28.9 C
Sidoarjo
Tuesday, October 20, 2026
spot_img

Tekan Biaya Pakan, BPDP dan FEB Unair Latih Peternak Olah Limbah Sawit

Kota Malang, Bhirawa. – Tingginya biaya pakan yang menyerap 60 hingga 70 persen total ongkos produksi peternakan mendorong kolaborasi lintas sektor untuk mencari solusi berkelanjutan. Menjawab persoalan tersebut, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menggandeng Laboratorium Pengembangan Ekonomi Pembangunan (LPEP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair) menggelar workshop pengolahan limbah kelapa sawit di Malang Raya, 20-22 Oktober 2026.

Kegiatan bertajuk ‘Peningkatan Nilai Tambah Limbah Kelapa Sawit melalui Inovasi Pakan Ternak Berbasis Ekonomi Sirkular’ ini dibuka resmi pada Selasa (20/10) dan diikuti puluhan peternak serta pelaku UMKM olahan pakan dan hasil perkebunan dari wilayah Malang Raya. Program prioritas ini turut dihadiri Dekan FEB Unair Prof. Dr. Rudi Purwono, Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Helmi Muhansyah, serta tim peneliti LPEP FEB Unair Atik Purmiyati, Ph.D.

Ketua Pelaksana Workshop, Akhmad Jayadi, S.E., M.Ec.Dev., menegaskan agenda ini tidak sekadar sarasehan teori, melainkan pelatihan aplikatif berorientasi hasil nyata. Peserta tidak hanya diajari teknik pembuatan pakan, tetapi juga didampingi mengurus legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) hingga penyusunan proposal perbankan.

“Kami ingin setiap peserta pulang membawa hasil konkret, mulai dari keahlian membuat pakan fermentasi limbah sawit, legalitas usaha yang tuntas, hingga rencana aksi usaha. Forum ini sekaligus mempertemukan peternak, akademisi, pemerintah, produsen sawit, dan perbankan di Malang Raya,” tegas Akhmad Jayadi.

Berita Terkait :  Sinergi Eksekutif-Legislatif, Dokumen APBD Kota Pasuruan TA 2025 Sah Ditetapkan

Ketua LPEP FEB Unair, Prof. Dyah Wulan Sari, Ph.D., memaparkan bahwa potensi bahan baku sawit di tanah air sangat melimpah. Produksi minyak sawit mentah (CPO) nasional menembus 47,24 juta ton pada 2025 dari luasan lahan 16,16 juta hektare. Aktivitas pengolahan tersebut menghasilkan produk sampingan masif berupa solid sawit, bungkil inti sawit, hingga pelepah.

“Peternak kita kerap tertekan mahalnya pakan komersial, sementara di sisi lain ada limbah industri sawit yang melimpah. Dua kutub ini kita pertemukan lewat prinsip ekonomi sirkular, yaitu mengubah residu industri satu menjadi bahan baku bernilai ekonomis bagi sektor lain,” terang Prof. Dyah.

Potensi efisiensi tersebut terbukti dari studi kasus peternak kambing asal Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, Maulana Akbar, yang sukses menekan biaya pakan hingga 30-40 persen dibanding pemakaian ampas tahu konvensional. Melalui teknik fermentasi solid sawit yang dipadu konsentrat dan hijauan, bobot kambing mampu bertambah 3-4 kilogram dalam periode uji coba 30 hari. Kunci keberlanjutannya terletak pada jejaring kemitraan pasokan bahan baku secara stabil dari pabrik kelapa sawit.

Agenda hari kedua (21/10) dijadwalkan masuk ke sesi teknis formulasi standar mutu, keamanan pakan, dan praktik fermentasi limbah sawit. Pada hari penutup (22/10), peserta akan mendapatkan fasilitas penerbitan perizinan berusaha berbasis risiko (OSS-RBA), sosialisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta business matching langsung bersama perbankan Himbara dan lembaga pembiayaan.[mut.ca]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!