Semarang, Bhirawa
Mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono hadir dalam Rapat Kerja Gubernur Forum Kerja Sama Daerah Mitra Praja Utama (FKD–MPU) 2026 di Hotel Tentrem, Semarang, Selasa (12/5).
Ia menegaskan komitmen kuat Jawa Timur dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi sebagai pilar stabilitas ekonomi, kesejahteraan rakyat, serta daya saing regional.
Forum FKD–MPU ini menyatukan 10 provinsi strategis, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Lampung, Banten, Bali, NTB, dan NTT, untuk mempercepat pembangunan nasional melalui sinergi potensi unggulan. Adhy menilai forum ini sebagai wadah krusial menyikapi tantangan global seperti ketahanan pangan dan energi.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur sekaligus mewakili Ibu Gubernur, kami menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya forum ini sebagai wadah memperkuat kolaborasi dan kerja sama antardaerah dalam membangun ketahanan pangan dan energi yang berkelanjutan,” ujar Adhy.
Prestasi Pertanian Jatim sebagai Lumbung Pangan Nasional
Adhy menyoroti ketergantungan ekonomi Jatim pada pertanian, yang menyumbang 10,51 persen PDRB Triwulan I 2026—peringkat ketiga tertinggi—dengan Nilai Tukar Petani (NTP) Desember 2025 mencapai 118,96, tertinggi di Jawa.
Pemprov Jatim giat tingkatkan produksi via pupuk bersubsidi (2,07 juta ton pada 2025, serap 93,50 persen), 721 alsintan pra-panen, 151 pasca-panen, 195 irigasi perpompaan, TPT di 10 kabupaten, serta optimalisasi 20.008 ha lahan non-rawa.
Dengan 1,2 juta ha sawah baku, Jatim catat produksi padi 2025 sebesar 10,56 juta ton GKG (6,10 juta ton beras), naik 13,89 persen dan terbesar nasional. Jagung capai 4,59 juta ton (28,46 persen nasional), CBP Bulog 822.854 ton (tertinggi nasional), plus hortikultura seperti bawang merah 500.301 ton, cabai rawit 603.718 ton, tomat 126.810 ton, cabai besar 104.536 ton, dan kentang 252.624 ton.
Untuk 2026, target Luas Tambah Tanam padi 2,42 juta ha, hilirisasi via beras premium “Lahap”, serta antisipasi El Nino melalui pemetaan 8 kabupaten rawan, early warning, brigade kekeringan, rehabilitasi irigasi, dan varietas tahan kering.
“Mitigasi kekeringan dan penguatan manajemen air menjadi langkah penting agar produktivitas pangan tetap terjaga,” tegasnya. Proyeksi 2026 tunjukkan surplus beras 2,01 juta ton, telur ayam ras 1,84 juta ton, dan gula 856 ribu ton.
Ia tekankan ketahanan pangan dan energi saling terkait, dibangun terintegrasi dan kolaboratif lintas sektor.
Transisi Energi: Efisiensi dan EBT Jatim Melaju Kencang
Di energi, Jatim pacu efisiensi via PLTS atap gedung pemerintah, WFH kondisional, kendaraan listrik, bersepeda, kompor induksi, dan LPG non-subsidi untuk ASN.
“Upaya efisiensi energi juga dilakukan melalui penerapan Work From Home pada kondisi tertentu, penggunaan kendaraan listrik, budaya bersepeda, penggunaan kompor induksi, hingga imbauan penggunaan LPG non-subsidi bagi ASN,” jelasnya.
Rasio elektrifikasi 2025 capai 99,68 persen; Jatim sumbang 30 persen minyak bumi, 10 persen gas bumi nasional, serta 26 persen kapasitas listrik nasional. Bauran EBT Oktober 2025: 12,55 persen (lampaui target 12,15 persen), dengan potensi 188,41 GW dari surya, angin, panas bumi, biomassa, biogas, dan air.
Proyek jalan termasuk PLTM, PLTS atap/kepulauan/apung, PLTSa Benowo, gas biogenik, cofiring biomassa, PLTB Wongsorejo, plus inovasi ITS: Biogasolin Sawit (Benwit) dan Antasena hidrogen.
“Melalui Forum Kerja Sama Daerah Mitra Praja Utama ini, kami berharap terbangun kolaborasi yang semakin erat antarprovinsi untuk saling berbagi praktik terbaik dan menghadirkan solusi bersama bagi pembangunan berkelanjutan. Jawa Timur siap terus bersinergi dalam mewujudkan Indonesia yang tangguh, berdaulat pangan, berdaulat energi, dan semakin maju,” pungkas Adhy. [aya.kt]


