Kabupaten Probolinggo, Bhirawa – Udara dingin lereng Gunung Bromo tak menyurutkan antusiasme ribuan penonton memadati Amfiteater Jiwa Jawa Resort, Desa Wonotoro, Kecamatan Sukapura, Jumat (24/7) malam. Hari pertama Jazz Gunung Bromo 2026 menghadirkan sederet musisi lintas generasi dan negara, dengan penampilan Isyana Sarasvati sebagai penutup.
Festival yang merupakan kolaborasi Jazz Gunung Indonesia, Kementerian Pariwisata dan Pemkab Probolinggo itu tidak hanya menyuguhkan pertunjukan musik, tetapi juga melibatkan pelaku UMKM, komunitas seni dan masyarakat di kawasan Bromo sehingga diharapkan memberikan dampak terhadap sektor pariwisata dan perekonomian lokal.
Founder Jazz Gunung Indonesia Sigit Pramono mengatakan, Jazz Gunung telah berkembang menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan seni, budaya, pariwisata hingga pelaku usaha lokal dalam satu ekosistem.
“Jazz Gunung Bromo bukan hanya tentang konser musik. Festival ini menjadi ruang kolaborasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat, pelaku usaha hingga sektor pariwisata di kawasan Bromo,” ujarnya.
Penampilan kemudian dilanjutkan oleh Plutato feat. Cait Lin dari Taiwan yang membawakan komposisi jazz dengan nuansa ringan. Setelah itu, Bilal Indrajaya tampil membawakan sejumlah lagu dengan karakter vokal dan gaya panggung khasnya yang disambut antusias penonton.
Puncak pertunjukan berlangsung saat Isyana Sarasvati tampil sebagai penampil terakhir. Penyanyi dan penulis lagu itu memilih konsep berbeda dibanding konser-konser yang biasa dibawakannya.
Lagu-lagu yang identik dengan aransemen rock progresif dan orkestrasi megah diubah menjadi format akustik dengan sentuhan chamber string.
Sejumlah lagu seperti Unlock the Key, Il Sogno dan My Mystery yang selama ini dikenal dengan aransemen rock progresif dengan sentuhan dan orkestral dihadirkan dalam format yang lebih sederhana.
Aransemen tersebut membuat karakter vokal dan komposisi musiknya lebih menonjol tanpa menghilangkan identitas lagu.
Di balik konsep yang diusung malam itu, Isyana mengaku sengaja menyiapkan aransemen berbeda khusus untuk Jazz Gunung Bromo.
Menurutnya, pendekatan tersebut sejalan dengan proses kreatif yang sedang ia jalani, yakni lebih leluasa mengeksplorasi berbagai kemungkinan dalam bermusik.
“Aku sedang di fase yang lebih eksploratif. Merasa lebih jujur dan bebas, membawa kalian ke dalam jiwa dan pikiran seorang Isyana Sarasvati,” tuturnya.
Sementara itu, Bupati Haris menilai penyelenggaraan event seperti Jazz Gunung Bromo menjadi salah satu sarana memperkenalkan potensi wisata Kabupaten Probolinggo.
Menurut Gus Haris, daerah tersebut memiliki kekayaan destinasi mulai dari kawasan pesisir hingga pegunungan yang terus dipromosikan melalui berbagai agenda pariwisata.
“Branding kita adalah Probolinggo Paradise. Kita memiliki potensi wisata dari pantai hingga pegunungan, termasuk Bromo, Argopuro, Lemongan, Madakaripura, dan berbagai destinasi lainnya. Tahun ini kami juga akan kembali menggelar Seven Beaches Festival,” katanya.
Festival yang memasuki penyelenggaraan ketujuh itu berlangsung selama dua hari dan menghadirkan sejumlah musisi nasional maupun internasional.
Selain pertunjukan musik, kegiatan tersebut juga melibatkan pelaku UMKM di sekitar kawasan wisata Bromo. [fir.kt]


