27.2 C
Sidoarjo
Monday, September 14, 2026
spot_img

Khofifah Dorong Kemitraan Riset Stem Cell dan Kanker dengan SCCR Indonesia

Pemprov Jatim, Bhirawa. – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong penguatan kemitraan riset dan inovasi teknologi kesehatan untuk membangun ekosistem layanan kesehatan berbasis teknologi tinggi di Jawa Timur. Salah satu upaya yang dijajaki yakni melalui kolaborasi dengan PT Stem Cell and Cancer Research Indonesia (SCCR Indonesia) di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.

Dorongan tersebut disampaikan Khofifah saat mengunjungi SCCR Indonesia, Dalam kunjungan itu, ia melihat langsung fasilitas penelitian serta teknologi kesehatan yang dikembangkan, termasuk riset terapi sel punca (stem cell) dan penelitian kanker.

Khofifah menilai SCCR Indonesia menunjukkan bahwa kemampuan sumber daya manusia Indonesia dalam pengembangan riset kedokteran dan teknologi kesehatan telah berkembang. Menurutnya, kekuatan tersebut perlu didorong melalui kolaborasi agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dihilirisasi menjadi layanan medis yang memberikan manfaat bagi masyarakat. “Alhamdulillah, saya mendapatkan proses pembelajaran yang luar biasa. Kami diperkenalkan dengan berbagai alat kesehatan dan alat-alat laboratorium kesehatan yang menurut saya super-super canggih,” ujar Khofifah.

Ia menegaskan, kemampuan menghasilkan riset harus berjalan beriringan dengan keberanian melakukan hilirisasi. Dengan demikian, hasil penelitian dapat dikembangkan dan diterapkan secara bertanggung jawab untuk menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat. “Kemampuan menghasilkan riset harus berjalan beriringan dengan keberanian melakukan hilirisasi hingga hasil penelitian benar-benar dapat diterapkan menjadi layanan medis yang memberi manfaat bagi masyarakat,” jelasnya.

Berita Terkait :  Libur Nataru 2026, Okupansi di Kabupaten Pasuruan Naik Tajam

Menurut Khofifah, penguatan riset dan inovasi kesehatan juga menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian kesehatan nasional. Terlebih, masih banyak masyarakat Indonesia yang memilih memperoleh layanan kesehatan di luar negeri.

Kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan akses layanan kesehatan, tetapi juga berdampak terhadap perekonomian karena pembiayaan layanan kesehatan masyarakat di luar negeri turut menyebabkan devisa mengalir ke negara lain.

“Ini menjadi bagian penting, pertama tentu untuk memberikan layanan kesehatan bagi seluruh manusia, terutama warga bangsa Indonesia. Yang kedua, sebetulnya tidak terhitung berapa devisa yang harus keluar negeri, ratusan triliun, untuk pengobatan bangsa ini, masyarakat Indonesia yang sudah mempercayakan proses layanan kesehatannya ke berbagai rumah sakit di luar negeri,” katanya.

Karena itu, Khofifah mendorong pengembangan pusat-pusat riset kesehatan di dalam negeri melalui kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, rumah sakit, dunia usaha, pusat penelitian, dan para pakar. Ia menilai Jawa Timur memiliki modal yang cukup kuat untuk membangun ekosistem tersebut. Keberadaan perguruan tinggi, rumah sakit, tenaga kesehatan, industri, pusat penelitian, serta sumber daya manusia di berbagai bidang menjadi potensi yang dapat dikoneksikan untuk menghasilkan inovasi kesehatan. “Bahkan dari banyak pakar dari perguruan tinggi, perguruan tinggi world class university juga hadir di sini. Tentu tidak sekadar sebagai researcher, tetapi bagaimana proses untuk memberikan layanan dari hasil riset itu bisa dirasakan oleh masyarakat lebih luas lagi,” tuturnya.

Berita Terkait :  Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tulungagung Resmi Berganti

Menurut Khofifah, keterhubungan antara peneliti dan dunia pelayanan kesehatan menjadi bagian penting dalam proses hilirisasi. Hasil penelitian perlu memiliki ruang untuk dikembangkan, diuji, diterapkan secara bertanggung jawab, hingga menghasilkan solusi yang dapat dirasakan masyarakat.

Pengalaman melihat langsung pengembangan riset stem cell di SCCR Indonesia, lanjut Khofifah, menjadi perspektif penting bagi Jawa Timur dalam memperkuat kolaborasi riset kesehatan di daerah. “Kita semua mendorong, mendukung bagaimana para expertise di bidang teknologi stem cell di Semarang ini bisa terus mendapatkan ruang untuk mendedikasikan seluruh ilmu yang bisa dirasakan manfaatnya lebih luas lagi oleh masyarakat Indonesia,” tegasnya.

Khofifah bahkan melihat pengembangan pusat riset dan layanan stem cell di Indonesia berpotensi memiliki daya jangkau lebih luas di masa mendatang. Penguatan kapasitas riset, teknologi, sumber daya manusia, dan layanan medis dinilai dapat membuka peluang Indonesia menjadi salah satu rujukan pengembangan layanan kesehatan berbasis teknologi di kawasan.

“Dari proses perencanaan ke depan rasanya ini bisa menjadi center of gravity dari proses pelayanan stem cell tidak hanya di Indonesia, tidak hanya di ASEAN, tapi juga di sangat banyak negara akan melihat bahwa anak bangsa ini sudah melahirkan hasil-hasil riset yang luar biasa di bidang kedokteran, terutama, dan sudah memberikan layanan medik yang luar biasa,” katanya.

Ia menegaskan, kekuatan utama yang perlu terus dikembangkan bukan hanya kemampuan melakukan penelitian, tetapi memastikan hasil penelitian dapat diimplementasikan secara bertanggung jawab untuk memperkuat pelayanan kesehatan. “Jadi bukan hanya risetnya, tapi juga hasil risetnya sudah diimplementasikan dengan memberikan layanan yang luar biasa,” pungkas Khofifah.[ina.ca]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!