Pemkot Kediri, Bhirawa. – Sebanyak 80 santri dilibatkan dalam penguatan kesiapsiagaan bencana di Kota Kediri. Melalui sosialisasi yang melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Komisi VIII DPR RI, dan BPBD Kota Kediri, para santri dan relawan dibekali pemahaman tentang mitigasi, penanganan darurat, serta pengelolaan logistik kebencanaan.
Kegiatan Sosialisasi Relawan dan Santri Peduli Bencana tersebut dihadiri Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati di Ruang Joyoboyo, Selasa (20/10). Kegiatan ini diikuti 110 peserta, terdiri atas 80 santri, 20 personel BPBD Kota Kediri, dan 10 relawan.
Vinanda mengatakan, bencana dapat terjadi kapan saja sehingga kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat perlu terus ditingkatkan. Karena itu, edukasi kebencanaan perlu ditindaklanjuti dengan pelatihan agar masyarakat mampu mengenali potensi ancaman di lingkungan masing-masing dan melakukan langkah antisipasi. “Penanggulangan bencana ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Sehingga butuh kolaborasi semua pihak. Apabila relawan, santri, masyarakat, dan Pemerintah Kota Kediri siap, maka semua dapat diatasi,” ujarnya.
Anggota Komisi VIII DPR RI K.H. An’im Falachuddin Mahrus mengatakan, sosialisasi tersebut bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat, mulai dari pentingnya menjaga lingkungan hingga memahami langkah yang harus dilakukan saat menghadapi bencana.
Gus An’im juga berharap BNPB memberikan perhatian terhadap kebutuhan peralatan BPBD Kota Kediri. Menurutnya, sejumlah peralatan perlu diremajakan untuk mendukung penanganan bencana. “Alhamdulillah, mitra kami dari BNPB ini terbuka kepada Pemerintah Kota Kediri terkait peralatan yang dibutuhkan oleh BPBD. Ada beberapa peralatan yang perlu peremajaan,” ungkapnya. Ia menambahkan, pelibatan santri penting mengingat Kota Kediri memiliki banyak pondok pesantren. Potensi tersebut perlu diberdayakan agar santri turut berkontribusi dalam membantu masyarakat ketika terjadi bencana.

Sementara itu, Direktur Pengelolaan Logistik dan Peralatan BNPB RI Bambang Surya Putra mengatakan, penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana perlu mendapat perhatian seiring potensi pengembangan Kota Kediri, termasuk keberadaan Bandara Dhoho. Potensi tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan kapasitas penanggulangan bencana, termasuk dukungan terhadap kebutuhan BPBD.
Bambang menegaskan, penanganan bencana tidak hanya membutuhkan kesiapan personel dan peralatan, tetapi juga pengelolaan logistik yang baik. Menurutnya, distribusi bantuan harus dilakukan secara transparan, akuntabel, tepat sasaran, dan tepat waktu. “Di dalam penanganan darurat bencana, tanpa pengelolaan logistik yang baik, transparan, akuntabel, tepat sasaran, dan tepat waktu, penanganan darurat bencana tidak akan menghasilkan hasil yang sesuai harapan,” terangnya. Bambang juga berharap santri dapat berperan aktif dalam memperkuat kesiapsiagaan dan membantu masyarakat ketika terjadi keadaan darurat.[van.nov.ca]




