Nganjuk, Bhirawa
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menunjukkan kegeraman luar biasa saat meninjau lokasi pembangunan proyek strategis Sekolah Rakyat di Desa Balong Gebang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk, Sabtu (11/4/2026).
Melihat kinerja pelaksanaan yang dinilai tidak serius, Menteri Dody tak menahan emosinya. Ia bahkan menegaskan, jika usianya masih muda, ia tak segan-segan memberikan hukuman fisik kepada pihak yang bertanggung jawab.
“Kalau kemarin saya masih umur 20 tahunan, saya tonjok tuh Kepala Balai dan PPK-nya! Bener saya tonjok! Jengkel banget saya itu,” ujar Dody dengan nada tinggi.
Ia menegaskan agar tidak ada pihak yang bermain-main dengan program prioritas nasional, apalagi yang tujuannya untuk menyejahterakan rakyat dan menghapus kemiskinan ekstrem.
“Please deh, jangan main-main sama program Presiden. Kalau memang enggak suka dengan Pak Prabowo Subianto, keluar saja dari jadi ASN! Berhenti! Jangan bekerja tapi merusak,” tegasnya.
Kementerian PU menunjuk kontraktor Brantas Abhipraya II untuk mengerjakan proyek Sekolah Rakyat seluas 5 hektar tersebut. Namun, saat ditinjau, progres dan kualitasnya dinilai jauh dari harapan.
Yang membuat Menteri semakin geram adalah alasan yang diberikan pihak pelaksana terkait keterlambatan atau target yang hanya mencapai 15 persen.
“Yang lebih mengagetkan lagi, saya datang itu dikasih alasan kenapa harus 15 persen itu diterima. Jadi saya makin kaget, makanya keluar kata-kata yang seharusnya tidak saya ucapkan,” ungkapnya.
Menurutnya, bermain-main boleh dilakukan di proyek lain seperti jalan atau jembatan, namun tidak untuk program yang menyentuh langsung hajat hidup orang banyak.
“Bikin jalan kek, bikin jembatan mau main-main boleh terserah, tapi program prioritas Presiden janganlah! Apalagi ini untuk menghapus kemiskinan ekstrem. Ini program negarawan yang dipikirkan Pak Prabowo, tapi masih saja diselewengkan,” tambahnya.
Menteri Dody meminta seluruh pihak terkait di lingkungan Kementerian PU dan kontraktor segera berbenah. Ia memerintahkan pembongkaran jika ada bagian yang tidak sesuai standar, dan menuntaskan seluruh pekerjaan tepat waktu.
Targetnya sangat ketat, proyek harus selesai pada 20 Juni 2026, siap operasional pada 30 Juni, dan pada 1 Juli sudah bisa digunakan siswa untuk belajar.
“Ya sorry, saya kemarin bener-bener khilaf. Jengkel saya. Coba kalau masih umur 20-30, saya tonjok beneran tuh orang. Mohon maaf, sebagai menteri saya tidak boleh begitu, tapi kalau program atasan dibuat mainan, rasanya tidak terima,” pungkasnya.
Proyek Sekolah Rakyat ini merupakan bagian dari visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk pemerataan pendidikan yang layak guna mencetak SDM berkualitas di masa depan. [dro.kt]


