Pemprov Jatim, Bhirawa – Pemerintah pusat melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) mendorong implementasi Program Gentengisasi di Jawa Timur, dengan menargetkan empat (4) kabupaten sentra produksi genteng UMKM di Jawa Timur sebagai prioritas penyerapan.
Program yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas hunian, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal melalui penyerapan produk genteng tanah liat buatan pengrajin kecil.
“Program genteng inisiasi ini memang tujuannya untuk menggerakkan lagi penggunaan atap rumah yang lebih baik, yaitu dengan penggunaan genteng tanah liat,” ujar Yunianto Rahadi Utomo, Direktur Penyiapan Lahan Perizinan dan Penghunian Perumahan Pedesaan Kementerian PKP, usai Rapat Koordinasi Percepatan Pelaksanaan dan Kolaborasi Program Bantuan Pembangunan Perumahan di Kantor Setdaprov Jatim, Jalan Pahlawan 110 Surabaya, Senin (5/10/2026) siang.
Yunianto menjelaskan, timnya telah mengidentifikasi empat kabupaten di Jawa Timur yang memiliki sentra produksi genteng dominan dan berpotensi besar menyerap kebutuhan program pemerintah. Keempat daerah tersebut adalah Trenggalek, Mojokerto, Sampang, dan Jember.
“Di Jawa Timur itu ada beberapa kabupaten yang potensial, terutama yang gentengnya merupakan produk UMKM. Yang terbesar adalah di Tenggalek,” katanya.
Data yang dihimpun menunjukkan, Trenggalek memiliki 451 pengrajin UMKM dengan kapasitas produksi mencapai 1,6 juta genteng per minggu. Sementara itu, Sampang, Mojokerto, dan Jember juga memiliki sentra produksi yang signifikan, meski detail kapasitasnya masih dalam tahap pemetaan lebih lanjut.
Sertifikasi Jadi Kunci Masuk Program Pemerintah
Meski produksi melimpah, sebagian besar genteng dari UMKM tersebut belum tersertifikasi. Hal ini menjadi kendala karena program-program pemerintah seperti bedah rumah mensyaratkan penggunaan material bersertifikat untuk menjamin kualitas dan ketahanan.
“Mereka ini rata-rata gentengnya belum tersertifikasi. Kami dorong untuk uji sertifikasi,” kata Yunianto.
Untuk itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Balai Sertifikasi dan BSPJI (Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri) Surabaya siap memfasilitasi proses sertifikasi pada tahun ini. Namun, kapasitas uji di Surabaya masih terbatas.
“Kami nanti akan koordinasi lagi dengan Balai BSPJI di Jakarta dan Bandung untuk memfasilitasi UMKM-UMKM yang belum tersertifikasi,” tambahnya.
Potensi Penyerapan 8 Juta Genteng untuk Bedah Rumah
Yunianto memaparkan, alokasi program bedah rumah dari APBN di Jawa Timur tahun ini mencapai 36.436 unit.
Secara total, kebutuhan genteng untuk program tersebut diperkirakan sekitar 10 juta unit. “Hingga saat ini baru 2 juta yang terserap. Masih ada potensi 8 juta,” ujarnya.
Pemerintah menargetkan sisa kebutuhan tersebut dapat diserap oleh pengrajin genteng lokal yang telah tersertifikasi. Dengan demikian, genteng yang digunakan dalam program bedah rumah tidak hanya tahan lama dan tidak bocor, tetapi juga mendukung perekonomian daerah.
“Kami arahkan supaya ini bisa diserap, terutama diprioritaskan untuk pengrajin genteng yang sudah tersertifikasi dulu,” tegasnya.
Launching Perdana Jatim Digelar Desember di Tenggalek
Meski program Gentengisasi sudah diluncurkan beberapa kali di Jawa Barat, khususnya di Plered, Purwakarta, launching resmi untuk Jawa Timur baru akan digelar pada Desember 2026.
Acara tersebut akan dipusatkan di Tenggalek dengan target pengiriman 2 juta genteng untuk kebutuhan bedah rumah di sejumlah kabupaten sekitar Tenggalek.
“Tahun ini sebenarnya program launchingnya sudah beberapa kali dilakukan, tapi masih di Jawa Barat. Untuk Jawa Timur, launching pertama secara resmi akan dilakukan di bulan Desember dan dipusatkan di Tenggalek,” kata Yunianto.
Target 2 juta genteng tersebut diharapkan dapat menjadi awal dari penyerapan lebih besar di tahun-tahun berikutnya, seiring dengan meningkatnya jumlah pengrajin yang tersertifikasi.
Program Gentengisasi dinilai memiliki dampak ganda. Di satu sisi, penggunaan genteng tanah liat menggantikan atap seng atau asbes yang kurang sehat, terutama bagi masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah yang masih menggunakan material tersebut.
“Diharapkan dengan penggunaan genteng ini, kualitas hidup masyarakat juga lebih baik,” ujar Yunianto.
Di sisi lain, program ini membuka peluang ekonomi bagi ribuan pengrajin kecil. Satu rumah subsidi di Jawa Timur diperkirakan membutuhkan lebih dari 1.000 genteng. Jika program berjalan optimal, permintaan akan meningkat drastis dan berpotensi membuka ribuan lapangan kerja baru.
“Program ini juga memberikan dampak ekonomi terhadap masyarakat, terutama pengrajin genteng,” pungkasnya. [aya.kt]




