Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Jatim, Aftabuddin RZ
Pemprov Jatim, Bhirawa.
Pasar murah selama Bulan Ramadan 2026 yang digagas Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, bukan merupakan kompetitor bagi pasar regional. Inisiatif ini justru berdampak besar terhadap animo masyarakat serta memancing daya beli agar terangkat secara signifikan.
Aftabuddin RZ, Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Jatim, menjelaskan bahwa dampak positif dari pasar murah selama Bulan Ramadan 2026 dapat dirasakan sepanjang bulan puasa hingga momen Hari Raya Idulfitri 2026. Program ini dirancang untuk menstabilkan harga pangan di tengah tekanan inflasi musiman.
“Dibeberapa daerah di wilayah Jatim tren inflasinya cukup terjaga. Memang pada momen Hari Besar Agama (HBA) banyak menimbulkan pergeseran harga yang sangat fluktuatif. Namun, tren menunjukkan jika harga lebih stabil setelah HBA berakhir,” cetus Afta saat ditemui Bhirawa di Kantor Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Jalan Pahlawan Surabaya, Rabu (25/3/2026).
Pada Ramadan 2026 ini, tercatat ada sekitar 120 titik pasar murah yang digelar di seluruh wilayah Provinsi Jawa Timur, mulai dari Surabaya hingga pelosok kabupaten seperti Banyuwangi dan Madiun. Penyelenggaraan ini menyasar daerah-daerah rawan inflasi, dengan distribusi merata untuk menjangkau masyarakat di perkotaan maupun pedesaan.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menunjukkan bahwa inflasi bulanan di Jawa Timur pada Februari 2026 mencapai 0,45%, lebih rendah dibandingkan nasional sebesar 0,52%, berkat intervensi pemerintah provinsi seperti program ini.
Untuk implementasinya, Afta menjelaskan bahwa ada beberapa komoditas bahan pokok yang dijual dengan harga terjangkau. Di antaranya, beras medium Rp11.000 per kilogram (turun 20% dari harga pasar), minyak goreng curah Rp13.500 per liter, telur ayam ras 30 butir Rp42.000, daging ayam segar Rp36.000 per kilogram, cabai merah Rp40.000 per kilogram, serta sayuran seperti bawang merah dan tomat dengan diskon hingga 15-25%. Komoditas ini dipilih karena merupakan penyumbang inflasi terbesar selama Ramadan, menurut laporan BPS.
“Program ini digelar berkat kerjasama dengan berbagai pihak terkait, seperti Bulog, Dinas Pertanian, Dinas Peternakan dan lain sebagainya,” cetus dia.
Kerjasama ini melibatkan stok cadangan Bulog sebanyak 50.000 ton beras untuk Ramadan, ditambah distribusi dari koperasi unit desa (KUD) dan peternak lokal. Selain itu, Dinas Perdagangan Jatim memastikan pengawasan ketat untuk mencegah penimbunan, dengan melibatkan Satgas Pangan yang melakukan razia rutin di 38 kabupaten/kota.
Terkait harga komoditas yang dijual di pasar murah, Afta menambahkan bahwa memang harganya jauh di bawah harga standar pasar. Namun, hal ini tidak merusak harga atau mematikan para pedagang pasar regional, karena pasar murah dibatasi kuota dan jadwal sementara.
“Untuk penyelenggaraan pasar murah itu sendiri, sebelumnya juga sudah kami kaji. Ada beberapa daerah yang telah terpilih untuk diintervensi untuk diselenggarakan pasar murah sepanjang Bulan Puasa kemarin. Jadi untuk titik-titik penyelenggaraan kami tidak ngawur,” urai dia.
Studi pra-pelaksanaan dilakukan berdasarkan data inflasi per komoditas dari BPS dan Dinas Perindustrian Perdagangan (Disperindag) setempat, memastikan intervensi tepat sasaran. Dampaknya, survei awal menunjukkan peningkatan daya beli masyarakat hingga 30% di titik pasar murah, sambil menjaga kestabilan harga di pasar tradisional. Program serupa pada 2025 berhasil menekan inflasi Ramadan hanya 1,2% year-on-year, dan diharapkan tren positif berlanjut tahun ini. (aya.hel).


