Belakangan ini, kita kembali menyaksikan ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru tanah air turun ke jalan. Gelombang aksi unjuk rasa, seperti yang disuarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) dan berbagai aliansi kampus lainnya, bukanlah sekadar rutinitas musiman. Aksi demonstrasi ini merupakan respons kritis terhadap kondisi ekonomi nasional yang semakin memberatkan masyarakat.
Sebagai masyarakat yang merasakan langsung himpitan hidup, saya sangat mengapresiasi dan mendukung perjuangan para mahasiswa ini. Di tengah ketidakpastian global, rakyat kecil terus dihantam oleh tingginya harga kebutuhan pokok dan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Di warung-warung, pasar, hingga dapur rumah tangga, jeritan ibu-ibu dan pelaku usaha mikro kian nyata karena daya beli yang terus merosot. Beban hidup ini terasa semakin berat karena pendapatan masyarakat tidak sebanding dengan lonjakan pengeluaran harian.
Mahasiswa, dengan segala idealisme dan kajian akademisnya, telah dengan berani menyuarakan penderitaan rakyat. Mereka menuntut adanya evaluasi total terhadap kebijakan fiskal dan tata kelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dianggap kurang tepat sasaran. Kritik tajam terhadap program-program yang dinilai boros anggaran-seperti Makan Bergizi Gratis (MBG)-serta penolakan terhadap pemborosan proyek-proyek tertentu adalah bentuk kepedulian nyata agar uang rakyat benar-benar digunakan untuk sektor prioritas.
Demonstrasi ini bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan alarm darurat yang dikirimkan oleh kaum intelektual muda agar pemerintah segera mengambil langkah konkret demi penyelamatan ekonomi. Sudah saatnya pemerintah berhenti mengelak atau bersembunyi di balik retorika politik. Pemerintah harus membuka ruang dialog yang seluas-luasnya, mendengar keresahan kaum muda, dan segera mengevaluasi kebijakan ekonomi yang mencekik rakyat kecil.
Amanda Putri
Mahasiswi, Semolowaru, Surabaya


