Gubernur Jatim Siapkan Strategi Terpadu Antisipasi Dampak Geopolitik Global, Mitigasi Dampak Sosial Ekonomi akibat Perang Timur Tengah
Pemprov Jatim, Bhirawa
Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperkuat langkah antisipatif menghadapi dampak ketegangan geopolitik global melalui strategi terintegrasi lintas sektor. Upaya ini dibahas dalam diskusi publik bersama bupati/wali kota se-Jatim di Gedung Negara Grahadi, Surabaya.
Diskusi dipandu Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menghadirkan narasumber dari kalangan teknokrat maupun akademisi, diantaranya Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso (secara daring), Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur Ibrahim, serta Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Airlangga Gigih Prihantoro.
Dalam diskusi yang bertema Mitigasi dan Solusi Dampak Sosial Ekonomi bagi Jawa Timur Akibat Ketegangan Geopolitik antara Amerika- Israel dengan Iran ini. Khofifah menyebut telah menyiapkan strategi terpadu untuk memitigasi dampak dinamika geopolitik global terhadap Jawa Timur, khususnya pada sektor energi, pangan, dan logistik.
Menurut orang nomor satu di Jatim ini, dinamika geopolitik global berpotensi mengganggu rantai pasok, memicu fluktuasi harga energi, serta meningkatkan tekanan inflasi. Karena itu, dibutuhkan respons kolektif dan kebijakan yang adaptif.
”Tantangan ini harus dijawab dengan penguatan ketahanan sekaligus peningkatan kapasitas adaptasi daerah,” ujarnya, Rabu (25/3) sore.
Kendati demikian, Khofifah menekankan bahwa tantangan global harus dijawab dengan penguatan ketahanan sekaligus peningkatan kapasitas adaptasi daerah.
”Tantangan hari ini bukan hanya soal bertahan, tetapi bagaimana menjadikan Jawa Timur sebagai daerah yang resilien, adaptif, dan mampu menangkap peluang di tengah dinamika global,” tegasnya.
Sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional, Jawa Timur memiliki peran strategis dengan kontribusi sebesar 25,29 persen terhadap ekonomi Pulau Jawa dan 14,40% terhadap nasional.
Pada tahun 2025, PDRB Jawa Timur tercatat mencapai Rp3.403,17 triliun dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,33%, didukung oleh sekitar 23,8 juta penduduk bekerja. Kinerja investasi Jawa Timur juga menunjukkan tren positif dengan kontribusi sebesar 7,5% terhadap nasional dan menempati posisi ketiga secara nasional.
Pada triwulan IV 2025, investasi Jawa Timur tumbuh 31,6% secara kuartalan dan meningkat 11,4 persen secara tahunan, mencerminkan kepercayaan investor yang tetap kuat.
Di sektor logistik, Jawa Timur berperan sebagai simpul distribusi nasional. Pelabuhan Tanjung Perak melayani 24 dari 41 rute tol laut dan menyuplai hampir 80% logistik ke 19 provinsi di kawasan Indonesia Timur, didukung oleh 7 bandara, 37 pelabuhan, dan 12 ruas jalan tol.
Jawa Timur juga merupakan lumbung pangan nasional dengan produksi padi dan beras tertinggi di Indonesia. Cadangan beras pemerintah di wilayah ini tercatat mencapai 825,36 ton, tertinggi secara nasional, serta didukung oleh populasi ternak terbesar di Indonesia.
”Maka menjaga ketahanan pangan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan strategis. Jawa Timur harus menjadi daerah yang tidak hanya tahan terhadap krisis pangan, tetapi juga menjadi penopang ketahanan pangan nasional,” kata Khofifah. [ina.fen]


