Pemkab Kediri, Bhirawa. – Mengantisipasi dampak kemarau panjang terhadap sektor pertanian, Pemkab Kediri memperkuat sarana pengairan lahan. Bertepatan dengan Hari Tani Nasional 2026, pembangunan 26 sumur submersible dilakukan serentak di 26 kecamatan.
Selain sumur submersible, bantuan infrastruktur pertanian juga diberikan dalam bentuk jaringan pipanisasi, pembangunan parit hingga rehabilitasi jaringan irigasi tersier. Langkah tersebut diarahkan untuk memastikan ketersediaan air sekaligus menekan biaya pengairan yang harus ditanggung petani.
Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Sukadi mengatakan, langkah tersebut dilakukan karena sejak April 2026 pemerintah telah mendapat imbauan terkait potensi kemarau panjang.
”Tahun 2026 ini, sejak bulan April kita telah mendapatkan imbauan akan menghadapi kemarau panjang. Untuk itu kita terus berupaya membantu petani supaya tetap bisa memperoleh air,” kata Sukadi, Kamis (24/9).
Menurut Sukadi, sektor pertanian menjadi salah satu program strategis pemerintah pusat maupun Pemkab Kediri. Karena itu, bantuan infrastruktur pertanian terus disalurkan setiap tahun, termasuk melalui kolaborasi dengan pemerintah pusat. Pada 2026, bantuan sumur submersible secara keseluruhan telah disalurkan kepada 451 kelompok atau gabungan kelompok tani di Kabupaten Kediri.
”Pembangunan sumur submersible ini memang menjadi program yang sangat ditunggu petani untuk mencukupi kebutuhan air,” ujarnya.
Ketersediaan air, lanjut Sukadi, tidak hanya menjaga tanaman tetap produktif saat kemarau, tetapi juga berpotensi meningkatkan indeks pertanaman (IP). Lahan yang sebelumnya hanya bisa ditanami dua kali dalam setahun, misalnya untuk komoditas padi, dapat ditingkatkan menjadi tiga kali tanam.
”Peningkatan indeks pertanaman ini diharapkan dapat mewujudkan apa yang menjadi cita-cita Mas Dhito untuk meningkatkan kesejahteraan petani,” katanya.
Dampak peningkatan produktivitas itu juga tercermin dari kenaikan nilai tukar petani (NTP). Pada 2026, indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani tersebut mencapai 122, naik dibandingkan capaian 113,05 pada 2025. Bagi petani, dukungan infrastruktur pengairan dinilai cukup terasa, terutama di wilayah yang selama ini menghadapi kendala ketersediaan air saat kemarau.
Gatot Sujoko, Perwakilan Kelompok Tani Jaya, Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung, mengatakan petani di wilayahnya yang merupakan salah satu sentra tanaman cabai sebelumnya harus membeli air dari tangki untuk mengairi lahan. Biayanya mencapai Rp50 ribu per meter kubik.
Pemkab Kediri kemudian membantu pembangunan embung pada 2021 untuk menampung air hujan. Bantuan kembali diberikan pada 2024 melalui pembangunan Irigasi Tanah Dangkal (ITD).
Namun, karena jaringan listrik belum menjangkau lokasi, pompa air masih harus dioperasikan menggunakan genset. Kondisi tersebut membuat biaya pengairan masih cukup besar, meski sudah turun menjadi sekitar Rp10 ribu per meter kubik.
Berikutnya, pembangunan sumur submersible dan fasilitasi program listrik masuk sawah diharapkan kembali menekan biaya operasional sekaligus memperluas cakupan lahan yang dapat diairi. ”Harapan kami bisa menambah setidaknya hingga 60 hektare,” ucap Gatot.
Sebelumnya, dengan sarana pengairan yang tersedia, cakupan lahan yang dapat teraliri mencapai sekitar 30 hektare. Dengan adanya sumur submersible dan dukungan listrik, petani berharap luasan ini dapat bertambah. [van.nov.fen]

