27.2 C
Sidoarjo
Friday, September 11, 2026
spot_img

Memutus Siklus Darurat Air

Oleh :
Achmad Azmi Musyadad
Kepala Keasistenan Pencegahan Maladministrasi Perwakilan Ombudsman RI Jawa Timur

Orang biasanya baru menyadari betapa banyak urusan rumah bergantung pada air ketika satu jeriken harus dibagi untuk semuanya. Memasak didahulukan. Mencuci bisa menunggu. Mandi seperlunya. Begitulah kemarau mengubah keseharian warga di sejumlah desa Kabupaten Pasuruan.

Di Surabaya, persoalannya datang dengan cara lain. Minggu pagi, 6 September, air tetap mengalir dari keran, tetapi keruh, berbusa, dan berbau. Air yang sehari-hari digunakan tanpa banyak dipikirkan mendadak membuat orang ragu menanak nasi, memandikan anak, bahkan sekadar mencuci gelas.

Dua kabar itu tampak berbeda. Di Pasuruan orang menunggu air datang. Di Surabaya orang meragukan air yang sudah tiba di rumah. Keduanya menunjukkan bahwa kemarau bukan cuma perkara persediaan yang berkurang. Ketika debit sungai turun, mutu air baku ikut rentan dan pelayanan diuji sampai ke dapur warga.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menyalurkan 45 tandon berkapasitas 1.200 liter dan 500 jeriken kepada warga terdampak kekeringan di Kabupaten Pasuruan. Bantuan tersebut menjangkau 19.837 jiwa atau 6.556 keluarga di Kecamatan Lumbang, Pasrepan, Kejayan, dan Winongan. Hingga 5 September 2026, sedikitnya 20 kabupaten telah mendistribusikan air bersih dan 24 kabupaten menetapkan keadaan darurat kekeringan.

Data itu sejalan dengan peringatan BMKG. Di sebagian besar wilayah Jawa Timur, hari tanpa hujan telah melampaui 60 hari dan masuk kategori kekeringan ekstrem. Operasi Modifikasi Cuaca pun dilakukan empat kali sepanjang 3-6 September. Sebanyak 3.200 kilogram bahan semai disebarkan dan hujan ringan hingga sedang terpantau di 11 titik pada enam kabupaten.

Berita Terkait :  Diduga Akibat Faktor Cuaca, Kanopi KDMP Pangaleyan Bangkalan Rusak; Dandim Pastikan Situasi Tetap Kondusif

Respons ini patut diapresiasi. Namun, pesawat penyemai awan, truk tangki, tandon, dan jeriken tetaplah pertolongan saat keadaan memburuk. Semuanya belum menjawab mengapa daerah yang sama berulang kali kekeringan atau mutu air baku merosot sampai instalasi pengolahan kewalahan.

Akses Belum Tentu Menghadirkan Rasa Aman
Gangguan di Surabaya memperlihatkan sisi lain. Volume Sungai Surabaya menurun ketika beban polutan tidak ikut berkurang. PDAM Surya Sembada mengakui mutu air baku di Instalasi Pengolahan Air Minum Karangpilang memburuk. Proses pengolahan sempat kewalahan, dan air keruh serta berbusa terlanjur mencapai pelanggan di Surabaya Selatan dan Barat.

Pemeriksaan Perum Jasa Tirta I menemukan penurunan kadar oksigen terlarut di Kali Tengah. Hasil laboratorium masih diverifikasi sehingga penyebabnya tak patut ditebak. Namun, warga juga tidak semestinya baru mengetahui gangguan setelah warna, bau, atau busa keluar dari keran.

BPS mencatat 97,30 persen rumah tangga Jawa Timur pada 2025 memiliki akses terhadap sumber air minum layak. Capaian ini penting, tetapi belum menceritakan seluruh pengalaman warga. Sumur yang tercatat layak bisa mengering pada Agustus. Sambungan pipa pun tak berarti bila airnya tak aman digunakan.

Peraturan Pemerintah Nomor 122 Tahun 2015 telah menempatkan kualitas, kuantitas, kontinuitas, dan keterjangkauan sebagai satu kesatuan pelayanan air minum. Empat unsur itu tak dapat dipenuhi bergantian. Air melimpah tetapi tercemar bukan layanan. Air bersih yang hanya hadir sesekali pun belum cukup.

Berita Terkait :  UMSurabaya Salah Satu Sponsor Konser Musik Terbesar SOD 2025

Sejak 2004, Organisasi Kesehatan Dunia mendorong pendekatan Water Safety Plan dan menjabarkannya dalam panduan 2005. Risiko diamankan sejak daerah tangkapan, sumber air baku, instalasi pengolahan, jaringan distribusi, hingga rumah pelanggan. Bahaya dicegah di hulu, bukan baru ditelusuri setelah mencapai gelas warga.

Prinsip Tata Kelola Air OECD (2015) menegaskan bahwa pengelolaan perlu mengikuti skala persoalan, dengan tanggung jawab yang terang. Air mengalir mengikuti bentang sungai, bukan batas meja dinas. Koordinasi setelah kejadian perlu, tetapi koordinasi sebelum kejadian jauh lebih menentukan.

Tiga Pembenahan
Pertama, Jawa Timur perlu menyatukan kendali risiko air dari hulu sampai pelanggan. Tidak perlu lembaga atau aplikasi baru. Pemerintah provinsi dapat memimpin protokol bersama yang mempertemukan data hari tanpa hujan, debit sungai, isi waduk, mutu air, kondisi instalasi PDAM, dan keluhan pelanggan.

Setiap ambang risiko mesti memicu tindakan yang telah disepakati. Ketika debit atau mutu air memburuk, petugas tak boleh berunding dari awal tentang siapa yang mengambil sampel, menelusuri pencemar, mengisolasi jaringan, dan memperingatkan warga. Kecepatan menentukan apakah gangguan berhenti di instalasi atau mencapai rumah pelanggan.

Kedua, tetapkan standar pelayanan krisis yang dirasakan warga. Distribusi air memerlukan jadwal pasti, jumlah minimum, titik yang mudah dijangkau, serta prioritas bagi sekolah, puskesmas, lansia, penyandang disabilitas, dan keluarga miskin. Saat pipa terganggu, warga harus segera mengetahui wilayah terdampak, penggunaan yang perlu dihindari, perkiraan pemulihan, dan sumber air alternatif.

Keberhasilan jangan dihitung dari jumlah truk, tandon, jeriken, atau sampel laboratorium. Ukur keluarga yang menerima air tepat waktu, lamanya layanan terhenti, kecepatan anomali diumumkan, dan waktu pemulihan mutu. Dengan begitu, perhatian birokrasi bergeser dari barang yang dibagikan menuju kebutuhan yang terpenuhi.

Berita Terkait :  Gaji Kader Golkar Siap Dipangkas Demi Negara

Ketiga, arahkan lebih banyak anggaran pada pencegahan. Modifikasi cuaca berguna, tetapi bergantung pada awan. Truk tangki menyelamatkan warga, tetapi mahal jika terus menjadi langganan. Jawa Timur memerlukan perlindungan kawasan resapan, pemulihan embung, cadangan air baku perkotaan, pengurangan kebocoran jaringan, dan pengawasan limbah yang lebih ketat saat debit sungai menyusut.

Peta kekeringan tahunan harus masuk keputusan anggaran sebelum musim kering. Desa yang terus menerima air tangki memerlukan jalan keluar permanen, bukan jadwal kunjungan yang makin rutin. Industri di sepanjang sungai strategis juga perlu diawasi berdasarkan risiko dan rekam jejak, bukan setelah ikan mabuk atau busa terlihat.

Kita mudah menghitung tandon dan bahan semai karena keduanya tampak. Pencegahan memang kurang fotogenik. Ia hadir dalam pipa yang dirawat, kawasan hulu yang dijaga, data yang dibuka, dan petugas yang tahu apa yang harus dilakukan pada menit pertama.

Hujan tidak dapat diperintah turun pada hari yang kita inginkan. Pelayanan publik dapat disiapkan jauh sebelum langit mengering. Jawa Timur telah menunjukkan kemampuan bergerak saat darurat. Tugas berikutnya adalah bekerja lebih awal agar jeriken kosong di Pasuruan dan busa dari keran di Surabaya tidak terus menjadi alarm pertama krisis air.

———— *** ————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!