Probolinggo, Bhirawa – Uji coba pendaratan dan lepas landas pesawat tempur di ruas Tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro), Kamis (22/10/2026), menjadi bagian dari upaya TNI Angkatan Udara (TNI AU) menyiapkan landasan alternatif untuk mendukung operasi udara dalam kondisi darurat.
Setelah pengujian di Paspro, TNI AU berencana menjajaki sejumlah ruas tol lain yang berpotensi digunakan untuk kebutuhan serupa, di antaranya Tol Cibitung-Cilincing di Jakarta dan rencana pembangunan jalan tol di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono mengatakan, survei terhadap sejumlah lokasi telah dilakukan bersama Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan instansi terkait. Tol Cibitung-Cilincing menjadi salah satu ruas yang dinilai memenuhi persyaratan awal untuk menjalani pengujian lebih lanjut.
“Sudah ada beberapa lokasi yang kemudian akan kita jadikan tempat uji coba. Salah satunya adalah di jalan tol di Jakarta, itu Cibitung-Cilincing, itu juga menjadi salah satu yang memenuhi syarat untuk kita uji coba,” kata Tonny seusai uji coba pendaratan dan lepas landas pesawat tempur di Tol Paspro, Kamis (22/10/2026).
Selain di Jakarta, TNI AU juga telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi NTB terkait rencana pembangunan jalan tol di Lombok. Infrastruktur tersebut berpotensi dikaji untuk mendukung kebutuhan pertahanan, dengan tetap mempertimbangkan hasil survei dan persyaratan teknis yang berlaku.
Tonny menjelaskan, pemanfaatan jalan tol sebagai landasan alternatif merupakan salah satu opsi untuk menjaga fleksibilitas operasi udara.
Dalam kondisi tertentu, seperti ketika pangkalan udara utama mengalami kerusakan atau tidak dapat digunakan, ruas jalan tol yang memenuhi persyaratan dapat dipertimbangkan sebagai lokasi alternatif bagi pesawat militer.
Meski demikian, lanjut Tonny, tidak semua jalan tol dapat digunakan untuk keperluan tersebut. Setiap ruas harus melalui kajian dan pengujian, termasuk pemeriksaan kondisi fisik jalan serta pemenuhan aspek keselamatan penerbangan.
Tonny menyebut, koordinasi dengan Kementerian PU akan diperkuat, termasuk dalam perencanaan pembangunan jalan tol baru. Dengan demikian, kebutuhan pertahanan dapat dipertimbangkan sejak tahap perencanaan infrastruktur.
“Perintah dari Bapak Presiden bahwa untuk pembangunan jalan tol, kami akan koordinasi dengan Kementerian PU. Jadi Kementerian PU yang melaksanakan pembangunan jalan tol akan selalu koordinasi ketat dengan TNI, khususnya Angkatan Udara,” ujarnya.
Menurut Tonny, sejumlah lokasi di pulau-pulau besar juga berpotensi dikaji sebagai landasan alternatif. Namun, penentuan lokasi tetap bergantung pada hasil survei, persyaratan teknis, kesiapan personel, serta pemenuhan aspek keselamatan penerbangan.
Uji coba di Tol Paspro menjadi bagian dari tahapan pengujian tersebut. Ruas sepanjang 3,5 kilometer, mulai KM 834 hingga KM 837+500, digunakan untuk menguji pendaratan dan lepas landas dua pesawat EMB-314 Super Tucano dari Skadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, serta dua F-16 Fighting Falcon dari Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi, Magetan.
Tonny mengatakan, pengujian di Paspro merupakan pelaksanaan kedua setelah kegiatan serupa di ruas Tol Terbanggi Besar, Lampung, pada Februari 2026.
Persiapan di Tol Paspro telah dimulai sejak Agustus 2026.
Sebelum pelaksanaan, dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi permukaan jalan, marka, lingkungan sekitar, dan sejumlah aspek teknis lainnya untuk memastikan kelayakan ruas tol dalam mendukung operasi pesawat.
Kegiatan tersebut juga melibatkan koordinasi dengan Kementerian Pertahanan, Kementerian PU, pengelola jalan tol, pengatur lalu lintas udara, Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, serta unsur terkait lainnya.
Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo H. Ugas Irwanto menyambut positif pemilihan Tol Paspro sebagai lokasi uji coba landasan alternatif pesawat tempur. Menurut dia, hal tersebut menjadi kehormatan bagi Kabupaten Probolinggo karena wilayahnya turut berperan dalam mendukung kesiapan pertahanan negara.
“Pemerintah daerah merasa bangga. Ini merupakan kehormatan bagi daerah, karena untuk mendukung pertahanan negara, salah satunya dipilih jalan tol yang kebetulan memang melewati Kabupaten Probolinggo,” kata Ugas.
Ia menjelaskan, keberadaan landasan alternatif diperlukan sebagai langkah antisipasi apabila terjadi kondisi yang tidak diinginkan di pangkalan udara atau bandara utama. Meski demikian, ia berharap jalan tol cukup disiapkan sebagai cadangan dan tidak sampai harus digunakan dalam situasi darurat.
Ugas juga menegaskan bahwa fungsi utama Tol Paspro tetap sebagai sarana transportasi masyarakat. Pemanfaatannya untuk mendukung operasi pesawat militer hanya menjadi alternatif apabila dibutuhkan.
“Kami berharap dengan adanya sebagai cadangan, tetapi kembali lagi tadi disampaikan oleh Jenderal Kasau bahwa fungsi tetap sebagai tol dan ini hanya sebagai cadangan saja. Semoga ke depan Indonesia tetap aman. Hanya sekadar cadangan-cadangan, tidak pernah terpakai,” ujarnya.
Pemanfaatan jalan tol untuk mendukung pertahanan, dengan demikian, tetap bersifat situasional dan harus memperhatikan keselamatan penerbangan maupun kepentingan pengguna jalan.
Melalui pengujian di Paspro serta penjajakan lokasi lain, TNI AU berupaya memperluas opsi landasan alternatif tanpa mengesampingkan fungsi utama infrastruktur jalan tol bagi masyarakat. [fir.kt]




