Kabupaten Pasuruan, Bhirawa
Geliat libur Lebaran di kawasan kaldera Gunung Bromo mulai terasa. Meski kalender menunjukkan H+3 Idul Fitri, namun arus kendaraan yang membelah jalur penanjakan Tosari, Kabupaten Pasuruan, terpantau masih mengalir tenang.
Namun, dibalik suasana yang tampak landai tersebut, aparat gabungan sudah memasang kuda-kuda penuh di Pos Pengamanan (Pos Pam) Tosari.
Senin (23/3) pagi, udara dingin khas pegunungan tak menyurutkan semangat personel gabungan untuk menggelar apel kesiapsiagaan. Mereka sadar betul, Bromo adalah magnet utama wisata di Jawa Timur.
Sedikit saja lengah, kemacetan di jalur sempit nan menanjak itu bisa menjadi mimpi buruk bagi pelancong.
Kepala Pos Pam Tosari, IPTU Bambang Sugeng Hariyadi, memimpin langsung pengecekan personel. Sebanyak 7 anggota Polri, didukung 3 personel Koramil, 2 anggota Satpol PP serta tenaga medis, disiagakan 24 jam.
Mereka memantau setiap pergerakan jip wisata dan kendaraan pribadi yang mulai merayap naik.
“Hingga H+3, situasi Kamtibmas di wilayah hukum Tosari masih sangat kondusif. Arus lalu lintas juga masih lancar, belum ada penumpukan yang berarti,” tandas Bambang Sugeng Hariyadi.
Meski disebut masih landai, data di lapangan menunjukkan tren yang mulai menanjak.
Peningkatan volume kendaraan mulai terlihat sejak pintu masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Wisatawan domestik yang memanfaatkan sisa cuti bersama mulai memadati area view point.
Bambang menegaskan ketenangan itu justru menjadi waktu krusial bagi petugas untuk mematangkan skenario pelayanan.
“Anggota tidak boleh lengah. Kami memprediksi lonjakan arus wisata akan terjadi secara signifikan pada H+4 dan H+5 Lebaran (Selasa dan Rabu),” papar Bambang Sugeng Hariyadi.
Tentusaja, keberadaan tenaga kesehatan di Pos Pam menjadi krusial, mengingat medan menuju Bromo menuntut kondisi fisik yang prima, baik bagi pengemudi maupun kendaraan.
Petugas kesehatan disiagakan untuk memberikan pertolongan pertama jika ada wisatawan yang mengalami gangguan kesehatan akibat suhu ekstrem atau mabuk perjalanan.
Operasi Ketupat Semeru 2026 kali ini memang tidak hanya fokus pada kelancaran arus mudik, namun juga pengamanan destinasi vital.
“Prinsipnya, kami siap memberikan pengamanan dan pelayanan total. Masyarakat yang ingin menikmati keindahan Bromo silakan datang, tapi tetap patuhi rambu dan instruksi petugas di lapangan demi keselamatan bersama,” jelas Bambang Sugeng Hariyadi.
Kondisi yang belum terlalu sesak ini justru disyukuri oleh sejumlah wisatawan. Ardiansyah, wisatawan asal Surabaya yang datang memboyong keluarganya, mengaku sengaja memilih H+3 untuk menghindari lautan manusia yang biasanya memuncak di akhir pekan.
“Tahun lalu kejebak macet parah di jalur bawah. Sekarang mumpung masih agak longgar, jadi lebih nyaman bawa anak-anak. Petugas di pos tadi juga sangat membantu kasih info jalur mana yang lebih aman,” kata Ardiansyah.
Tak hanya pelancong lokal, pesona Bromo tetap menyihir turis mancanegara. Mark Verbruggen, seorang backpacker asal Belanda, mengaku terkesan dengan kesiapsiagaan petugas di tengah suasana libur hari raya.
“Saya kira bakal sangat sesak karena ini hari libur nasional. Tapi ternyata sangat terorganisir. Polisi di pos sangat ramah membantu arah jalan. Terasa sangat aman di sini,” kata Mark Verbruggen, di Tosari. [hil.hel]



