Teheran, Bhirawa
Rusia hingga Turki dilaporkan telah mengusahakan mediasi demi mengakhiri konflik antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel, tetapi Teheran masih belum siap terhadap gencatan senjata.
“Saat ini, komunikasi masih berlangsung dan upaya negosiasi telah ditempuh oleh sejumlah pihak internasional dan kawasan, khususnya Rusia dan Turki,” kata seorang sumber yang dekat dengan pemerintah Iran kepada RIA Novosti, Kamis.
“Iran pada dasarnya tidak menolak prinsip mediasi itu sendiri, tetapi pada saat ini, mereka tidak setuju akan adanya gencatan senjata,” ucap sumber itu.
Sebelumnya, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan bahwa Moskow siap membantu meredakan ketegangan di Timur Tengah, meskipun mengakui langkah tersebut memerlukan koordinasi dengan banyak pihak.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran, termasuk Teheran, sehingga menimbulkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Iran lantas melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel dan pangkalan militer AS di seantero Timur Tengah.
AS dan Israel awalnya mengeklaim serangan tersebut diperlukan untuk menangkal ancaman dari program nuklir Iran, tetapi kemudian jelas bahwa mereka sebenarnya menginginkan pergantian kekuasaan di Iran.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur pada hari pertama serangan AS-Israel. Iran kemudian menyatakan masa berkabung selama 40 hari.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengutuk serangan AS-Israel terhadap Iran tersebut. Mereka mendorong deeskalasi dan penghentian permusuhan secara serta-merta. [ant.kt]


