Kab Malang, Bhirawa – Destinasi Wisata Alam Coban Rondo yang terletak di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, kini memang menjadi salah satu destinasi wisata alam paling ikonik di wilayah Malang Barat. Karena memiliki kombinasi antara udara pegunungan yang sejuk, hutan pinus yang asri, dan kemegahan air terjunnya membuat tempat ini selalu berhasil memikat wisatawan.
Wisata alam tersebut menyajikan keindahan alamnya, seperti air terjun, memiliki ketinggian setinggi 84 meter dan berada di ketinggian 1.135 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Selain itu, airnya yang jernih dan segar mengalir langsung dari mata air di lereng Gunung Kawi (sumber sepur), juga terdapat hutan pinus dan keasrian alam sepanjang perjalanan masuk lokasi wisata air terjun, yang disambut oleh deretan pohon pinus yang lebat dan menjulang tinggi. Kawasan ini juga menjadi habitat alami bagi kawanan monyet ekor panjang yang ramah, menambah kesan petualangan alam yang autentik.
Di tempat wisata alam tersebut juga terdapat wahana dan aktivitas seru selain menikmati pemandangan air terjun, kawasan Wisata Coban Rondo kini telah berkembang menjadi tempat wisata terpadu dengan berbagai fasilitas, seperti Taman Labirin, Wahana Outbound dan Adrenalin, Spot Foto Instagramable, dan Area Camping. Jika wisatawan berwisata di bulan Juni-Agustus ke Wisata Alam Coban Rondo, kini suhu udaranya sangat dingin karena musim bedinding.
Hal ini dibenarkan, salah satu tokoh masyarakat Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, yang juga sebagai Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Malang Sodikul Amin, Rabu (17/6) kepada Bhirawa, bahwa kini Wisata Alam Coban Rondo banyak perubahan, yang sebelumnya hanya menyajikan air terjun dan pepohonan pinus saja, namun kini sudah mengalami perubahan yang pesat. Wisatawan lebih tertarik datang di Wisata Coban Rondo, dan bisa berlama-lama disana, karena sudah tersedia hotel.
Dia menyampaikan, Wisata Coban Rondo memiliki kisah rakyat yang mungkin sebagian masyarakat belum mengetahui, kenapa air terjun yang berada di kawasan hutan itu dinamakan Air Terjun Coban Rondo?. Cerita bermula dari sepasang pengantin baru yakni Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi dan Raden Baron Kusumo dari Gunung Anjasmoro. Setelah usia pernikahan mereka mencapai selapan atau 36 hari, Dewi Anjarwati mengajak suaminya untuk berkunjung ke keluarga mertua di Gunung Anjasmoro. Namun, orang tua Dewi Anjarwati melarang keras rencana tersebut, karena adanya mitos Jawa bahwa pengantin baru dilarang bepergian jauh sebelum melewati masa-masa tertentu atau bisa mendatangkan sial.
Lanjut Sodikul, di tengah perjalanan, rombongan mereka berpapasan dengan seorang pria asing bernama Joko Lelono. Dia terpikat oleh kecantikan Dewi Anjarwati, Joko Lelono berusaha merebutnya dari sang suami. Sehingga terjadi pertempuran sengit antara Raden Baron Kusumo dan Joko Lelono tidak dapat dihindarkan. Demi keselamatan istrinya, Raden Baron Kusumo memerintahkan para pembantunya untuk menyembunyikan Dewi Anjarwati di sebuah tempat aman di balik air terjun.
“Pertarungan antara Raden Baron Kusumo dan Joko Lelono berlangsung sangat hebat hingga keduanya sama-sama tewas,” terangnya.
Dia masih melanjutkan, Dewi Anjarwati yang setia menunggu di balik air terjun akhirnya mendengar kabar duka tersebut, yang mana suaminya telah gugur, maka Dewi menjadi seorang janda (rondo).
Sejak saat itulah, masyarakat setempat menamai air terjun tempat persembunyian sang Dewi dengan nama Coban Rondo. Dan ada lagi mitos, bahwa ada batu besar di bawah air terjun adalah tempat di mana Dewi Anjarwati sering duduk merenung dan menangisi nasibnya.
“Ada juga mitos yang beredar di masyarakat bahwa pasangan kekasih yang datang ke Coban Rondo hubungannya bisa kandas, meski itu tentu kembali ke kepercayaan masing-masing,” pungkas Sodikul. [cyn.kt]


