Pemprov Jatim, Bhirawa. – Perjalanan mencari pekerjaan justru membawa delapan pencari kerja asal Garut, Jawa Barat, ke perjalanan panjang hingga Jawa Timur. Berangkat ke Bali dengan harapan bekerja di proyek pembangunan hotel, mereka akhirnya terlantar setelah baru empat hari bekerja.
Kondisi tersebut kemudian mendapat penanganan melalui layanan sosial. Setelah menempuh perjalanan dari Bali dengan berjalan kaki dan menumpang kendaraan, kedelapan pencari kerja itu akhirnya sampai di Sidoarjo dan mendapat rujukan hingga ke Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur.
Berdasarkan hasil assessment Peksos Madya Dinas Sosial Jawa Timur, Suwartini Dwi Astutik, informasi pekerjaan tersebut diperoleh dari teman yang sebelumnya bekerja di proyek lain. Pekerjaan pembangunan hotel itu disebut membutuhkan sekitar 15 orang, namun yang akhirnya berangkat sebanyak delapan orang.
Mereka terdiri Jemi (31) sebagai ketua, Supriadin (56), Firmansyah (31), Rendy (33), Indra (30), Febrian (21), Rizal (34), dan Agung (25). Namun, baru empat hari bekerja, mandor yang bertanggung jawab atas pekerjaan tersebut tiba-tiba tidak diketahui keberadaannya. “Mandornya kabur, sudah ditelepon tapi nggak diangkat,” aku salah satu dari mereka. Dan lagi, upaya menghubungi mandor melalui telepon juga tidak mendapatkan respons.
Kondisi itu membuat delapan pencari kerja tersebut kehilangan pekerjaan sekaligus penghasilan. Mereka kemudian memilih pulang ke daerah asal, tetapi keterbatasan biaya membuat perjalanan pulang harus dilakukan dengan mengandalkan bantuan orang lain. Salah seorang korban bahkan telah menghubungi istrinya untuk meminta bantuan. Namun, istrinya belum menerima gaji sehingga belum dapat mengirimkan uang untuk biaya perjalanan pulang.
Dari Bali, mereka menumpang truk menuju kawasan penyeberangan. Bantuan dari kampung sebesar Rp150 ribu digunakan untuk biaya menyeberang, sementara seorang sopir truk juga memberikan makanan ringan kepada mereka selama perjalanan.
Sesampainya di Banyuwangi, perjalanan dilanjutkan dengan menumpang truk. Kendaraan yang ditumpangi sempat berhenti di kawasan hutan karena mengalami kerusakan. Mereka kemudian kembali mencari tumpangan hingga dapat melanjutkan perjalanan menuju Pasuruan. Perjalanan terus berlanjut dengan berbagai cara. Mereka berjalan kaki, kembali menumpang truk, hingga akhirnya mencapai Sidoarjo dan mendatangi kepolisian untuk meminta bantuan.
Dari kepolisian, penanganan kemudian berlanjut melalui mekanisme pelayanan sosial. Mereka diarahkan menuju Dinas Sosial setempat dan selanjutnya dirujuk ke Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur untuk mendapatkan penanganan sesuai kondisi yang dihadapi.
Bagi Dinas Sosial, kondisi tersebut menunjukkan bagaimana persoalan kehilangan pekerjaan dapat berkembang menjadi persoalan sosial ketika seseorang tidak lagi memiliki penghasilan maupun biaya untuk kembali ke daerah asal. Kebutuhan transportasi, makanan dan tempat tinggal kemudian menjadi persoalan yang harus dihadapi secara bersamaan.
Kasus delapan pencari kerja asal Garut tersebut juga memperlihatkan pentingnya layanan sosial bagi warga yang mengalami kerentanan ketika berada jauh dari daerah asal. Perjalanan mereka yang dimulai dari Bali dan berlanjut melalui Banyuwangi, Pasuruan hingga Sidoarjo akhirnya berujung pada akses terhadap layanan sosial di Jawa Timur. Delapan orang tersebut sebelumnya hanya ingin bekerja di proyek pembangunan hotel. Namun setelah pekerjaan yang diharapkan tidak berlanjut, mereka harus menempuh perjalanan panjang untuk pulang.
Dalam kondisi tanpa penghasilan dan keterbatasan biaya, perjalanan pulang tidak lagi sekadar soal jarak. Mereka harus mengandalkan bantuan orang lain hingga akhirnya menemukan jalur pelayanan sosial yang dapat menangani kondisi mereka.[rac.ca]

