Gresik, Bhirawa
Pasar Sidayu Pasca diresmikan Mendag, Budi santoso, Dinas lingkungan hidup (DLH) Gresik. Per hari jumlah sampai yang dihasilkan mencapai setengah ton, dalam upaya optimalisasi sampah masyarakat didorong untuk memilah sampah sejak dari sumbernya.
Menurut Kepala DLH Kabupaten Gresik, Sri Subaidah, Pasar Sidayu menerapkan sistem pengelolaan sampah atau pemilah sampah. Dan masyarakat diutamakan untuk melakukan pemilahan sampah, menjadi dua jenis dan sudah disediakan tempat sampah yaitu organik dan non organik. Sampah yang sudah dipilah, langsung dibawah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Randuboto.
”Kami sudah mempersiapkan dua jenis tempat sampah, yaitu organik dan non organik. Sehingga proses pengolahan sampah menjadi lebih mudah, sampah yang sudah dipilah diarahkan ke TPST Randuboto,” ujarnya.
Limbah sampah yang tidak dapat dipilah atau termasuk kategori residu nantinya akan dibawah ke Tempat Pembuang Akhir (TPA) Ngipik. Selanjutnya sampah residu akan diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif. Volume sampah dalam satu hari diperkirakan mencapai sekitar setengah ton.
”Limbah sampah residu akan diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF), sebagai bahan bakar alternatif,” ungkapnya.
Sri Subaidah menegaskan, melalui langkah ini diharapkan pengelolaan sampah di Pasar Sidayu dapat lebih efektif. Sekaligus mengurangi beban lingkungan, khususnya di kawasan pasar dan sekitarnya. Sehingga, baik pedagang dan pembeli merasakan bersih dan nyaman. Karena l pasar ini merupakan kebanggaan masyarakat Gresik Utara, dan sekaligus menjadi pusat ekonomi serta harus di rawat dengan baik. [kim.fen]


