Pemprov Jatim, Bhirawa – Pengembangan kawasan Trowulan sebagai pusat warisan Majapahit harus berjalan dua arah, penataan fisik kawasan yang ketat dan penciptaan karya budaya yang membangkitkan minat publik. Demikian pesan yang disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Senin (27/7/2026).
Ia menjelaskan visi pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) terkait masa depan kawasan bersejarah itu. “Kami berharap pengembangannya berjalan melalui dua pendekatan sekaligus,” kata Emil.
Pendekatan pertama, menurutnya, menekankan penataan ruang dan tata kelola kawasan agar Trowulan semakin rapi dan bernilai sebagai destinasi sejarah.
“Bagaimana mendorong agar kawasan Trowulan semakin tertata. Selama ini sudah banyak inisiatif yang dilakukan, misalnya bantuan untuk rumah-rumah warga agar desain bangunannya mencerminkan arsitektur era Majapahit,” tutur Emil, menjelaskan.
Upaya penataan tidak hanya soal fasad bangunan. Pemerintah kota Mojokerto, lanjut Emil, berupaya mengembalikan fungsi sungai-sungai di kawasan tersebut sebagai bagian dari daya tarik wisata dan penentu orientasi ruang.
“Selain itu, Pemerintah Kota Mojokerto juga berupaya mengaktifkan kembali sungai-sungai di kawasan tersebut agar menjadi daya tarik wisata dan memperkuat orientasi kawasan terhadap sungai,” ujarnya.
Penguatan elemen sungai diharapkan memperkaya pengalaman pengunjung sekaligus mengembalikan tata ruang historis kawasan.
Pendekatan kedua yang sama pentingnya adalah pengembangan produk kreativitas yang mampu menghidupkan kembali ketertarikan publik terhadap sejarah Majapahit.
Emil menyoroti peran film dan karya kreatif lain dalam menjangkau audiens yang lebih luas. “Kami berharap lahir karya-karya yang mampu membangkitkan kembali semangat dan ketertarikan masyarakat terhadap Majapahit, misalnya melalui film yang dapat menjangkau pasar nasional bahkan internasional,” kata Emil.
Menurutnya, karya seperti itu bisa mendorong minat masyarakat untuk mempelajari lebih dalam sejarah Majapahit.
Emil kembali menegaskan, bahwa Majapahit sebenarnya sudah memiliki reputasi besar, namun tantangannya adalah bagaimana memanfaatkan reputasi tersebut secara produktif.
“Tantangannya adalah bagaimana memanfaatkan dan memberdayakan reputasi tersebut melalui berbagai karya film maupun produk kreatif lainnya yang pada akhirnya dapat mendorong minat wisata berbasis sejarah dan budaya Majapahit,” ujarnya.
Pendekatan ekonomi kreatif ini dinilai strategis untuk meningkatkan kunjungan wisata sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya. Namun Emil juga mengingatkan bahwa penataan fisik kawasan memiliki batasan regulasi yang ketat.
Di Trowulan terdapat Balai Pelestarian yang berwenang menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. “Karena itu, pembangunan di kawasan Trowulan tidak bisa dilakukan secara sembarangan agar nilai sejarah dan cagar budayanya tetap terjaga,” jelasnya.
Pernyataan ini menegaskan perlunya sinergi antara pemerintah daerah, lembaga pelestarian, dan masyarakat untuk merancang intervensi yang sensitif terhadap aspek konservasi.
Praktik-praktik awal yang sudah diterapkan, seperti bantuan desain rumah warga dan penataan sungai. Hal ini menunjukkan arah kebijakan yang mengedepankan keseimbangan antara pelestarian dan pemanfaatan.
Namun, menurut para pemerhati, tantangan ke depan terletak pada keterpaduan pengelolaan, pendanaan berkelanjutan, serta kemampuan menghadirkan produk budaya yang benar-benar menarik perhatian generasi muda.
Dengan dua pendekatan yang sejajar, penataan kawasaan berbasis konservasi dan pengembangan karya kreatif bertaraf nasional, Emil berharap Trowulan tidak hanya terjaga secara fisik, tetapi juga hidup dalam ingatan publik sebagai sumber kebanggaan dan daya tarik wisata budaya. “Jadi, kedua pendekatan itu harus berjalan beriringan,” katanya menutup. [aya.kt]


