Pemprov, Bhirawa
Sejumlah pasang mata menatap lekat layar presentasi di ruang pertemuan Unit Pelaksana Teknis Rehabilitasi Sosial Bina Laras Pasuruan. Mereka yang hadir bukan sedang mengikuti seremoni biasa, melainkan tengah merajut masa depan baru bagi penyandang disabilitas mental di Jawa Timur.
Lewat program Kacamata BL, sekat birokrasi dan jarak yang selama ini mengisolasi para penderita gangguan jiwa perlahan mulai runtuh. Selama ini, pelayanan terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa kerap menghadapi jalan buntu akibat kendala jarak dan birokrasi.
Namun, Pemerintah Provinsi Jawa Timur kini mulai mengikis pembatas tersebut. Melalui sebuah terobosan bertajuk Kacamata BL, singkatan dari Kegiatan Outreach and Management Assessment Bina Laras, paradigma pelayanan kini resmi berubah arah.
Petugas tidak lagi pasif menunggu laporan di balik meja, melainkan bergerak aktif menjemput bola langsung ke tengah masyarakat. Langkah konkret perubahan tersebut mewujud dalam agenda Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Implementasi Inovasi Kacamata BL.
Program ini mengintegrasikan tiga pilar utama pelayanan, yakni penjangkauan lapangan yang agresif, edukasi mendalam bagi lingkungan sekitar, serta manajemen asesmen yang terpadu.
Dalam pemaparannya, pekerja sosial Titis Rahlianda mengupas tuntas urat nadi teknis program tersebut. Ia menjelaskan bahwa penanganan di lapangan tidak boleh seragam. Petugas wajib menerapkan strategi intervensi yang berbeda, yang disesuaikan dengan kebutuhan personal tiap individu serta kondisi psikologis keluarga yang mendampinginya.
Kepala UPT RSBL Pasuruan, Kusuma Atmadja, melalui Kasi Rehabilitasi Sosial Drajat Suhartono, menegaskan bahwa Kacamata BL merupakan bentuk nyata transformasi pelayanan publik. Pihaknya ingin memastikan negara hadir lebih cepat dan tepat sasaran.
Melalui kolaborasi lintas sektor yang kuat, UPT RSBL Pasuruan berharap kebutuhan dasar dan hak-hak penyandang disabilitas mental dapat terpenuhi secara komprehensif, mulai dari proses asesmen awal hingga pendampingan jangka panjang.
Gayung bersambut, gerakan humanis ini memicu dukungan luas dari berbagai elemen, termasuk sektor pendidikan tinggi. Perwakilan Prodi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang, M. Rosyidul Ibad, menilai inovasi ini sebagai jawaban nyata atas jeritan hati keluarga ODGJ yang selama ini merasa sendirian.
Bagi dunia akademis, sinergi ini juga menjadi ruang pengabdian masyarakat yang konkret untuk menghadirkan layanan kesehatan jiwa yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Melalui kerja sama erat bersama Puskesmas Kedawung Wetan, TKSK Grati, hingga mitra swasta, UPT RSBL Pasuruan optimistis Kacamata BL mampu menjadi pemantik perubahan.
Inovasi ini diharapkan mampu menghapus stigma negatif dan mengembalikan martabat para penyandang disabilitas mental sebagai warga negara yang utuh. [rac.kt]


