Melalui surat ini, saya ingin menyuarakan isi hati sekaligus kegelisahan yang tampaknya kian hari kian menjadi kenyataan kolektif bagi sebagian besar masyarakat kelas menengah ke bawah. Kita tidak bisa lagi menutup mata bahwa hidup terasa makin berat dan kondisi ekonomi semakin sulit bagi rakyat kecil. Setiap kali melangkah ke pasar, warung, atau supermarket, kita disuguhkan pada satu kenyataan pahit: daya beli yang kian tergerus akibat melambungnya harga barang-barang kebutuhan pokok.
Inflasi terselubung terasa nyata di dompet kita. Harga beras, minyak goreng, telur, hingga sayur-mayur terus merangkak naik tanpa ada tanda-tanda akan turun kembali ke angka yang wajar. Sementara itu, pendapatan atau upah yang diterima buruh dan pekerja mandiri cenderung stagnan, bahkan tidak sedikit yang harus menghadapi pemotongan penghasilan akibat efisiensi perusahaan. Ketimpangan antara laju kenaikan harga kebutuhan hidup dengan pendapatan ini menciptakan jurang pemisah yang kian lebar, memaksa banyak keluarga harus memutar otak-atau lebih tepatnya, memotong pos-pos kebutuhan penting-demi bisa sekadar bertahan hidup hingga akhir bulan.
Kondisi ini diperparah dengan situasi lapangan kerja yang semakin kompetitif dan terbatas. Badai pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terus membayangi berbagai sektor industri. Menjadi kepala keluarga di era sekarang rasanya seperti memikul beban yang teramat ganda. Biaya pendidikan anak-anak terus melambung tinggi, tarif dasar listrik dan energi terus disesuaikan ke atas, sedangkan peluang untuk mendapatkan penghasilan tambahan semakin sempit. Banyak pelaku usaha mikro dan UMKM yang menjerit karena sepinya pembeli; masyarakat kini cenderung sangat menahan diri untuk berbelanja hal-hal yang bukan kebutuhan primer.
Slogan-slogan tentang pertumbuhan ekonomi makro yang kerap disampaikan di atas podium terasa sangat kontras dengan realitas yang terjadi di akar rumput. Di tingkat bawah, yang dirasakan adalah perjuangan harian untuk memastikan asap dapur tetap mengepul. Menabung kini menjadi sebuah kemewahan yang sulit digapai, karena seluruh pendapatan habis hanya untuk memenuhi kebutuhan perut dan biaya operasional sehari-hari. Fenomena maraknya pinjaman online ilegal dan lingkaran setan utang di masyarakat menjadi bukti nyata betapa mendesaknya kebutuhan finansial yang dihadapi warga demi menyambung hidup.
Sebagai warga negara yang taat, kami tentu memahami bahwa kondisi ekonomi global sedang tidak menentu. Namun, kami sangat berharap adanya kebijakan domestik yang lebih berpihak dan memberikan perlindungan nyata bagi rakyat kecil. Kami membutuhkan stabilitas harga pangan yang konkrit, bukan sekadar operasi pasar temporer. Kami memerlukan penciptaan lapangan kerja yang inklusif, serta perlindungan jaring pengaman sosial yang tepat sasaran dan bebas dari praktik korupsi.
Rinaldi Kusuma
Warga masyarakat, Jakarta Selatan.




