Gresik, Bhirawa
Saat sinar mentari pagi belum sepenuhnya membelai Dusun Slempit, Desa Slempit, Kecamatan Kedamean, aktivitas para prajurit Satuan Tugas TMMD ke-128 Gresik sudah mulai bergulir. Di rumah-rumah warga yang menjadi tempat tinggal sementara, mereka bangun lebih awal.
Tanpa banyak kata, tangan-tangan terampil itu langsung merapikan tempat tidur, menyapu halaman, membersihkan ruangan, hingga tak segan mencuci piring bekas pakai. Kesederhanaan yang terpancar ini menjadi bukti nyata betapa kehidupan para prajurit begitu dekat dan menyatu dengan masyarakat yang mereka layani.
Setelah merapikan tempat tinggal, mereka segera menyiapkan perlengkapan dinas dengan penuh ketertiban dan kedisiplinan. Usai mandi dan bersih diri, satu per satu mengenakan seragam loreng kebanggaan, sepatu pun disemir hingga tampak berkilau. Bagi para prajurit, kerapian dan kedisiplinan bukan sekadar aturan, melainkan cerminan kehormatan yang harus senantiasa dijaga.
Dengan perlengkapan lengkap, mereka berjalan kaki menuju lokasi pekerjaan perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), yang merupakan salah satu dari delapan sasaran pembangunan fisik dalam program TMMD kali ini. Sepanjang perjalanan, mereka tak lupa menyapa ramah warga yang mulai memulai aktivitas paginya.
Sesampainya di lokasi, digelar apel singkat Komandan Regu menyampaikan arahan kerja, sebelum seluruh personel menundukkan kepala berdoa bersama, memohon keselamatan dan kelancaran dalam menjalankan tugas mulia tersebut.
Tak berlama-lama, mereka segera turun ke lapangan bekerja bahu-membahu bersama warga. Suara dentuman palu, gesekan gergaji, hingga bunyi adukan semen bergema memenuhi udara. Ada yang sigap mengangkat material, memasang bata, mengaduk semen, hingga merapikan struktur bangunan.
Di bawah teriknya sinar matahari, keringat membasahi seragam loreng mereka—dan tak kalah banyak, keringat juga membasahi wajah warga yang bekerja bersama mereka. Di sinilah semangat gotong royong yang luhur terwujud dengan begitu nyata dan indah.
Menjelang senja, aktivitas fisik dihentikan sejenak. Para prajurit kembali berkumpul dalam apel penutupan guna mengevaluasi kinerja serta memastikan seluruh personel dalam keadaan aman setelah bekerja seharian penuh.
Namun, rutinitas mereka belum usai. Demi menjaga kebugaran dan ketangguhan tubuh, sejumlah prajurit melanjutkan dengan olahraga ringan—ada yang berlari santai mengelilingi desa, ada pula yang sekadar melakukan peregangan otot.
Saat malam tiba, suasana berubah menjadi jauh lebih hangat dan santai. Di rumah warga tempat mereka menumpang, para prajurit bercengkerama sambil menyeruput secangkir kopi hangat. Ada yang memetik irama gitar, menyanyikan lagu-lagu semangat, hingga bersantap malam bersama-sama dengan tuan rumah seolah bagai keluarga sendiri.
Di balik beratnya pekerjaan fisik yang mereka emban setiap hari, tersimpan ketulusan pengabdian para prajurit. Mereka rela meninggalkan keluarga dan kampung halaman demi datang ke desa ini, membangun, membantu, dan meringankan beban masyarakat—membuktikan bahwa TNI hadir bukan hanya untuk menjaga kedaulatan, tetapi juga untuk membangun kebahagiaan di hati rakyat. [iin.kt]


