27 C
Sidoarjo
Tuesday, March 24, 2026
spot_img

Mendiskusikan Pernyataan Syiah Bukan Islam

Oleh:
Sihabuddin
Penulis adalah Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta.

Isu tentang syiah bukan hal yang baru di Indonesia, berbagai peristiwa yang melibatkan kaum syiah selalu menarik perhatian dan menjadi perbincangan di tengah-tengah masyarakat. Apalagi saat ini saat ini, dimana Iran yang mayoritas bermazhab Syiah berdiri sendiri melawan Israel dan Amerika Serikat di saat negara-negara Arab yang mayoritas Sunni tidak berkutik dan bahkan sudah beberapa yang membuka hubungan diplomatik dengan Israel yang awalnya dianggap musuh bersama oleh negara-negara Arab karena dianggap mencaplok wilayah Palestina yang dihuni oleh bangsa Arab. Menariknya perhatian terhadap kaum Syiah di Indonesia karena penganut Syiah sangat sedikit di Indonesia yang merupakan negara Islam mayoritas Sunni bermazhab Syafii. Jadi banyak orang yang tidak paham apa itu Syiah, bahkan banyak orang Indonesia yang tidak paham apa itu Sunni padahal praktik keagamaannya mencerminkan kaum Sunni bermazhab Syafii.

Sebenarnya Syiah masuk ke Indonesia sudah lama sekali dan keberadaannya eksis hingga saat ini dikutip dari nu.or.id Syiah masuk ke Indonesia dimulai sejak awal masuknya Islam di Nusantara, tepatnya di Aceh. Kesultanan Peurleak adalah kerajaan mazhab Syiah pada abad ke-8 M. Bahkan, Putri Sultan Peurleak terakhir di abad 13 dinikahkan dengan raja pertama Kerajaan Samudra Pasai. Dari sini, Syiah mulai berkembang ke seluruh Indonesia. Dikutip dari tempo.co data penelitian pemerintah menyatakan jumlah pengikut aliran Syiah di Indonesia berkisar 500 orang. Namun, menurut Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rakhmat, jumlah itu hanya perkiraan terendah. Adapun perkiraan tertinggi, 5 juta orang. Tapi, menurut Jalaluddin Rakhmat sendiri sekitar 2,5 juta jiwa.

Berita Terkait :  Pemkot Mojokerto Hentikan Sementara Operasional Toko Minuman Beralkohol Tak Berizin

Meskipun perkiraan tertinggi jumlahnya di Indonesia saat ini 5 juta jiwa namun itu sangatlah sedikit atau minoritas sangat kecil dibandingkan jumlah penganut Sunni di Indonesia yang jumlahnya ratusan juta. Hal inilah yang membuat sebagian besar masyarakat Indonesia tidak tahu tentang Syiah bahkan terasa asing dengan Syiah, ditambah lagi penganut Syiah menutupi keyakinannya salah satu tujuannya untuk menghindari konflik. Karena ketidaktahuan terkait Syiah sehingga orang-orang yang tidak suka keberadaan kaum Syiah di Indonesia mudah membuat narasi yang menjelekan kaum Syiah dengan propaganda terbesar “Syiah bukan Islam”.

Padahal Syiah sama seperti Sunni merupakan bagian dari Islam perbedaan utamanya antara Sunni dan Syiah ialah kepemimpinan setelah Nabi Muhammad wafat. Kaum Syiah meyakini setelah Nabi Muhammad SAW wafat kepemimpinan dipegang oleh Ali bin Abi Thalib dan keturunannya (Imam) yang ditunjuk oleh Nabi dan bersifat maksum (terjaga dari dosa). Sedangkan kaum Sunni percaya pemimpin (khalifah) dipilih melalui kesepakatan umat (musyawarah). Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali dianggap empat khalifah yang sah. Selain itu masih banyak perbedaan antara Sunni dan Syiah namun perbedaan tersebut bukan berarti Syiah yang minoritas dibandingkan Sunni bukan bagian dari Islam. Di waktu Nabi Muhammad masih hidup belum ada istilah Sunni dan Syiah.

Maka dari itu adanya pernyataan Syiah bukan Islam terutama di media sosial merupakan hal yang perlu dipertanyakan dasarnya apa? Dan siapa yang mengatakan? serta perlu dipikirkan ulang sebab tidak mudah mengkafirkan suatu golongan hanya karena ada perbedaan, di tambah lagi Syiah memiliki banyak sekte yang tentunya ada perbedaan antara sekte dengan sekte yang lain. Jika ada sekte kecil dalam Syiah yang ajarannya menyimpang bukan berarti semua Syiah menyimpang. Hal ini sama dengan kelompok yang menyimpang seperti ISIS dan menyatakan bagian dari Sunni bukan berarti semua Sunni menyimpang.

Berita Terkait :  DPD RI Pacu Ekonomi Nasional melalui Penguatan Ekonomi Kreatif Daerah

Di sini perlunya kekritisan dan tidak menerima begitu saja pernyataan “Syiah bukan Islam”. Apalagi ulama-ulama dunia menyatakan Syiah bagian dari Islam seperti yang disampaikan oleh Grand Syekh Al Azhar Prof. Dr. Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb yang mengatakan Sunni dan Syiah adalah saudara. Grand Syekh menilai bahwa tidak ada masalah prinsip yang menyebabkan kaum Syiah keluar dari Islam. Bahkan, banyak ajaran Syiah yang dekat dengan pemahaman Sunni. Perbedaan antara Sunni dan Syiah dalam pandangan Syekh Thayyeb hanya pada masalah imamiah. Selain itu, pernyataan Syiah adalah Islam disampaikan oleh Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj yang menyatakan Syiah masih bagian dari ajaran Islam, bagian dari Al Firaq Al Islamiyyah, dan NU tidak gampang memberikan stigma sesat pada aliran lain.

Saking santernya pernyataan Syiah bukan Islam di media sosial akhir-akhir ini sampai tokoh-tokoh agama seperti Ustadz Abdul Shomad memberikan pernyataan di akun instagramnya bahwasannya Syiah juga Islam, tidak ketinggalan Ustadz Adi Hidayat di salah satu video terbaru menyuarakan kekagumannya terhadap Ayatullah Ali Khamenei sebagai pemimpin yang berperan penting dalam menyatukan umat Islam & melawan propaganda yang memecah belah Sunni & Syi’ah. Selain kedua tokoh agama tersebut masih banyak tokoh agama lainnya yang menyatakan Syiah itu Islam.

Pernyataan “Syiah bukan Islam” juga tidak sesuai dengan hasil risalah Amman tahun 2005 yang digelar di Yordania yang mana sebanyak 200 cendekiawan Muslim dari puluhan negara merumus kan tiga poin utama risalah Amman. Indonesia direpresentasikan oleh dua organisasi besar, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) masing-masing diwakili oleh Prof Din Syamsuddin dan KH Hasyim Muzadi. Poin pertama mengakui delapan mazhab berikut: Sunni Hanafi, Sunni Maliki, Sunni Syafii, Sunni Hanbali, Syiah Ja’fariah, Syiah Zaydi, Zhahiri, dan Ibadi. Poin kedua menekankan, ikhtilaf ulama dalam persoalan mazhab berada pada tataran cabang, bukan mendasar (ushul). Karena itu, perbedaan hendaknya dipandang sebagai rahmat.

Berita Terkait :  Tekan Laju Inflasi, Disperindag Kabupaten Malang Gelar Pasar Murah

Dari penjelasan di atas bagi orang yang berpikir maka akan muncul pertanyaan jika Syiah bukan Islam tentu ulama-ulama Sunni yang telah dijelaskan di atas tidak akan menyatakan Syiah itu Islam. Jika memang Syiah bukan Islam tentu tidak ada Syiah sebagai salah satu sekte yang diakui dalam risalah Amman tersebut. Jika Syiah bukan Islam tentu negara muslim di dunia akan protes penggunaan nama “Republik Islam Iran” yang mana negara tersebut menyatakan Syiah sebagai mazhab resmi negara. Jika Syiah bukan Islam tentu negara-negara mayoritas Syiah seperti Iran, Azerbaijan, Bahrain dan Irak tidak akan dimasukan kelompok negara-negara Islam. Jika Syiah bukan Islam tentu tidak akan ada orang Syiah naik haji karena kedua tanah suci tersebut dilarang dimasuki non muslim. Jika ada yang mengatakan Al-Quran Syiah berbeda dengan Al-Quran pada umumnya tentu tidak akan ada orang Indonesia yang menjuarai MTQ di Iran, nyatanya banyak orang Indonesia juara MTQ di Iran.

————- *** ————–

Berita Terkait

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!