27.2 C
Sidoarjo
Wednesday, June 17, 2026
spot_img

Pakar Geopolitik Ingatkan Bahaya Polarisasi Digital, Mahasiswa Jatim Diminta Kritis

Sejumlah pakar hadir pada diskusi Publik yang digelar di Hyde caffe UB Kota Malang. Rabu (17/6/2026).

Kota ​Malang, Bhirawa.
Lanskap geopolitik dunia telah mengalami transformasi besar. Ancaman terhadap kedaulatan negara saat ini tidak lagi identik dengan peperangan fisik (militer), melainkan telah bergeser ke ranah geo-ekonomi, teknologi informasi, dan dunia siber yang bergerak secara kasat mata. Fenomena ini menuntut generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk lebih kritis dan realistis dalam membaca situasi.

​Hal tersebut mengemuka pada Diskusi Publik bertajuk “Perkembangan Dinamika Global dan Nasional dari Berbagai Perspektif” yang digelar di Cafe Hyde, dekat Universitas Brawijaya (UB) Kota Malang, Rabu (17/6).

​Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Ahli Geopolitik dan Media, Yusuf R. Hakim; Staf Ahli Kementerian HAM, Penta Peturun; serta Direktur Eksekutif Institute for Defence, Security and Peace Studies (IDSPS), Mufti Makarim.

​Dalam pemaparannya, Yusuf R. Hakim menjelaskan bahwa ruang siber kini telah menjadi matra keempat yang sangat menentukan dalam pertahanan negara, selain darat, laut, dan udara.

​”Negara modern saat ini sudah bergerak menguasai dunia siber. Ancaman utama kita hari ini justru diawali dari sektor geo-ekonomi, bukan militer langsung,” ujar Yusuf di hadapan ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur.

​Menurut Yusuf, perang modern saat ini lebih banyak menggunakan instrumen penguasaan informasi, manipulasi opini publik, hingga penyebaran disinformasi yang mampu menggoyang stabilitas sosial dan politik. Apalagi, saat ini sekitar 70 persen masyarakat beralih mengonsumsi informasi melalui media sosial ketimbang media arus utama.

Berita Terkait :  Kapolda Jatim Letakkan Batu Pertama Pembangunan Mako Satpolairud Polres Malang

​Ia mewaspadai bahaya algoritma digital yang sengaja dirancang untuk membentuk polarisasi di tengah masyarakat. Karakteristik algoritma ini menyaring dan memilah masyarakat berdasarkan sentimen negatif demi kepentingan tertentu.

​”Bahayanya, kemarahan dan sentimen negatif sengaja diolah di dunia maya lalu ditarik ke dalam kehidupan nyata. Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi kita sangat membutuhkan orang-orang yang tetap berpikir kritis dan realistis,” tegasnya.

​Sementara itu, Staf Ahli Kementerian HAM, Penta Peturun, menyoroti posisi strategis Indonesia yang selalu menjadi incaran dalam kompetisi global karena kekayaan alam dan pasar domestik yang menggiurkan.

​”Kita harus pintar dan jeli dalam membaca serta menempatkan posisi Indonesia di tengah sengitnya dinamika politik global,” kata Penta sembari menekankan pentingnya wawasan kebangsaan bagi pemuda.

​Respons Mahasiswa
Diskusi yang berlangsung dinamis ini mendapat respons positif dari kalangan aktivis kampus. Korwil Bank PTN UJATI asal Tuban, Hasan Husaini, menilai forum ini sangat penting sebagai bahan edukasi politik agar mahasiswa tidak asal bergerak.

​”Mahasiswa perlu berdiskusi dan memahami dinamika global maupun nasional agar gerakan sosial yang dilakukan benar-benar berbasis data dan memberikan solusi,” cetus Hasan.

​Senada, perwakilan Kemenlu BEM Universitas Islam Malang (Unisma), Intan, mengaku mendapatkan perspektif baru terkait kontribusi nyata yang harus dipersiapkan mahasiswa untuk masa depan negara.

​Melihat tingginya antusiasme peserta, Muhammad Ubaidillah Presbem Pasuruan Raya, berharap forum literasi seperti ini tidak hanya berpusat di Malang.

Berita Terkait :  Mas Iin Target 80 Persen Suara di Pilkada Sidoarjo

“Harus diperluas ke daerah-daerah lain di Jatim agar kualitas literasi publik mahasiswa merata dalam menghadapi kompleksitas tantangan global,” tandasnya. [mut.hel].

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!