Sidoarjo, Bhirawa – Sebanyak 25 seniman dari berbagai negara di Asia menampilkan karya terbaik mereka dalam pameran di Kota Sidoarjo dalam ajang Sidoarjo In Flux. Beragam karya seni ditampilkan, mulai dari lukisan, instalasi, video, hingga new media art. Karya mereka mengangkat tema persoalan yang unik, seperti lingkungan, budaya, dan kehidupan sehari-hari.
Ketua Pelaksana Sidoarjo In Flux, Zerfa Robi, mengatakan pameran tersebut menampung karya-karya yang unik dan kreatif. Tidak hanya dua dimensi, tetapi juga video dan pertunjukan. “Pameran yang berlangsung sejak 2 sampai 18 Oktober 2026 ini ada seniman dari Indonesia, Jepang, dan India,” kata Zerfa.
Kota Sidoarjo menjadi tahun kedua pelaksanaan Sidoarjo In Flux yang diinisiasi oleh Dekesda Sidoarjo, Rumah Budaya Malik Ibrahim, dan Rumah Seni Pecantingan.
Harapannya, pameran seni ini dapat memberi manfaat pengetahuan bagi masyarakat luas, khususnya di Kota Sidoarjo.
Sejumlah karya seni menarik perhatian pengunjung. Di antaranya, tanaman pohon pule yang menjadi objek riset seniman. Karya ini mengangkat isu hubungan antara manusia, alam, dan teknologi.
Seniman Jepang, Osamu Matsuda, menghadirkan karya seni yang terinspirasi dari kawasan industri di Sidoarjo, Gresik, dan Surabaya. Aktivitas industri direkam secara slow motion. Karya ini mengajak pengunjung mengamati kembali aktivitas industri yang saat ini menjadi bagian kehidupan masyarakat.
Seniman India, Deepankar Gohain, menghasilkan karya seni yang dibuat langsung di lokasi pameran. Ada juga yang menciptakan seni dari pengalaman personal tentang hubungan keluarga yang ditayangkan dalam media sederhana seperti kain dan benang.
Menurut Zerfa Robi, dari acara seni ini masyarakat dapat mengenal seni kontemporer, sehingga paham dan tahu persoalan sosial, budaya, dan lingkungan lewat karya seni. “Tentu saja acara ini menjadi ruang bagi para seniman dari berbagai latar belakang berbeda-beda untuk bisa saling berinteraksi,” pungkasnya. [kus/mg19.wwn]




