dan petani yang berwirausaha. Mereka tidak hanya di pertanian, tetapi juga di perkebunan dan perikanan,” ujarnya.

SEMESTA Harvest Day 2026 juga menampilkan beragam produk inovasi siswa, termasuk olahan hasil perikanan seperti keripik kulit ikan patin dan produk olahan buah. Pengembangan produk tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah memperluas keterampilan siswa dari produksi hingga pengolahan dan pemasaran.

Berita Terkait :  Bupati Madiun Gelar Silahturahmi di Ponpes Sholawat

Aries menegaskan keberhasilan SMKN 1 Tulungagung tersebut menjadi contoh bahwa sekolah vokasi pertanian dapat dikembangkan menjadi laboratorium pembelajaran yang produktif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Sementara itu, Kepala SMKN 1 Tulungagung, Ning Fadlillah, mengatakan pengembangan pembelajaran berbasis komoditas tersebut diperkuat melalui program SIKAP dan kemitraan dengan dunia industri.

Salah satunya melalui kemitraan budidaya melon dengan Vertindo Semarang. Melalui kemitraan tersebut, sekolah mendapatkan pendampingan teknologi dan budidaya, termasuk sistem NFT (Nutrient Film Technique) dan AutoGrow.

Budidaya Melon Inthanon dikembangkan di greenhouse seluas 949 meter persegi dengan kapasitas sekitar 2.350 populasi tanaman. Dari satu kali panen, produksi melon dapat mencapai sekitar 3,5 ton.

Selain Melon Inthanon, sekolah juga mengembangkan Melon Diva 15 di greenhouse seluas 160 meter persegi dengan sistem polibag. Dengan demikian, total greenhouse yang digunakan untuk budidaya melon mencapai sekitar 1.109 meter persegi.

“Anak-anak tidak hanya menanam. Mereka juga mengecek melalui handphone dengan sistem AutoGrow, memantau kelembapan dan memastikan tingkat kemanisan melon,” jelas Ning.

Proses budidaya juga dilakukan dengan standar yang ditetapkan bersama mitra. Melon dapat dipanen sekitar 65-70 hari setelah tanam (HST), kemudian melalui proses pengecekan kualitas sebelum dipasarkan.

Pada tahap awal, hasil panen dipasarkan melalui mitra. Namun, sekolah juga mulai mengembangkan kemampuan kewirausahaan murid dengan memasarkan produk secara mandiri dengan tetap mengikuti standar harga dan kualitas yang telah disepakati. “Dari mitra industri kami diajari. Teknisi juga mengajari secara langsung, dan anak-anak kami juga PKL di Vertindo,” ujarnya.

Berita Terkait :  Ilustrasi Ghibli dari AI, Peluang atau Ancaman bagi Industri Animasi

Selain melon, SMKN 1 Tulungagung mengembangkan sejumlah kelas peminatan komoditas dan kewirausahaan. Kelas tersebut meliputi budidaya melon, ayam petelur, ayam kampung, sapi, domba, serta ayam broiler sistem closed house.

Khusus kelas budidaya melon, terdapat 32 murid dari Konsentrasi Keahlian Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH). Melalui model tersebut, sekolah menargetkan murid tidak hanya menjadi tenaga teknis, tetapi mampu merancang, mengelola, mengembangkan hingga memasarkan produk pertanian. “Harapannya, kami menjadi laboratorium hidup. Anak-anak semakin lincah dan terpacu dalam pertanian modern,” kata Ning. [ina.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!