Banyuwangi, Bhirawa
Atraksi kesenian kolosal Kuntulan Ewon mewarnai peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang dihadiri oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti.
“Kuntulan merupakan salah satu kesenian khas Banyuwangi dengan musik hadrah yang melantunkan lagu-lagu Islami, sedangkan ewon adalah seribuan peserta dari pelajar SD, SMP dan SMA dalam atraksi seni kolosal tersebut, yang terbagi atas 560 penabuh hadrah dan 500 pelajar penari.
“Perayaan Hardiknas 2026 di Banyuwangi ini menjadi paling meriah di Indonesia, karena berhasil memadukan kearifan lokal dengan semangat kemajuan pendidikan,” kata Mendikdasmen Abdul Mu’ti setelah upacara Hardiknas 2026 dan menyaksikan seni kolosal Kuntulan Ewon di Taman Blambangan, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu.
Menteri Abdul Mu’ti mengapresiasi Pemkab Banyuwangi yang melibatkan pelajar untuk mengaktualisasikan potensi mereka, dan ini bisa memupuk kepercayaan diri dan rasa cinta tanah air dengan tetap berakar pada budaya lokal.
“Anak-anak kita boleh menjadi anak yang berwawasan global, dan itu harus, tapi mereka tidak boleh meninggalkan nilai dan budaya lokal yang luhur,” tutur Mendikdasmen.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan momentum Hardiknas tidak hanya menjadi refleksi kemajuan pendidikan, tetapi juga ajang untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah.
“Lewat Kuntulan Ewon, kami ingin menunjukkan bahwa pelajar Banyuwangi tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai budaya dan spiritual,” tuturnya.
Atraksi seni kolosal Kuntulan Ewon berlangsung semarak, lebih dari seribu pelajar mulai SD hingga SMA dari berbagai sekolah menampilkan dengan apik di hadapan Mendikdasmen Abdul Mu’ti.
Para pelajar ini berkolaborasi dengan seniman dan budayawan, menampilkan pertunjukan seni tradisi yang memadukan gerak, musik, dan nilai-nilai religius, menjadi sinergi antara dunia pendidikan dan pelestarian seni budaya lokal.
Kesenian kuntulan merupakan salah satu bentuk seni tradisi yang berkembang di Banyuwangi, dan seni kuntulan berakar dari kesenian hadrah, yang dibawa oleh para ulama sebagai media dakwah Islam.
Dalam perkembangannya, kesenian ini mengalami akulturasi dengan budaya lokal, sehingga melahirkan bentuk pertunjukan yang khas dengan perpaduan gerak tari, tabuhan alat musik rebana, serta bait-bait pujian Islami.
Para pelajar tampak tampil kompak dengan gerakan dinamis yang berpadu dengan tabuhan rebana dan lantunan shalawat, menciptakan suasana yang khidmat sekaligus membangkitkan semangat kebersamaan.
Seribuan pelajar tampil memenuhi lapangan Taman Blambangan dengan formasi rapi dan berlapis, para penabuh hadrah mengenakan busana khas adat Osing hitam udeng dipadu aksen merah putih membentuk garis panjang serempak. [ant.kt]


