Oleh :
Supangat, Ph.D
Wakil Rektor II Univeritas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Dosen Fakultas Teknologi Elektro dan Infomatika Cerdas (FTEIC) Untag Surabaya
Eskalasi geopolitik di Timur Tengah pada Maret 2026 menghadirkan cara pandang baru dalam melihat konflik modern. Serangan udara Iran yang memadukan drone (UAV) dan rudal balistik tidak lagi bisa dipahami sekadar sebagai kekuatan militer konvensional. Di baliknya, ada peran sistem digital yang bekerja senyap namun sangat menentukan.
Dari perspektif teknologi informasi, fenomena ini menunjukkan kematangan penerapan Cyber-Physical Systems (CPS). Artinya, apa yang terjadi di langit sangat ditentukan oleh apa yang dikelola di layar, mulai dari data, algoritma, hingga sistem kendali yang menopangnya.
Peran Sistem Navigasi dalam Menentukan Akurasi
Akurasi serangan ini yang dinilai melampaui ekspektasi tidak lepas dari strategi dalam sistem navigasi. Selama ini, banyak sistem bergantung pada GPS yang berada di bawah kendali Amerika Serikat, yang secara teknis rentan terhadap gangguan atau intervensi elektronik.
Dalam konteks ini, penggunaan lebih dari satu sistem navigasi menjadi pendekatan yang penting untuk dicermati. Sistem seperti BeiDou dari Tiongkok dan GLONASS dari Rusia dapat dimanfaatkan secara bersamaan. Selain itu, digunakan pula pendekatan berbasis Inertial Navigation System (INS) yang tetap dapat menjaga arah tanpa sinyal eksternal, serta dukungan kecerdasan buatan melalui pemrosesan citra.
Kombinasi ini membuat sistem tetap berjalan meskipun sinyal terganggu atau bahkan tidak tersedia sama sekali.
Digital Twin dan Analisis Prediktif
Dari sisi siber, keberhasilan ini tidak terjadi secara instan. Ada proses panjang yang berbasis data sebelum serangan dilakukan. Salah satu pendekatan kunci adalah penggunaan digital twin, yaitu pembuatan replika virtual dari sistem pertahanan lawan.
Melalui model ini, berbagai skenario dapat disimulasikan terlebih dahulu, mulai dari cara kerja radar hingga respons sistem pertahanan udara. Dengan kata lain, serangan tidak lagi bersifat coba-coba, tetapi telah melalui proses pengujian di ruang digital sebelum diterapkan di lapangan.
Pendekatan ini membuat serangan menjadi lebih terukur karena titik lemah target sudah dapat diidentifikasi lebih awal. Sejumlah pemantauan global juga menunjukkan adanya aktivitas pemindaian potensi celah keamanan (vulnerability scanning) pada infrastruktur penting sebelum serangan terjadi. Hal ini memperlihatkan bahwa aktivitas siber kini berperan sebagai fondasi dalam menentukan efektivitas serangan fisik.
Transformasi Akurasi: Dari Sistem Lama ke Sistem Cerdas
Untuk memahami perubahan ini, kita bisa membandingkan cara kerja sistem navigasi dari masa ke masa.Pada sistem lama yang hanya mengandalkan GPS, kinerjanya sangat bergantung pada sinyal satelit. Ibarat seseorang yang sepenuhnya bergantung pada peta di ponsel, ketika sinyal hilang, ia langsung kehilangan arah.
Dalam kondisi terganggu, sistem ini bisa gagal total dan meleset cukup jauh, bahkan sejauh ukuran satu lapangan. Ketergantungannya tinggi, sehingga mudah dilumpuhkan.
Sistem yang lebih modern mulai menggabungkan beberapa sumber navigasi. Ibarat pengguna peta digital yang juga hafal jalan alternatif, sistem ini tidak langsung tersesat ketika sinyal terganggu. Ia mungkin melambat atau kurang presisi, tetapi tetap bisa bergerak menuju target. Tingkat akurasinya lebih baik, meskipun masih bisa meleset dalam batas tertentu, dan ketergantungannya terhadap sistem eksternal mulai berkurang.
Sementara itu, sistem berbasis kecerdasan buatan menunjukkan lompatan yang jauh lebih signifikan. Sistem tidak hanya mengikuti sinyal, tetapi juga mampu “melihat” dan memahami lingkungan di sekitarnya. Dalam analogi sederhana, ini seperti penduduk lokal yang mengenal setiap sudut wilayahnya, bahkan tanpa bantuan peta.
Ketika menghadapi gangguan, sistem ini tidak mudah terpengaruh. Ia tetap mampu menyesuaikan arah secara mandiri dan mencapai target dengan tingkat presisi yang sangat tinggi, diibaratkan setepat memasukkan kunci ke lubangnya. Ketergantungannya terhadap satelit menjadi sangat kecil, karena kemampuan pengambilan keputusan sudah berada di dalam sistem itu sendiri.
Analisis dan Implikasi Teknologi
Perubahan ini menunjukkan bahwa kecerdasan buatan telah menggeser fungsi rudal dan drone dari sekadar “alat” menjadi sistem yang memiliki kemampuan adaptasi. Keberhasilan tidak lagi ditentukan semata oleh kekuatan perangkat keras, tetapi oleh kualitas algoritma dan data yang digunakan.
Secara akademis, hal ini berkaitan dengan konsep edge computing, yaitu pemrosesan data langsung di perangkat tanpa bergantung pada pusat kendali. Pendekatan ini mengurangi risiko gangguan komunikasi sekaligus meningkatkan respons sistem secara real-time.
Dengan demikian, akurasi tidak lagi bergantung pada siapa yang memiliki satelit paling kuat, tetapi pada siapa yang memiliki kemampuan terbaik dalam mengolah dan memanfaatkan data.
Pentingnya Kedaulatan Digital
Peristiwa ini menunjukkan bahwa kedaulatan negara kini tidak hanya menyangkut wilayah fisik, tetapi juga ruang digital. Ketika sistem persenjataan terhubung seperti perangkat Internet of Things (IoT), maka potensi ancaman juga semakin luas, termasuk melalui celah perangkat lunak atau rantai pasok teknologi.
Data dari International Telecommunication Union (ITU) menunjukkan bahwa negara yang belum mandiri dalam infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi berpotensi menghadapi ketimpangan dalam konflik modern. Oleh karena itu, pengamanan sistem dan jaringan menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas nasional.
Arah Baru Pertahanan Modern
Ke depan, transformasi pertahanan tidak cukup hanya berfokus pada penguatan alat utama sistem senjata. Penguatan ekosistem siber menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.Ada dua langkah yang dapat menjadi perhatian. Pertama, memperkuat keamanan sistem komunikasi data agar tidak mudah dimanipulasi dari luar. Kedua, mengembangkan sistem navigasi yang lebih mandiri dan tidak bergantung pada satu sumber global.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa akurasi dalam konflik modern tidak lagi ditentukan oleh besarnya daya hancur, melainkan oleh kualitas data dan ketahanan sistem digital.
————– *** —————-


